Kisah Penaklukan Azerbaijan di Era Khalifah Umar bin Khattab
Senin, 29 April 2024 - 10:57 WIB
loading...
Saya berhadapan dengan musuh yang keras dan terdiri dari berbagai suku bangsa, dan saya samasekali bukan orang Qabaj dan bukan orang Armenia. Ilustrasi: Ist
A
A
A
Azerbaijan adalah negara sekuler dan telah menjadi anggota dari Dewan Eropa sejak 2001. Mayoritas populasi adalah Syiah dan turunan Turki barat, dikenal sebagai Azerbaijani, atau singkatnya Azeri. Negara ini resminya demokrasi, tetapi dengan peraturan otoritas kuat. Azerbaijan juga merupakan negara anggota OKI.
Kerajaan pertama yang muncul di Republik Azerbaijan masa kini ialah Mannae pada abad ke-9 SM, berlangsung hingga 616 SM saat menjadi bagian Kekaisaran Media, yang kemudian menjadi bagian Kekaisaran Persia pada 549 M. Satrapi Atropatene dan Albania Kaukasia didirikan pada abad ke-4 SM dan termasuk kurang lebih wilayah negara kebangsaan Azerbaijan dan bagian selatan Dagestan masa kini.
Islam tersebar cepat di Azerbaijan menyusul futuhat pada abad ke-7–8.
Baca juga: Pertempuran Nahawand Iran: Kisah Matinya Panglima Perang Persia Firozan
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan oleh Ali Audah menjadi " Umar bin Khattab " (PT Pustaka Litera AntarNusa, 2000) mengisahkan sementara komandan pasukan muslim, Suwaid bin Muqarrin, pergi ke Jurjan dan Tabaristan membuat persetujuan dengan mereka, Nu'aim saudaranya, sedang mengatur urusan kota dengan dibantu oleh Zainabi yang diangkat sebagai wakil di Kota Ray.
Setelah keadaan kota tenteram, Utbah bin Farqad dan Bakir bin Abdullah yang berangkat atas perintah Khalifah Umar bin Khattab untuk menundukkan Azerbaijan, diperkuat pula dengan Simak bin Kharasyah al-Ansari dengan kekuatan pasukan yang telah menyerbu Ray.
Sementara Bakir maju dengan kekuatan pasukannya itu tiba-tiba ia dihadapkan kepada Isfandiar Farrukhzad yang kembali membawa pasukannya setelah mengalami kekalahan di Waj Ruz.
Keduanya terlibat dalam bentrok senjata yang seru, dan berakhir dengan kekalahan dan ditawannya Isfandiar. Bakir tidak membunuhnya tetapi ia ditahan di tempatnya.
Ketika itu Isfandiar berkata kepadanya: "Mana yang lebih Anda sukai, perang atau damai?"
Bakir menjawab: "Sudah tentu damai."
Baca juga: Pertempuran Nahawand Iran: Cerita tentang 2 Peti Permata Berlian
Jenderal Persia itu berkata lagi: "Kalau begitu tahanlah saya di tempat Anda. Pihak Azerbaijan itu kalau tidak saya ajak mereka berunding atau saya mendatangi mereka, mereka tidak akan tunduk kepada Anda. Malah mereka menyingkir ke gunung-gunung dan akan bertahan di sana sampai pada waktu tertentu."
Ternyata pertahanan Azerbaijan hancur berantakan ketika Utbah bin Farqad bergerak maju ke markas tempat Bahram saudara Isfandiar, dan dia juga dihancurkan dan terpaksa ia lari.
Kerajaan pertama yang muncul di Republik Azerbaijan masa kini ialah Mannae pada abad ke-9 SM, berlangsung hingga 616 SM saat menjadi bagian Kekaisaran Media, yang kemudian menjadi bagian Kekaisaran Persia pada 549 M. Satrapi Atropatene dan Albania Kaukasia didirikan pada abad ke-4 SM dan termasuk kurang lebih wilayah negara kebangsaan Azerbaijan dan bagian selatan Dagestan masa kini.
Islam tersebar cepat di Azerbaijan menyusul futuhat pada abad ke-7–8.
Baca juga: Pertempuran Nahawand Iran: Kisah Matinya Panglima Perang Persia Firozan
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan oleh Ali Audah menjadi " Umar bin Khattab " (PT Pustaka Litera AntarNusa, 2000) mengisahkan sementara komandan pasukan muslim, Suwaid bin Muqarrin, pergi ke Jurjan dan Tabaristan membuat persetujuan dengan mereka, Nu'aim saudaranya, sedang mengatur urusan kota dengan dibantu oleh Zainabi yang diangkat sebagai wakil di Kota Ray.
Setelah keadaan kota tenteram, Utbah bin Farqad dan Bakir bin Abdullah yang berangkat atas perintah Khalifah Umar bin Khattab untuk menundukkan Azerbaijan, diperkuat pula dengan Simak bin Kharasyah al-Ansari dengan kekuatan pasukan yang telah menyerbu Ray.
Sementara Bakir maju dengan kekuatan pasukannya itu tiba-tiba ia dihadapkan kepada Isfandiar Farrukhzad yang kembali membawa pasukannya setelah mengalami kekalahan di Waj Ruz.
Keduanya terlibat dalam bentrok senjata yang seru, dan berakhir dengan kekalahan dan ditawannya Isfandiar. Bakir tidak membunuhnya tetapi ia ditahan di tempatnya.
Ketika itu Isfandiar berkata kepadanya: "Mana yang lebih Anda sukai, perang atau damai?"
Bakir menjawab: "Sudah tentu damai."
Baca juga: Pertempuran Nahawand Iran: Cerita tentang 2 Peti Permata Berlian
Jenderal Persia itu berkata lagi: "Kalau begitu tahanlah saya di tempat Anda. Pihak Azerbaijan itu kalau tidak saya ajak mereka berunding atau saya mendatangi mereka, mereka tidak akan tunduk kepada Anda. Malah mereka menyingkir ke gunung-gunung dan akan bertahan di sana sampai pada waktu tertentu."
Ternyata pertahanan Azerbaijan hancur berantakan ketika Utbah bin Farqad bergerak maju ke markas tempat Bahram saudara Isfandiar, dan dia juga dihancurkan dan terpaksa ia lari.
Lihat Juga :