Akhlak dan Fungsi Kenabian Muhammad SAW Menurut Al-Qur'an
Jum'at, 13 September 2024 - 11:09 WIB
loading...
A
A
A
Sejarah hidup Nabi Muhammad SAW membuktikan bahwa beliau menghimpun dan mencapai puncak keempat macam manusia tersebut.
Karya-karyanya, ibadahnya, seni bahasa yang dikuasainya, serta pemikiran-pemikirannya sungguh mengagumkan setiap orang yang bersikap objektif. Karena itu pula seorang Muslim akan kagum berganda kepada beliau, sekali pada saat memandangnya melalui kacamata ilmu dan kemanusiaan, dan kedua kali pada saat memandangnya dengan kacamata iman dan agama.
Baca juga: Doa Nabi Muhammad SAW saat Mengkhatamkan Al-Qur'an
Banyak fungsi yang ditetapkan Allah bagi Nabi Muhammad SAW, antara lain sebagai syahid (pembawa berita gembira dan pemberi peringatan) ( QS Al-Fath [48] : 8), yang pada akhirnya bermuara pada penyebarluasan rahmat bagi alam semesta.
Syahid
Demikian itulah Kami jadikan kamu umat pertengahan, agar kamu menjadi saksi terhadap manusia, dan agar Rasul (Muhammad SAW) menjadi saksi terhadap kamu ... ( QS Al-Baqarah [2] : 143)
Kata syahid/syahid antara lain berarti "menyaksikan," baik dengan pandangan mata maupun dengan pandangan hati (pengetahuan). Ayat itu menjelaskan keberadaan umat Islam pada posisi tengah, agar mereka tidak hanyut pada pengaruh kebendaan, tidak pula mengantarkannya membubung tinggi ke alam rohani sehingga tidak berpijak lagi di bumi. Mereka berada di antara keduanya (posisi tengah), sehingga mereka dapat menjadi saksi dalam arti patron/teladan dan skala kebenaran bagi umat-umat yang lain, sedangkan Rasulullah Saw. yang juga berkedudukan sebagai syahid (saksi) adalah patron dan teladan bagi umat Islam. Kendati ada juga yang berpendapat bahwa kata tersebut berarti bahwa Nabi Muhammad SAW akan menjadi saksi di hari kemudian terhadap umatnya dan umat-umat terdahulu, seperti bunyi firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Nisa' (4) : 41:
Baca juga: Peringatan Maulid Nabi dalam Perspektif Hadis
Maka bagaimanakah halnya orang-orang kafir nanti apabila Kami menghadirkan seorang saksi dari tiap-tiap umat dan Kami hadirkan pula engkau (hai Muhammad) sebagai saksi atas mereka (QS Al-Nisa, [4]: 41).
Tingkat syahadat (persaksian) hanya diraih oleh mereka yang menelusuri jalan lurus (shirath al-mustaqim), sehingga mereka mampu menyaksikan yang tersirat di balik yang tersurat. Mereka yang menurut Ibnu Sina disebut "orang yang arif," mampu memandang rahasia Tuhan yang terbentang melalu qudrat-Nya.
Tokoh dari segala saksi adalah Rasulullah Muhammad SAW yang secara tegas di dalam ayat ini dinyatakan "diutus untuk menjadi syahid (saksi)."
Baca juga: Pengertian Maulid Nabi, Sejarah dan Keutamaannya
Karya-karyanya, ibadahnya, seni bahasa yang dikuasainya, serta pemikiran-pemikirannya sungguh mengagumkan setiap orang yang bersikap objektif. Karena itu pula seorang Muslim akan kagum berganda kepada beliau, sekali pada saat memandangnya melalui kacamata ilmu dan kemanusiaan, dan kedua kali pada saat memandangnya dengan kacamata iman dan agama.
Baca juga: Doa Nabi Muhammad SAW saat Mengkhatamkan Al-Qur'an
Banyak fungsi yang ditetapkan Allah bagi Nabi Muhammad SAW, antara lain sebagai syahid (pembawa berita gembira dan pemberi peringatan) ( QS Al-Fath [48] : 8), yang pada akhirnya bermuara pada penyebarluasan rahmat bagi alam semesta.
Syahid
Demikian itulah Kami jadikan kamu umat pertengahan, agar kamu menjadi saksi terhadap manusia, dan agar Rasul (Muhammad SAW) menjadi saksi terhadap kamu ... ( QS Al-Baqarah [2] : 143)
Kata syahid/syahid antara lain berarti "menyaksikan," baik dengan pandangan mata maupun dengan pandangan hati (pengetahuan). Ayat itu menjelaskan keberadaan umat Islam pada posisi tengah, agar mereka tidak hanyut pada pengaruh kebendaan, tidak pula mengantarkannya membubung tinggi ke alam rohani sehingga tidak berpijak lagi di bumi. Mereka berada di antara keduanya (posisi tengah), sehingga mereka dapat menjadi saksi dalam arti patron/teladan dan skala kebenaran bagi umat-umat yang lain, sedangkan Rasulullah Saw. yang juga berkedudukan sebagai syahid (saksi) adalah patron dan teladan bagi umat Islam. Kendati ada juga yang berpendapat bahwa kata tersebut berarti bahwa Nabi Muhammad SAW akan menjadi saksi di hari kemudian terhadap umatnya dan umat-umat terdahulu, seperti bunyi firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Nisa' (4) : 41:
Baca juga: Peringatan Maulid Nabi dalam Perspektif Hadis
Maka bagaimanakah halnya orang-orang kafir nanti apabila Kami menghadirkan seorang saksi dari tiap-tiap umat dan Kami hadirkan pula engkau (hai Muhammad) sebagai saksi atas mereka (QS Al-Nisa, [4]: 41).
Tingkat syahadat (persaksian) hanya diraih oleh mereka yang menelusuri jalan lurus (shirath al-mustaqim), sehingga mereka mampu menyaksikan yang tersirat di balik yang tersurat. Mereka yang menurut Ibnu Sina disebut "orang yang arif," mampu memandang rahasia Tuhan yang terbentang melalu qudrat-Nya.
Tokoh dari segala saksi adalah Rasulullah Muhammad SAW yang secara tegas di dalam ayat ini dinyatakan "diutus untuk menjadi syahid (saksi)."
Baca juga: Pengertian Maulid Nabi, Sejarah dan Keutamaannya
(mhy)
Lihat Juga :