Khotbah Utsman bin Affan Bernada Emosional setelah Dilantik Menjadi Khalifah
Senin, 07 Oktober 2024 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Haekal, Ibnu Katsir sudah berlebihan dengan pendapatnya itu. Dalam at-Tabaqat Ibn Sa'd mencatat isi khotbah Utsman ketika dia marah-marah itu dan menyebutkan pula sanadnya.
"Saya cenderung untuk memperkuat sumber Ibn Sa'd ini dan meragukan khotbah mimbar yang dikutip Ibn Kasir, at-Tabari dan yang lain," ujar Haekal.
Wajar sekali tentunya selama hari-hari Majelis Syura itu Utsman menjadi sibuk sekali untuk menyiapkan pidato yang akan disampaikan menyusul hari pelantikannya. Juga wajar sekali jika dia mengatakan kepada mereka bahwa setelah itu hari-hari masih panjang, dan bahwa khotbahnya itu akan mereka terima seperti apa adanya.
At-Tabari dan Ibn Kasir mencatat bahwa langkah pertama yang diambil Utsman sesudah pelantikannya itu menambah dana bantuan yang diberikan kepada umat melebihi pemberian di masa Umar bin Khattab. "Menambah pemberian dana bantuan demikian tentu tidak sesuai dengan khotbahnya yang semuanya berisi zuhud, mengingkari kesenangan hidup di dunia!" ujar Haekal.
Baca juga: Ini Jabatan Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan ketika Abu Bakar Menjadi Khalifah
Apa pun yang terjadi, kata Haekal, kedua khotbah itu tidak menggambarkan politik yang terpikir akan dijalankan oleh Utsman di kemudian hari. Besar sekali dugaan bahwa ia belum lagi merencanakan suatu kebijakan yang batas-batasnya sudah jelas, seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar ketika hendak memerangi kaum murtad.
Dan seperti yang dilakukan Umar ketika memerintahkan pengembalian para tawanan perang orang-orang Arab kepada keluarga masing-masing. Lalu, ketika memerintahkan pengosongan orang-orang Nasrani Najran dari perkampungan mereka, atau ketika mengadakan mobilisasi untuk diberangkatkan ke Irak sebagai bala bantuan kepada Musanna.
"Mungkin juga perbedaan watak antara Umar dengan Utsman, antara yang keras dengan yang lemah-lembut, yang telah memaksa Utsman tidak segera membuat rencana kebijakannya itu," kata Haekal.
Baca juga: Pasca-Terbunuhnya Utsman bin Affan: Delapan Hari Tanpa Khalifah
"Saya cenderung untuk memperkuat sumber Ibn Sa'd ini dan meragukan khotbah mimbar yang dikutip Ibn Kasir, at-Tabari dan yang lain," ujar Haekal.
Wajar sekali tentunya selama hari-hari Majelis Syura itu Utsman menjadi sibuk sekali untuk menyiapkan pidato yang akan disampaikan menyusul hari pelantikannya. Juga wajar sekali jika dia mengatakan kepada mereka bahwa setelah itu hari-hari masih panjang, dan bahwa khotbahnya itu akan mereka terima seperti apa adanya.
At-Tabari dan Ibn Kasir mencatat bahwa langkah pertama yang diambil Utsman sesudah pelantikannya itu menambah dana bantuan yang diberikan kepada umat melebihi pemberian di masa Umar bin Khattab. "Menambah pemberian dana bantuan demikian tentu tidak sesuai dengan khotbahnya yang semuanya berisi zuhud, mengingkari kesenangan hidup di dunia!" ujar Haekal.
Baca juga: Ini Jabatan Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan ketika Abu Bakar Menjadi Khalifah
Apa pun yang terjadi, kata Haekal, kedua khotbah itu tidak menggambarkan politik yang terpikir akan dijalankan oleh Utsman di kemudian hari. Besar sekali dugaan bahwa ia belum lagi merencanakan suatu kebijakan yang batas-batasnya sudah jelas, seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar ketika hendak memerangi kaum murtad.
Dan seperti yang dilakukan Umar ketika memerintahkan pengembalian para tawanan perang orang-orang Arab kepada keluarga masing-masing. Lalu, ketika memerintahkan pengosongan orang-orang Nasrani Najran dari perkampungan mereka, atau ketika mengadakan mobilisasi untuk diberangkatkan ke Irak sebagai bala bantuan kepada Musanna.
"Mungkin juga perbedaan watak antara Umar dengan Utsman, antara yang keras dengan yang lemah-lembut, yang telah memaksa Utsman tidak segera membuat rencana kebijakannya itu," kata Haekal.
Baca juga: Pasca-Terbunuhnya Utsman bin Affan: Delapan Hari Tanpa Khalifah
(mhy)
Lihat Juga :