Peristiwa di Bulan Syawal: Ibrahim Putra Nabi Muhammad SAW Meninggal
Selasa, 16 April 2024 - 08:52 WIB
loading...
Pada saat meninggalnya Ibrahim terjadi gerhana matahari. Ilustrasi: Ist
A
A
A
Rasulullah SAW berduka pada tanggal 29 Syawal 10 H, atau bertepatan dengan 27 Maret 632 M. Putra beliau dengan Sayyidah Mariyatul Qibthiyah yang bernama Ibrahim wafat. Air mata beliau deras membasahi dan hati beliau dirundung kesedihan yang teramat mendalam.
Para sahabat menyaksikan sendiri betapa Nabi merasa sangat kehilangan atas kepergian putra tercintanya itu. Dalam satu hadis dijelaskan,
Artinya, “Sungguh mata ini meneteskan air mata dan hati ini sedang dirundung duka. Namun, kami tidak mengatakan sesuatu yang tidak diridhai Rabb kami. Sungguh, kami bersedih atas kepergianmu, wahai Ibrahim.” (HR Bukhari )
Baca juga: 9 Peristiwa Bersejarah di Bulan Syawal yang Penting Diketahui Umat Islam
Maumud Basya dalam kitab "Natâijul Afhâm" menyebut hari duka itu 29 Syawal 10 H. Namun ada versi lain yang berpendapat dengan tanggal dan bulan yang berbeda, akan tetapi para sejarawan sepakat bahwa Ibrahim wafat pada tahun 10 H ketika usianya yang baru dua tahun.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" menggambarkan setelah istri tercinta Siti Khadijah wafat, Rasulullah SAW kehilangan putri-putrinya pula, satu demi satu, setelah mereka bersuami dan menjadi ibu. Kala itu, tak ada lagi yang masih hidup, selain Sayyidah Fathimah.
Putra-putra dan putri-putri itu, yang satu demi satu berguguran di tangannya dan dengan tangannya sendiri pula beliau menguburkan mereka ke dalam pusara, yang telah meninggalkan luka yang begitu pedih dalam hatinya. Pada saat Ibrahim lahir, hati beliau terasa terobati.
Tetapi harapan ini tidak berlangsung lama; hanya selama beberapa bulan saja. Sesudah itu Ibrahim jatuh sakit, sakit yang sangat mengkhawatirkan. Ia dipindahkan ke sebuah tempat dengan kebun kurma di samping Masyraba Umm Ibrahim.
Haekal menuturkan Maria (Sayyidah Mariyatul Qibthiyah) dan Sirin adiknya selalu menjaga dan merawatnya. Bayi ini tidak lama sakitnya. Tatkala ajal sudah dekat dan Nabi diberi tahu, karena rasa sedih yang sangat mendalam, beliau berjalan dengan memegang tangan Abdur-Rahman bin 'Auf sambil bertumpu kepadanya.
Baca juga: Puasa Syawal, Adat Tarim dan Indonesia
Bila beliau sudah sampai ke tempat itu di samping 'Alia - tempat Masyraba yang sekarang - dijumpainya Ibrahim dalam pangkuan ibunya, sedang menarik napas terakhir.
Diambilnya anak itu, lalu diletakkannya di pangkuannya dengan hati yang remuk-redam rasanya. Tangannya menggigil. Kalbu yang duka dan pilu rasa mencekam seluruh sanubari.
Lukisan hati yang sedih mulai membayang dalam raut wajahnya. Sambil meletakkan anak itu di pangkuan ia berkata: "Ibrahim, kami tak dapat menolongmu dari kehendak Allah SWT."
Para sahabat menyaksikan sendiri betapa Nabi merasa sangat kehilangan atas kepergian putra tercintanya itu. Dalam satu hadis dijelaskan,
إنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، والقَلْبَ يَحْزَنُ، ولَا نَقُولُ إلَّا ما يَرْضَى رَبُّنَا، وإنَّا بفِرَاقِكَ يا إبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ.
Artinya, “Sungguh mata ini meneteskan air mata dan hati ini sedang dirundung duka. Namun, kami tidak mengatakan sesuatu yang tidak diridhai Rabb kami. Sungguh, kami bersedih atas kepergianmu, wahai Ibrahim.” (HR Bukhari )
Baca juga: 9 Peristiwa Bersejarah di Bulan Syawal yang Penting Diketahui Umat Islam
Maumud Basya dalam kitab "Natâijul Afhâm" menyebut hari duka itu 29 Syawal 10 H. Namun ada versi lain yang berpendapat dengan tanggal dan bulan yang berbeda, akan tetapi para sejarawan sepakat bahwa Ibrahim wafat pada tahun 10 H ketika usianya yang baru dua tahun.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" menggambarkan setelah istri tercinta Siti Khadijah wafat, Rasulullah SAW kehilangan putri-putrinya pula, satu demi satu, setelah mereka bersuami dan menjadi ibu. Kala itu, tak ada lagi yang masih hidup, selain Sayyidah Fathimah.
Putra-putra dan putri-putri itu, yang satu demi satu berguguran di tangannya dan dengan tangannya sendiri pula beliau menguburkan mereka ke dalam pusara, yang telah meninggalkan luka yang begitu pedih dalam hatinya. Pada saat Ibrahim lahir, hati beliau terasa terobati.
Tetapi harapan ini tidak berlangsung lama; hanya selama beberapa bulan saja. Sesudah itu Ibrahim jatuh sakit, sakit yang sangat mengkhawatirkan. Ia dipindahkan ke sebuah tempat dengan kebun kurma di samping Masyraba Umm Ibrahim.
Haekal menuturkan Maria (Sayyidah Mariyatul Qibthiyah) dan Sirin adiknya selalu menjaga dan merawatnya. Bayi ini tidak lama sakitnya. Tatkala ajal sudah dekat dan Nabi diberi tahu, karena rasa sedih yang sangat mendalam, beliau berjalan dengan memegang tangan Abdur-Rahman bin 'Auf sambil bertumpu kepadanya.
Baca juga: Puasa Syawal, Adat Tarim dan Indonesia
Bila beliau sudah sampai ke tempat itu di samping 'Alia - tempat Masyraba yang sekarang - dijumpainya Ibrahim dalam pangkuan ibunya, sedang menarik napas terakhir.
Diambilnya anak itu, lalu diletakkannya di pangkuannya dengan hati yang remuk-redam rasanya. Tangannya menggigil. Kalbu yang duka dan pilu rasa mencekam seluruh sanubari.
Lukisan hati yang sedih mulai membayang dalam raut wajahnya. Sambil meletakkan anak itu di pangkuan ia berkata: "Ibrahim, kami tak dapat menolongmu dari kehendak Allah SWT."
Lihat Juga :