Menanamkan dan Membangun Sikap Optimisme pada Anak Menurut Islam
Senin, 29 April 2024 - 08:48 WIB
loading...
A
A
A
Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah dalam Madarij as-Salikîn menjelaskan: Mencari jalan (wasîlah) menuju Allah artinya mencari kedekatan diri kepada Allah dengan melakukan peribadatan kepada-Nya dan memberikan kecintaan kepada-Nya.
Pada ayat ini Allah menyebutkan tiga pilar keimanan penting yang menjadi tumpuan, yaitu : cinta, takut dan harapan (rajaˈ)
Demikian pula raghbah, ia juga merupakan ibadah yang penting.
Allah Subhanahu wa Ta’ala antara lain berfirman :
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan (semangat) berharap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. (QS Al-Anbiya : 90)
Apalagi tawakal. Jelas bahwa tawakal merupakan ibadah yang teramat penting, karena tawakkal merupakan tolok ukur keimanan seseorang. Allah Subhanahu wa Ta’ala antara lain berfirman :
“Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya engkau bertawakkal, apabila kamu benar-benar beriman.” (QS Al-Maˈidah : 23)
Pembinaan bagi tumbuhnya sikap rajaˈ, raghbah dan tawakkal, amat sangat penting ditanamkan pada diri anak-anak semenjak dini. Hal ini supaya semangat dan optimisme mereka kelak terbentuk secara utuh dalam rangka meraih cita-cita masa depan terbaik, yaitu cita-cita ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kebahagiaan hidup di akhirat.
Anak-anak yang diharapkan menjadi generasi pantang putus asa. Generasi yang tangguh, karena sandaran mereka hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Rajaˈ, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan harapan, hakikatnya adalah sesuatu yang mendorong dan memotivasi hati menuju hal yang disukainya, yaitu mendapat ridha Allah dan kebahagiaan di negeri akhirat. Atau pengertian-pengertian yang senada. Intinya rajaˈ adalah sikap berharap yang mendorong hati untuk bersemangat dalam meraih cita-cita. Dan rajaˈ ini, asasnya adalah husnudzan (berbaik sangka) terhadap Allah dan terhadap kasih sayang-Nya, sehingga memangkas habis rasa putus asa.
Pada ayat ini Allah menyebutkan tiga pilar keimanan penting yang menjadi tumpuan, yaitu : cinta, takut dan harapan (rajaˈ)
Demikian pula raghbah, ia juga merupakan ibadah yang penting.
Allah Subhanahu wa Ta’ala antara lain berfirman :
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan (semangat) berharap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. (QS Al-Anbiya : 90)
Apalagi tawakal. Jelas bahwa tawakal merupakan ibadah yang teramat penting, karena tawakkal merupakan tolok ukur keimanan seseorang. Allah Subhanahu wa Ta’ala antara lain berfirman :
وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya engkau bertawakkal, apabila kamu benar-benar beriman.” (QS Al-Maˈidah : 23)
Pembinaan bagi tumbuhnya sikap rajaˈ, raghbah dan tawakkal, amat sangat penting ditanamkan pada diri anak-anak semenjak dini. Hal ini supaya semangat dan optimisme mereka kelak terbentuk secara utuh dalam rangka meraih cita-cita masa depan terbaik, yaitu cita-cita ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kebahagiaan hidup di akhirat.
Anak-anak yang diharapkan menjadi generasi pantang putus asa. Generasi yang tangguh, karena sandaran mereka hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Rajaˈ, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan harapan, hakikatnya adalah sesuatu yang mendorong dan memotivasi hati menuju hal yang disukainya, yaitu mendapat ridha Allah dan kebahagiaan di negeri akhirat. Atau pengertian-pengertian yang senada. Intinya rajaˈ adalah sikap berharap yang mendorong hati untuk bersemangat dalam meraih cita-cita. Dan rajaˈ ini, asasnya adalah husnudzan (berbaik sangka) terhadap Allah dan terhadap kasih sayang-Nya, sehingga memangkas habis rasa putus asa.
Lihat Juga :