Kemunduran Islam setelah Bangsa Mongol Meruntuhkan Abbasiyah
Senin, 02 September 2024 - 16:06 WIB
loading...
Faktor kemunduran Islam secara garis besar dipengaruhi oleh tiga peristiwa besar: Reconquista dan Perang Salib dan serangan Mongol. Ilustrasi: Ist
A
A
A
Faktor kemunduran Islam secara garis besar dipengaruhi oleh tiga peristiwa besar: Reconquista dan Perang Salib dan serangan Bangsa Mongol .
"Reconquista mendepak Islam dari Semenanjung Iberia tanpa membawa bekal ilmu pengetahuan yang mereka kembangkan sejak tahun 711 hingga tahun pengusiran terjadi," tulis Jati Pamungkas, S.Hum, M.A. dalam bukunya berjudul "Perang Salib Timur dan Barat, Misi Merebut Yerusalem dan Mengalahkan Pasukan Islam di Eropa".
Sedangkan Bangsa Mongol meruntuhkan Kekhalifahan Abbasiyah dan menghancurkan seluruh isi Baghdad, seperti madrasah dan perpustakaan, pada tahun 1258.
Baca juga: Musta'shim Billah, Khalifah Terakhir Dinasti Abbasiyah yang Dieksekusi Pasukan Mongol
Hulagu Khan meminta Khalifah al-Mu’tashim Billah untuk menyerah namun ditolak. Baghdad begitu penting bagi Hulagu karena Baghdad menjadi gerbang dalam menaklukkan daerah lain di wilayah barat seperti Damaskus, Cairo, dan juga Konstantinopel.
Baghdad merupakan kota yang paling beradab di seluruh peradaban Islam. Baghdad merupakan kota pusat para cendekiawan dan ilmuwan muslim berkumpul.
Terdapat universitas terkenal bernama Madrasah Nizhamiah dan perpustakaan terbesar di dunia yaitu (Bait al-Hikmah) Baitul Hikmah di Baghdad.
Baghdad yang dibangun pada tahun 762 oleh Khalifah al-Manshur akhirnya dihancurkan dalam waktu seminggu setelah penaklukkan. Mayoritas penduduk, baik orang tua, anak kecil, wanita dibantai tanpa alasan.
Begitu pula seluruh tentara Abbasiyah dan juga keluarga istana semuanya dibunuh. Khalifah al-Mu’tashim sendiri dibunuh dengan cara diinjak-injak kuda.
Baca juga: Kemunduran Umat Islam karena Kurangnya Percaya Diri
Semua bangunan di Baghdad, seperti masjid, istana, dan fasilitas publik, dibakar dan dihancurkan. Oleh sebab itulah warisan peradaban di Baghdad ditemukan dalam kondisi hancur, seperti masjid tidak beratap, ubin yang hilang, hiasan dinding yang hilang, hingga tampak tembok coklat yang tidak dihiasi ornamen-ornamen karena dirusak dan dijarah.
Warisan peradaban tersebut berbeda dengan peninggalan di Damaskus, berupa masjid dan bangunan lainnya yang masih tampak terawat hingga sekarang.
Padahal secara logika, bangunan di Damaskus lebih tua daripada bangunan di Bagdad. Hal tersebut meyakinkan bahwa Mongol telah menaklukkan dengan cara yang melampaui rasa kemanusiaan.
"Reconquista mendepak Islam dari Semenanjung Iberia tanpa membawa bekal ilmu pengetahuan yang mereka kembangkan sejak tahun 711 hingga tahun pengusiran terjadi," tulis Jati Pamungkas, S.Hum, M.A. dalam bukunya berjudul "Perang Salib Timur dan Barat, Misi Merebut Yerusalem dan Mengalahkan Pasukan Islam di Eropa".
Sedangkan Bangsa Mongol meruntuhkan Kekhalifahan Abbasiyah dan menghancurkan seluruh isi Baghdad, seperti madrasah dan perpustakaan, pada tahun 1258.
Baca juga: Musta'shim Billah, Khalifah Terakhir Dinasti Abbasiyah yang Dieksekusi Pasukan Mongol
Hulagu Khan meminta Khalifah al-Mu’tashim Billah untuk menyerah namun ditolak. Baghdad begitu penting bagi Hulagu karena Baghdad menjadi gerbang dalam menaklukkan daerah lain di wilayah barat seperti Damaskus, Cairo, dan juga Konstantinopel.
Baghdad merupakan kota yang paling beradab di seluruh peradaban Islam. Baghdad merupakan kota pusat para cendekiawan dan ilmuwan muslim berkumpul.
Terdapat universitas terkenal bernama Madrasah Nizhamiah dan perpustakaan terbesar di dunia yaitu (Bait al-Hikmah) Baitul Hikmah di Baghdad.
Baghdad yang dibangun pada tahun 762 oleh Khalifah al-Manshur akhirnya dihancurkan dalam waktu seminggu setelah penaklukkan. Mayoritas penduduk, baik orang tua, anak kecil, wanita dibantai tanpa alasan.
Begitu pula seluruh tentara Abbasiyah dan juga keluarga istana semuanya dibunuh. Khalifah al-Mu’tashim sendiri dibunuh dengan cara diinjak-injak kuda.
Baca juga: Kemunduran Umat Islam karena Kurangnya Percaya Diri
Semua bangunan di Baghdad, seperti masjid, istana, dan fasilitas publik, dibakar dan dihancurkan. Oleh sebab itulah warisan peradaban di Baghdad ditemukan dalam kondisi hancur, seperti masjid tidak beratap, ubin yang hilang, hiasan dinding yang hilang, hingga tampak tembok coklat yang tidak dihiasi ornamen-ornamen karena dirusak dan dijarah.
Warisan peradaban tersebut berbeda dengan peninggalan di Damaskus, berupa masjid dan bangunan lainnya yang masih tampak terawat hingga sekarang.
Padahal secara logika, bangunan di Damaskus lebih tua daripada bangunan di Bagdad. Hal tersebut meyakinkan bahwa Mongol telah menaklukkan dengan cara yang melampaui rasa kemanusiaan.
Lihat Juga :