Syukur dalam Islam: Merasa Puas dengan yang Sedikit, Akan Memperoleh Banyak
Senin, 29 Juli 2024 - 12:00 WIB
loading...
Prof Quraish Shihab. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Kelompok minoritas dalam diri manusia adalah orang-orang yang pandai bersyukur atau dalam istilah Al-Quran asy-syakirun. Mereka ini orang-orang yang telah mendarah daging dalam dirinya hakikat syukur dalam ketiga sisinya: hati, lidah, dan perbuatan).
"Jika kita tak mampu seperti yang minoritas itu, kita tetap harus berusaha sekuat kemampuan untuk menjadi orang yang melakukan syukur. Dalam Istilah istilah Al-Quran yasykurun-- betapapun kecilnya syukur itu," tulis Prof Dr M Quraish Shihab dalam bukunya berjudul "Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat" (Mizan, 2007).
Karena, kata Quraish, seperti bunyi sebuah kaidah keagamaan: Sesuatu yang tidak dapat diraih seluruhnya, jangan ditinggalkan sama sekali,"
Baca juga: Syukur Mencakup 3 Sisi: Salah Satunya Kepuasan Batin atas Anugerah
Kata "syukur" adalah kata yang berasal dari bahasa Arab. Kata ini dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai: (1) rasa terima kasih kepada Allah, dan (2) untunglah (menyatakan lega, senang, dan sebagainya).
Menurut Quraish, pengertian kebahasaan ini tidak sepenuhnya sama dengan pengertiannya menurut asal kata itu (etimologi) maupun menurut penggunaan Al-Quran atau istilah keagamaan.
Dalam Al-Quran kata "syukur" dengan berbagai bentuknya ditemukan sebanyak 64 kali. Ahmad Ibnu Faris dalam bukunya Maqayis Al-Lughah menyebutkan empat arti dasar dari kata tersebut yaitu:
1. Pujian karena adanya kebaikan yang diperoleh. Hakikatnya adalah merasa rida atau puas dengan sedikit sekalipun, karena itu bahasa menggunakan kata ini (syukur) untuk kuda yang gemuk namun hanya membutuhkan sedikit rumput.
Peribahasa juga memperkenalkan ungkapan Asykar min barwaqah (Lebih bersyukur dari tumbuhan barwaqah). Barwaqah adalah sejenis tumbuhan yang tumbuh subur, walau dengan awan mendung tanpa hujan.
Baca juga: Surat Ibrahim : Pentingnya Bersyukur
2. Kepenuhan dan kelebatan. Pohon yang tumbuh subur dilukiskan dengan kalimat syakarat asy-syajarat.
3. Sesuatu yang tumbuh di tangkai pohon (parasit).
4. Pernikahan, atau alat kelamin.
"Jika kita tak mampu seperti yang minoritas itu, kita tetap harus berusaha sekuat kemampuan untuk menjadi orang yang melakukan syukur. Dalam Istilah istilah Al-Quran yasykurun-- betapapun kecilnya syukur itu," tulis Prof Dr M Quraish Shihab dalam bukunya berjudul "Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat" (Mizan, 2007).
Karena, kata Quraish, seperti bunyi sebuah kaidah keagamaan: Sesuatu yang tidak dapat diraih seluruhnya, jangan ditinggalkan sama sekali,"
Baca juga: Syukur Mencakup 3 Sisi: Salah Satunya Kepuasan Batin atas Anugerah
Kata "syukur" adalah kata yang berasal dari bahasa Arab. Kata ini dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai: (1) rasa terima kasih kepada Allah, dan (2) untunglah (menyatakan lega, senang, dan sebagainya).
Menurut Quraish, pengertian kebahasaan ini tidak sepenuhnya sama dengan pengertiannya menurut asal kata itu (etimologi) maupun menurut penggunaan Al-Quran atau istilah keagamaan.
Dalam Al-Quran kata "syukur" dengan berbagai bentuknya ditemukan sebanyak 64 kali. Ahmad Ibnu Faris dalam bukunya Maqayis Al-Lughah menyebutkan empat arti dasar dari kata tersebut yaitu:
1. Pujian karena adanya kebaikan yang diperoleh. Hakikatnya adalah merasa rida atau puas dengan sedikit sekalipun, karena itu bahasa menggunakan kata ini (syukur) untuk kuda yang gemuk namun hanya membutuhkan sedikit rumput.
Peribahasa juga memperkenalkan ungkapan Asykar min barwaqah (Lebih bersyukur dari tumbuhan barwaqah). Barwaqah adalah sejenis tumbuhan yang tumbuh subur, walau dengan awan mendung tanpa hujan.
Baca juga: Surat Ibrahim : Pentingnya Bersyukur
2. Kepenuhan dan kelebatan. Pohon yang tumbuh subur dilukiskan dengan kalimat syakarat asy-syajarat.
3. Sesuatu yang tumbuh di tangkai pohon (parasit).
4. Pernikahan, atau alat kelamin.
Lihat Juga :