Tasawuf sebagai Olah Rohani: Islam Adalah Agama Pertengahan
Minggu, 13 Oktober 2024 - 12:26 WIB
loading...
Syariah Taurat didominasi oleh ketegaran, dan Syariah Injil didominasi oleh kelembutan; sedangkan Syariah al-Quran menengahi dan meliputi keduanya itu. Ilustrasi: Ist
A
A
A
Cendekiawan Muslim Nurcholish Madjid atau Cak Nur dalam bukunya berjudul "Islam Doktrin dan Peradaban" mengatakan Al-Quran banyak menegaskan tentang pentingnya orientasi kerohanian yang bersifat ke dalam dan mengarah kepada pribadi.
"Justru sudah menjadi kesadaran para sarjana Islam sejak dari masa-masa awal bahwa Islam adalah agama pertengahan (wasath) antara, di satu pihak, agama Yahudi yang legalistik dan banyak menekankan orientasi kemasyarakatan dan, di pihak lain, agama Kristen yang spiritualistik dan sangat memperhatikan kedalaman olah serta pengalaman rohani serta membuat agama itu lembut," kata Cak Nur.
Seperti dikatakan Ibnu Taimiyyah , "Syariah Taurat didominasi oleh ketegaran, dan Syariah Injil didominasi oleh kelembutan; sedangkan Syariah al-Quran menengahi dan meliputi keduanya itu."
Baca juga: Quraish Shihab: Islam Adalah Agama yang Mendambakan Perdamaian
Menurut Cak Nur, maka sebagai bentuk pertengahan dan sekaligus antara kedua agama pendahuluannya itu, Islam mengandung ajaran-ajaran hukum dengan orientasi kepada masalah-masalah tingkah laku manusia secara lahiriah seperti pada agama Yahudi, tapi juga mengandung ajaran-ajaran kerohanian yang mendalam seperti pada agama Kristen.
"Bahkan sesungguhnya antara keduanya itu tidak bisa dipisahkan, meskipun bisa dibedakan," katanya.
Sebab, menurutnya, ketika orang Muslim dituntut untuk tunduk kepada suatu hukum tingkah laku lahiriah, ia diharapkan, malah diharuskan, menerimanya dengan ketulusan yang terbit dari lubuk hatinya.
Ia harus merasakan ketentuan hukum itu sebagai sesuatu yang berakar dalam komitmen spiritualnya. Kenyataan ini tercermin dalam susunan kitab-kitab fikih, yang selalu dimulai dengan bab pensucian (thaharah) lahir, sebagai awal pensucian batin.
Walaupun begitu, tetap ada kemungkinan orang mengenali mana yang lebih lahiriah, dan mana pula yang batiniah.
Sebenarnya, kata Cak Nur, sudah sejak zaman Rasulullah SAW sendiri, terdapat kelompok para sahabat Nabi yang lebih tertarik kepada hal-hal yang bersifat lebih batiniah itu.
"Justru sudah menjadi kesadaran para sarjana Islam sejak dari masa-masa awal bahwa Islam adalah agama pertengahan (wasath) antara, di satu pihak, agama Yahudi yang legalistik dan banyak menekankan orientasi kemasyarakatan dan, di pihak lain, agama Kristen yang spiritualistik dan sangat memperhatikan kedalaman olah serta pengalaman rohani serta membuat agama itu lembut," kata Cak Nur.
Seperti dikatakan Ibnu Taimiyyah , "Syariah Taurat didominasi oleh ketegaran, dan Syariah Injil didominasi oleh kelembutan; sedangkan Syariah al-Quran menengahi dan meliputi keduanya itu."
Baca juga: Quraish Shihab: Islam Adalah Agama yang Mendambakan Perdamaian
Menurut Cak Nur, maka sebagai bentuk pertengahan dan sekaligus antara kedua agama pendahuluannya itu, Islam mengandung ajaran-ajaran hukum dengan orientasi kepada masalah-masalah tingkah laku manusia secara lahiriah seperti pada agama Yahudi, tapi juga mengandung ajaran-ajaran kerohanian yang mendalam seperti pada agama Kristen.
"Bahkan sesungguhnya antara keduanya itu tidak bisa dipisahkan, meskipun bisa dibedakan," katanya.
Sebab, menurutnya, ketika orang Muslim dituntut untuk tunduk kepada suatu hukum tingkah laku lahiriah, ia diharapkan, malah diharuskan, menerimanya dengan ketulusan yang terbit dari lubuk hatinya.
Ia harus merasakan ketentuan hukum itu sebagai sesuatu yang berakar dalam komitmen spiritualnya. Kenyataan ini tercermin dalam susunan kitab-kitab fikih, yang selalu dimulai dengan bab pensucian (thaharah) lahir, sebagai awal pensucian batin.
Walaupun begitu, tetap ada kemungkinan orang mengenali mana yang lebih lahiriah, dan mana pula yang batiniah.
Sebenarnya, kata Cak Nur, sudah sejak zaman Rasulullah SAW sendiri, terdapat kelompok para sahabat Nabi yang lebih tertarik kepada hal-hal yang bersifat lebih batiniah itu.
Lihat Juga :