135.330 Jemaah Haji Indonesia Nafar Awal, 82.788 Nafar Tsani
Jum'at, 21 Juni 2024 - 20:23 WIB
loading...
A
A
A
Meskipun demikian, ia melihat kesulitan yang dialami lansia ketika harus tidur di kasur yang terbatas. Selain itu, Indah juga melihat problem kesehatan lingkungan, baik banyak sampah, maupun WC yang kotor karena kurang bisa menjaga kebersihan ditambah lagi minimnya petugas maktab yang membersihkan.
Berbeda dengan pengalaman Ridwan yang memilih nafar awal, Indah yang berhaji bersama suaminya ini menyampaikan bahwa jemaahnya Kloter 86 mengikuti nafar awal hingga 12 Dzulhijjah saja.
"Kami memilih nafar awal karena sudah berangkat sejak 7 Dzulhijjah malam ke Mina untuk melakukan tarwiyah kemudian wukuf, mabit di Muzdalifah, dan mabit di Mina serta lempar jumrah."
Indah juga menceritakan pengalaman melempar jumrah di jamarat. Setelah sampai di Mina malam hari, rombongannya memilih istirahat terlebih dahulu baru kemudian melempar jumrah aqabah pada pukul 10.00 pagi.
Meskipun demikian, menurut Indah, perjalanan saat itu terasa melelahkan karena mereka masih kecapaian usai wukuf dan mabit di Muzdalifah ditambah cuaca sangat panas. Indah dan rombongannya pun baru sampai kembali di tenda pukul 14.00.
Baca juga: Amalan-amalan Sunnah untuk Jemaah Haji saat Pulang ke Tanah Air
Di hari terakhir lempar jumrah, mereka memilih berangkat jam 3 agar bisa salat subuh dan melempar jumrah setelahnya meskipun suasana ramai. Perjalanan yang dilewati dari tenda hingga jamarat, membuat suaminya berkomentar, "Kita ini ibadah sekaligus mbolang (berpetualang)."
Berbeda dengan pengalaman Ridwan yang memilih nafar awal, Indah yang berhaji bersama suaminya ini menyampaikan bahwa jemaahnya Kloter 86 mengikuti nafar awal hingga 12 Dzulhijjah saja.
"Kami memilih nafar awal karena sudah berangkat sejak 7 Dzulhijjah malam ke Mina untuk melakukan tarwiyah kemudian wukuf, mabit di Muzdalifah, dan mabit di Mina serta lempar jumrah."
Indah juga menceritakan pengalaman melempar jumrah di jamarat. Setelah sampai di Mina malam hari, rombongannya memilih istirahat terlebih dahulu baru kemudian melempar jumrah aqabah pada pukul 10.00 pagi.
Meskipun demikian, menurut Indah, perjalanan saat itu terasa melelahkan karena mereka masih kecapaian usai wukuf dan mabit di Muzdalifah ditambah cuaca sangat panas. Indah dan rombongannya pun baru sampai kembali di tenda pukul 14.00.
Baca juga: Amalan-amalan Sunnah untuk Jemaah Haji saat Pulang ke Tanah Air
Di hari terakhir lempar jumrah, mereka memilih berangkat jam 3 agar bisa salat subuh dan melempar jumrah setelahnya meskipun suasana ramai. Perjalanan yang dilewati dari tenda hingga jamarat, membuat suaminya berkomentar, "Kita ini ibadah sekaligus mbolang (berpetualang)."
(kri)
Lihat Juga :