Kisah Ternodanya Perjanjian Umar bin Khattab: 372 tahun Yerusalem Damai di Bawah Islam
Selasa, 23 Juli 2024 - 13:02 WIB
loading...
A
A
A
Kemenangan di Yarmuk membuat Sophronius, pemimpin agama Kristen di Yerusalem, menyusun strategi bertahan. Komandan perang pada saat itu adalah Abu Ubaidah, yang mengedepankan perdamaian. Strategi dalam menaklukkan Yerusalem adalah pengepungan kota.
Pengepungan tersebut akhirnya mendesak Sophronius untuk menyerahkan Yerusalem pada pasukan Islam. Empat bulan setelah pengepungan, Sophronius menyerahkan Yerusalem dan bersedia membayar jizyah.
Penyerahan Yerusalem sangat penting bagi Islam karena berkaitan dengan peristiwa Isra Mikraj Rasulullah di Yerusalem, tepatnya di area Masjid al-Aqsa .
Abu Ubaidah menulis surat kepada Khalifah Umar yang tujuannya adalah penyerahan Yerusalem harus diterima langsung oleh khalifah sebagai pemimpin tertinggi Islam.
Adnan Khan dalam "100 Years of the Middle East" menyebut Khalifah Umar akhirnya sampai di Yerusalem pada bulan April 637. Sebelum menyerahkan Yerusalem, Sophronius meminta kepada Khalifah Umar agar umat Kristen dilindungi dalam beribadah dan dijamin hak-haknya sebagai manusia. Khalifah Umar menyanggupi dan membuat perjanjian damai yang terkenal dengan al-Uhdah al-Umariah atau Perjanjian Umar.
Inti dari perjanjian tersebut adalah Yerusalem merupakan kota yang damai dan setiap orang bebas meyakini dan melaksanakan ritual keagamaannya masing-masing, baik Islam, Kristen, maupun Yahudi.
Baca juga: Kisah Penaklukan Baitul Maqdis, Haekal: Bukan Dilakukan Abu Ubaidah
Perjanjian Umar tetap terjaga hingga Yerusalem dikuasai oleh Kekhalifahan Fatimiyah pada masa Khalifah Abu Manshur al-Aziz Billah.
Selama 372 tahun, Yerusalem tetap menjunjung tinggi Perjanjian Umar. Umat Islam, Kristen, dan Yahudi hidup berdampingan dengan damai di bawah pemerintahan Islam.
Pemerintahan Kekhalifahan Rasyidin berakhir pada tahun 661 dan digantikan Kekhalifahan Umayah yang berpusat di Damaskus. Pemerintahan baru Islam di Damaskus dipimpin oleh Muawiyah bin Abu Sufyan.
Dekatnya jarak Yerusalem dengan Damaskus membuat pengawasan Islam di Yerusalem lebih optimal. Praktis selama pemerintahan Kekhalifahan Umayah hingga tahun 750, Yerusalem tetap di bawah kontrol Islam. Tidak ada usaha Byzantium untuk berusaha kembali lagi merebut Yerusalem karena kehidupan beragama berjalan dengan baik dan damai.
Pengepungan tersebut akhirnya mendesak Sophronius untuk menyerahkan Yerusalem pada pasukan Islam. Empat bulan setelah pengepungan, Sophronius menyerahkan Yerusalem dan bersedia membayar jizyah.
Penyerahan Yerusalem sangat penting bagi Islam karena berkaitan dengan peristiwa Isra Mikraj Rasulullah di Yerusalem, tepatnya di area Masjid al-Aqsa .
Abu Ubaidah menulis surat kepada Khalifah Umar yang tujuannya adalah penyerahan Yerusalem harus diterima langsung oleh khalifah sebagai pemimpin tertinggi Islam.
Adnan Khan dalam "100 Years of the Middle East" menyebut Khalifah Umar akhirnya sampai di Yerusalem pada bulan April 637. Sebelum menyerahkan Yerusalem, Sophronius meminta kepada Khalifah Umar agar umat Kristen dilindungi dalam beribadah dan dijamin hak-haknya sebagai manusia. Khalifah Umar menyanggupi dan membuat perjanjian damai yang terkenal dengan al-Uhdah al-Umariah atau Perjanjian Umar.
Inti dari perjanjian tersebut adalah Yerusalem merupakan kota yang damai dan setiap orang bebas meyakini dan melaksanakan ritual keagamaannya masing-masing, baik Islam, Kristen, maupun Yahudi.
Baca juga: Kisah Penaklukan Baitul Maqdis, Haekal: Bukan Dilakukan Abu Ubaidah
Perjanjian Umar tetap terjaga hingga Yerusalem dikuasai oleh Kekhalifahan Fatimiyah pada masa Khalifah Abu Manshur al-Aziz Billah.
Selama 372 tahun, Yerusalem tetap menjunjung tinggi Perjanjian Umar. Umat Islam, Kristen, dan Yahudi hidup berdampingan dengan damai di bawah pemerintahan Islam.
Pemerintahan Kekhalifahan Rasyidin berakhir pada tahun 661 dan digantikan Kekhalifahan Umayah yang berpusat di Damaskus. Pemerintahan baru Islam di Damaskus dipimpin oleh Muawiyah bin Abu Sufyan.
Dekatnya jarak Yerusalem dengan Damaskus membuat pengawasan Islam di Yerusalem lebih optimal. Praktis selama pemerintahan Kekhalifahan Umayah hingga tahun 750, Yerusalem tetap di bawah kontrol Islam. Tidak ada usaha Byzantium untuk berusaha kembali lagi merebut Yerusalem karena kehidupan beragama berjalan dengan baik dan damai.
Lihat Juga :