135.330 Jemaah Haji Indonesia Nafar Awal, 82.788 Nafar Tsani
Jum'at, 21 Juni 2024 - 20:23 WIB
loading...
Puncak haji berakhir yang ditandai selesainya prosesi ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, Mina, dilanjutkan tawaf ifadhah dan sai. Foto/Andryanto Wisnuwidodo/SINDOnews
A
A
A
MAKKAH - Puncak haji berakhir yang ditandai selesainya prosesi ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, Mina, dilanjutkan tawaf ifadhah dan sai. Sabtu (22/6/2024) dini hari waktu Arab Saudi nanti, jemaah haji Indonesia reguler akan kembali ke Indonesia.
Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kemenag RI, Hilman Latief mengungkapkan sebanyak 135.330 jemaah atau 62% jemaah melakukan nafar awal atau melempar jumrah hingga 12 Dzulhijjah. Sedangkan jemaah yang mengambil nafar tsani sebanyak 82.788 jemaah atau 38%.
Baca juga: Jemaah Haji Gelombang II Singgah 8-9 Hari di Madinah sebelum Pulang ke Indonesia
Hilman menyampaikan hal tersebut saat memberikan sambutan pada malam penghargaan petugas haji di Hotel 602 Makkah, Rabu (19/6/2024). Jemaah dari KBIH 'Aisyiyah banyak yang memilih nafar tsani. Ridwan, jemaah haji dari KBIHU Arafah Muhammadiyah Klaten menyampaikan, "Jika memungkinkan lebih baik nafar tsani sesuai yang dilakukan Rasulullah."
Ada lebih dari 800 jemaah haji dari KBIHU Arafah Klaten. Ridwan mengungkapkan, dari seluruh jemaah haji dari Klaten yang berjumlah lebih dari 1.100 orang, 80 persennya mengikuti KBIHU Arafah Muhammadiyah. Hal tersebut menunjukkan besarnya kepercayaan masyarakat pada KBIHU yang dikelola persyarikatan.
Saat di Mina, mereka tinggal di Maktab 100. Menanggapi kondisi tenda di Mina, Ridwan mengungkapkan memang ruang yang tersedia bagi jemaah sangat terbatas. Meski demikian, mereka tetap bertahan dengan cara menggunakan dua kasur bagi tiga orang jemaah, tidur dengan cara miring, atau tidur bergantian.
"Alhamdulillahnya, kami bisa sabar menerima, kata ketuanya, begini keadaannya, jangan berharap enak terus, inilah ujiannya, kita harus sabar," ujar Ridwan menirukan apa yang disampaikan ketua rombongan mereka.
Suhartini, jemaah Kloter 95 yang juga tergabung dalam KBIHU Arafah Muhammadiyah Klaten mengungkapkan pengalaman ikut murur (melintas). Suhartini bersyukur masih kuat sehingga ia bisa melontar jumrah sendiri. "Saya ikut murur, enak, alhamdulillah bisa ikut nafar tsani sampai akhir," ucapnya.
Perihal tinggal di tenda selama mabit di Mina, Indah dari KBIHU Muhammadiyah-Aisyiyah ini juga melakukan hal yang sama agar bisa bertahan. Satu kasur, terang Indah, digunakan untuk dua orang atau dua kasur digunakan tiga orang, maupun tidur dengan cara miring.
"Kami memahami karena sudah disampaikan dari awal kondisinya seperti itu. Untungnya kami tidak bawa koper tapi tas-tas kecil jadi tidak memenuhi tenda," terangnya.
Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kemenag RI, Hilman Latief mengungkapkan sebanyak 135.330 jemaah atau 62% jemaah melakukan nafar awal atau melempar jumrah hingga 12 Dzulhijjah. Sedangkan jemaah yang mengambil nafar tsani sebanyak 82.788 jemaah atau 38%.
Baca juga: Jemaah Haji Gelombang II Singgah 8-9 Hari di Madinah sebelum Pulang ke Indonesia
Hilman menyampaikan hal tersebut saat memberikan sambutan pada malam penghargaan petugas haji di Hotel 602 Makkah, Rabu (19/6/2024). Jemaah dari KBIH 'Aisyiyah banyak yang memilih nafar tsani. Ridwan, jemaah haji dari KBIHU Arafah Muhammadiyah Klaten menyampaikan, "Jika memungkinkan lebih baik nafar tsani sesuai yang dilakukan Rasulullah."
Ada lebih dari 800 jemaah haji dari KBIHU Arafah Klaten. Ridwan mengungkapkan, dari seluruh jemaah haji dari Klaten yang berjumlah lebih dari 1.100 orang, 80 persennya mengikuti KBIHU Arafah Muhammadiyah. Hal tersebut menunjukkan besarnya kepercayaan masyarakat pada KBIHU yang dikelola persyarikatan.
Saat di Mina, mereka tinggal di Maktab 100. Menanggapi kondisi tenda di Mina, Ridwan mengungkapkan memang ruang yang tersedia bagi jemaah sangat terbatas. Meski demikian, mereka tetap bertahan dengan cara menggunakan dua kasur bagi tiga orang jemaah, tidur dengan cara miring, atau tidur bergantian.
"Alhamdulillahnya, kami bisa sabar menerima, kata ketuanya, begini keadaannya, jangan berharap enak terus, inilah ujiannya, kita harus sabar," ujar Ridwan menirukan apa yang disampaikan ketua rombongan mereka.
Suhartini, jemaah Kloter 95 yang juga tergabung dalam KBIHU Arafah Muhammadiyah Klaten mengungkapkan pengalaman ikut murur (melintas). Suhartini bersyukur masih kuat sehingga ia bisa melontar jumrah sendiri. "Saya ikut murur, enak, alhamdulillah bisa ikut nafar tsani sampai akhir," ucapnya.
Perihal tinggal di tenda selama mabit di Mina, Indah dari KBIHU Muhammadiyah-Aisyiyah ini juga melakukan hal yang sama agar bisa bertahan. Satu kasur, terang Indah, digunakan untuk dua orang atau dua kasur digunakan tiga orang, maupun tidur dengan cara miring.
"Kami memahami karena sudah disampaikan dari awal kondisinya seperti itu. Untungnya kami tidak bawa koper tapi tas-tas kecil jadi tidak memenuhi tenda," terangnya.
Lihat Juga :