Pertempuran Nahawand Iran: Kisah Matinya Panglima Perang Persia Firozan
Selasa, 23 April 2024 - 05:15 WIB
loading...
Firozan sendiri termasuk yang lari mencari selamat. Ia tinggal seorang diri sebagai pelarian, memacu kudanya ke arah Hamazan.Ilustrasi: Ist
A
A
A
Pertempuran Nahawand terjadi pada tahun 642 antara pasukan Arab Muslim melawan pasukan Kekaisaran Sasania. Pertempuran berakhir dengan kemenangan mutlak bagi pihak Muslim, dan akibatnya pihak Persia kehilangan kota-kota di sekitar wilayah tersebut, termasuk kota penting Sephahan, yang kini bernama Isfahan di Iran .
Kala itu, Pasukan Sassania berjumlah 150.000 orang di bawah pimpinan Peroz Khosrau yang diangkat Yazdigird III menjadi pemimpin tertinggi. Mereka berasal dari wilayah-wilayah Media, Azerbaijan, Khurasan, Gurgan, Tabaristan, Merw, Baktria, Sistan, Kerman, dan Farsistan, yang mengambil posisi bertahan di luar kota Nahawand.
Sedangkan di pihak Arab, Nu'man bin Muqarrin memimpin 30.000 orang pasukan, yang berasal pangkalan Arab Muslim dari Irak, Khuzistan, dan Sawad.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan Ali Audah menjadi "Umar bin Khattab" (PT Pustaka Litera AntarNusa, April 2000) mengisahkan pada malam yang gelap pasukan Persia terpukul mundur. Pasukan muslim terus mendesak. Mereka pun berlarian.
Baca juga: Pertempuran Nahawand Iran: Kisah Nu'man Syahid tapi Pasukan Muslim Menang
Firozan sendiri termasuk yang lari mencari selamat. Ia tinggal seorang diri sebagai pelarian, memacu kudanya ke arah Hamazan dengan harapan akan dapat berlindung.
Waktu itu ia terlihat oleh Nu'aim bin Muqarrin. Ia dikejar oleh Qa'qa' bin Amr dari belakang hingga berhasil menyusulnya ketika sampai di jalan pegunungan ke Hamazan. Karena ada keledai-keledai dan bagal-bagal yang membawa madu lalu di jalan itu, panglima pelarian itu terhalang jalannya.
Ia turun dengan berjalan kaki ingin menyelamatkan diri di gunung itu. Qa'qa' membuntutinya terus sampai berhasil ia membunuhnya. Setelah mengetahui peristiwa itu pasukan Muslimin berkata: "Allah mempunyai pasukan madu," yang kemudian menjadi peribahasa, dan jalan pegunungan itu pun diberi nama "Jalan Madu."
Sisa-sisa pasukan Persia yang melarikan diri itu sampai di Hamazan. Tetapi pasukan Muslimin tidak membiarkan mereka memasuki kota dalam keadaan selamat. Mereka terus dikejar dan dikepung di kota itu.
Mereka bersumpah tidak akan meninggalkan tempat itu sebelum pintu-pintu kota dibuka. Penguasa kota itu tahu apa yang telah menimpa Firozan dan pasukannya. Ia mengirim delegasi kepada Muslimin meminta perlindungan dan mengadakan perundingan.
Kala itu, Pasukan Sassania berjumlah 150.000 orang di bawah pimpinan Peroz Khosrau yang diangkat Yazdigird III menjadi pemimpin tertinggi. Mereka berasal dari wilayah-wilayah Media, Azerbaijan, Khurasan, Gurgan, Tabaristan, Merw, Baktria, Sistan, Kerman, dan Farsistan, yang mengambil posisi bertahan di luar kota Nahawand.
Sedangkan di pihak Arab, Nu'man bin Muqarrin memimpin 30.000 orang pasukan, yang berasal pangkalan Arab Muslim dari Irak, Khuzistan, dan Sawad.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan Ali Audah menjadi "Umar bin Khattab" (PT Pustaka Litera AntarNusa, April 2000) mengisahkan pada malam yang gelap pasukan Persia terpukul mundur. Pasukan muslim terus mendesak. Mereka pun berlarian.
Baca juga: Pertempuran Nahawand Iran: Kisah Nu'man Syahid tapi Pasukan Muslim Menang
Firozan sendiri termasuk yang lari mencari selamat. Ia tinggal seorang diri sebagai pelarian, memacu kudanya ke arah Hamazan dengan harapan akan dapat berlindung.
Waktu itu ia terlihat oleh Nu'aim bin Muqarrin. Ia dikejar oleh Qa'qa' bin Amr dari belakang hingga berhasil menyusulnya ketika sampai di jalan pegunungan ke Hamazan. Karena ada keledai-keledai dan bagal-bagal yang membawa madu lalu di jalan itu, panglima pelarian itu terhalang jalannya.
Ia turun dengan berjalan kaki ingin menyelamatkan diri di gunung itu. Qa'qa' membuntutinya terus sampai berhasil ia membunuhnya. Setelah mengetahui peristiwa itu pasukan Muslimin berkata: "Allah mempunyai pasukan madu," yang kemudian menjadi peribahasa, dan jalan pegunungan itu pun diberi nama "Jalan Madu."
Sisa-sisa pasukan Persia yang melarikan diri itu sampai di Hamazan. Tetapi pasukan Muslimin tidak membiarkan mereka memasuki kota dalam keadaan selamat. Mereka terus dikejar dan dikepung di kota itu.
Mereka bersumpah tidak akan meninggalkan tempat itu sebelum pintu-pintu kota dibuka. Penguasa kota itu tahu apa yang telah menimpa Firozan dan pasukannya. Ia mengirim delegasi kepada Muslimin meminta perlindungan dan mengadakan perundingan.
Lihat Juga :