Hukum Tajwid dalam Surat Al-Bayyinah yang Memperfasih Bacaan Al-Qur’an
loading...

Surat Al-Bayyinah tidak hanya menyimpan makna mendalam, tetapi juga menjadi sarana untuk memperfasih bacaan Al-Quran melalui penerapan hukum tajwid. Foto ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
Surat Al-Bayyinah tidak hanya menyimpan makna mendalam, tetapi juga menjadi sarana untuk memperfasih bacaan Al-Qur'an melalui penerapan hukum tajwid.
Hukum tajwid membantu kita melafalkan setiap ayat dengan tartil sesuai kaidah yang benar, sehingga bacaan menjadi lebih indah dan penuh makna.
Dalam artikel ini, kita akan mengulas berbagai hukum tajwid yang terdapat dalam Surat Al-Bayyinah, lengkap dengan penjelasan dan contoh aplikasinya, sebagai panduan praktis untuk memperbaiki kualitas bacaan Al-Qur'an Anda.
Artinya :
Orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak akan meninggalkan (agama mereka) sampai datang kepada mereka bukti yang nyata,
لَمْ يَ, Ini merupakan hukum Idzhar Syafawi (harus dibaca jelas tanpa dengung), karena huruf mim mati bertemu dengan huruf Ya.
Terdapat satu hukum tajwid pada bacaan يَكُنِ الَّذِينَ, yaitu Mad Ashli, karena ada huruf Ya yang diberi harakat kasrah. Pembacaannya panjangnya satu alif atau dua harakat.
Pada bacaan كَفَرُوا, terdapat hukum Mad Ashli, karena ada huruf Wawu yang diberi harakat dhommah. Pembacaannya panjangnya satu alif atau dua harakat.
Pada bacaan مِنْ أَهْلِ, terdapat hukum Izh-har Halqi. Hal ini terjadi karena ada nun mati yang bertemu dengan huruf Alif. Membacanya harus jelas tanpa dengung, dengan suara yang keluar dari tenggorokan (halqi).
Pada bacaan أَهْلِ الْكِتَابِ, terdapat dua hukum tajwid:
Alif Lam Qomariyah: Hukum ini diterapkan karena ada Alif Lam yang bertemu dengan huruf kaf (ك), yang merupakan salah satu huruf qamariyah. Pembacaan Alif Lam Qomariyah harus dibaca jelas, tanpa meleburkan suara lam ke huruf setelahnya.
Mad Ashli: Hukum ini terjadi karena ada huruf Alif yang berharakat fathah. Mad Ashli dibaca panjangnya 1 alif atau 2 harakat, yang mengacu pada pembacaan huruf Alif yang diberi fathah.
Pada bacaan وَالْمُشْرِكِينَ, terdapat dua hukum tajwid sebagai berikut:
Alif Lam Qomariyah: Hukum ini diterapkan karena adanya Alif Lam yang bertemu dengan huruf mim (م), yang merupakan salah satu huruf qamariyah. Pembacaan Alif Lam Qamariyah harus dibaca jelas, tanpa meleburkan suara lam ke huruf setelahnya.
Mad Ashli: Hukum ini berlaku karena ada huruf Ya yang berharakat kasrah. Mad Ashli dibaca panjangnya 1 alif atau 2 harakat, mengacu pada pembacaan huruf Ya dengan kasrah di bawahnya.
Pada bacaan مُنْفَكِّينَ, terdapat dua hukum tajwid sebagai berikut:
Ikhfa’: Hukum ini diterapkan karena adanya nun mati bertemu dengan huruf fa. Pembacaannya harus disamarkan, yaitu dengan mengeluarkan bunyi "ng" secara samar-samar, tanpa menonjolkan suara nun.
Mad Ashli: Hukum ini berlaku karena ada huruf Ya yang berharakat kasrah. Mad Ashli dibaca dengan panjang 1 alif atau 2 harakat, mengikuti aturan panjang pendeknya bacaan.
Pada bacaan حَتّٰى, terdapat hukum tajwid Mad Ashli. Hal ini disebabkan karena ada harakat fatah berdiri Panjang bacaan Mad Ashli ini adalah 1 alif atau 2 harakat, yang berarti dibaca dengan durasi panjang yang standar sesuai aturan tajwid.
Pada bacaan تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ, terdapat 1 hukum tajwid, yaitu Alif Lam Qomariyah. Hal ini ditandai dengan adanya Alif Lam (ال) yang diikuti tanda sukun. Cara membacanya adalah dengan jelas dan tidak dilebur.
Al-Bayyinah 98:2
Artinya :
(yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang suci (Alquran),
Pada bacaan رَسُوْ, terdapat hukum tajwid Mad Ashli. Hal ini terjadi karena ada huruf wawu yang didlommah (berharakat dhammah). Cara membacanya adalah dengan dipanjangkan 1 alif atau 2 harakat.
Pada bacaan لٌ مِّ, terdapat hukum tajwid Idgham Bighunnah. Hal ini terjadi karena ada tanwin bertemu dengan huruf Mim.
Cara membacanya adalah dengan mendengung saat meleburkan bunyi tanwin ke dalam huruf Mim.
Pada bacaan مِنَ اللّٰهِ, terdapat hukum tajwid Tafkhim (dibaca tebal). Hal ini terjadi karena lafadz اللّٰهِ didahului oleh harakat fathah pada huruf sebelumnya. Cara membacanya adalah dengan menebalkan bunyi lam pada lafadz tersebut.
Pada bacaan يَتْلُوْا, terdapat satu hukum tajwid, yaitu Mad Ashli. Hal ini karena ada huruf Wawu yang didlommah. Panjang bacaan untuk hukum ini adalah 1 alif atau 2 harakat.
Selain itu, huruf Ta yang memiliki tanda sukun dibaca dengan mengeluarkan udara dari sela-sela lidah dan gigi, sehingga bunyinya menyerupai suara “ts”. Hal ini merupakan karakteristik artikulasi (makhraj) huruf Ta.
Pada lafadz صُحُفًا مُّطَهَّرَةً, terdapat satu hukum tajwid, yaitu Idgham Bighunnah. Hal ini terjadi karena Tanwin pada kata صُحُفًا bertemu dengan huruf Mim, sehingga cara membacanya harus didengungkan selama 2-3 harakat.
Selain itu, huruf-huruf yang memiliki tanda tasydid, seperti مّ dan طهَّ, dibaca dengan tekanan atau seolah-olah dilafalkan dua kali. Sementara itu, huruf Ta Marbuthah pada kata مُطَهَّرَةً akan berubah bunyi menjadi Ha jika dibaca dalam keadaan waqaf.
Al-Bayyinah 98:3
Artinya : "di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus (benar).
Pada lafadz فِيْهَا, terdapat hukum tajwid Mad Ashli. Hal ini disebabkan oleh adanya huruf Ya yang berharakat kasrah dan huruf Alif yang berharakat fatah. Panjang bacaan pada hukum ini adalah 1 alif atau 2 harakat.
Pada lafadz كُتُبٌ قَيِّمَةٌ, terdapat satu hukum tajwid, yaitu Ikhfa’ (samar). Hukum ini terjadi karena adanya tanwin yang bertemu dengan huruf Qof. Cara membaca huruf Nun pada tanwin tersebut harus disamarkan, menghasilkan bunyi seperti "ng" yang halus.
Selain itu, huruf-huruf yang bertasydid dalam lafadz ini harus dibaca dengan cara ditekan (hurufnya seperti dobel). Sedangkan Ta Marbutoh (huruf Ta bulat) pada akhir lafadz, jika dihentikan (waqof), akan berubah menjadi bunyi Ha.
Al-Bayyinah 98:4
Artinya : "Dan tidaklah terpecah belah orang-orang Ahli Kitab melainkan setelah datang kepada mereka bukti yang nyata."
Pada lafadz وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِيْنَ, terdapat satu hukum tajwid, yaitu Mad Ashli. Hukum ini terjadi karena ada huruf Alif yang di fathah dan huruf Ya yang dikasroh. Panjang bacaannya adalah 1 Alif atau 2 Harakat.
Selain itu, pada lafadz ini terdapat huruf yang bertasydid, yang harus dibaca dengan cara ditekan, sehingga huruf tersebut terdengar seperti dobel.
Pada lafadz أُوْتُوا الْكِتَابَ, terdapat dua hukum tajwid, yaitu Mad Ashli dan Alif Lam Qomariyah.
Mad Ashli terjadi karena ada huruf Wawu yang didlommah, dan huruf Alif yang difatah. Panjang bacaannya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Alif Lam Qomariyah terjadi karena ada Alif Lam diikuti sukun pada lafadz الْكِتَابَ.
Namun, perlu diperhatikan bahwa sebelum Alif Lam, ada huruf Wawu didlommah, yang mana tidak dibaca Mad tetapi dimasukkan ke dalam hukum Alif Lam Qomariyah.
Lafadz إِلَّا adalah Mad Ashli, karena terdapat huruf Alif yang difatah. Panjang bacaannya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Lafadz مِنْ بَعْدِ adalah Iqlab, karena terdapat Nun Mati yang bertemu dengan huruf Ba’. Cara membacanya, huruf Nun berubah menjadi huruf Mim, sehingga dibaca “Mim Ba’di”.
Lafadz مَا adalah Mad Ashli, karena terdapat huruf Alif dengan fatah. Panjangnya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Lafadz جَاۤءَ adalah Mad Wajib Muttashil, karena terdapat Mad Ashli yang diikuti oleh Hamzah dalam satu kata. Panjangnya adalah 5 harakat.
Pada lafadz ءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُ, terdapat 1 hukum, yaitu Alif Lam Qomariyah, yang ditandai dengan adanya Alif Lam diikuti oleh sukun.
Selain itu, huruf Ta yang disukun dibaca dengan mengeluarkan udara dari sela-sela lidah dan gigi. Huruf yang bertasydid dibaca dengan cara ditekan (hurufnya dobel). Jika terdapat Ta Marbutoh (Ta bulat) yang di waqof, maka berubah menjadi Ha.
Al-Bayyinah 98:5
Artinya :
Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).
Pada lafadz وَمَاۤ أُمِرُوْا إِلَّا, terdapat 2 hukum:
Mad Jaiz Munfashil, karena ada Mad Ashli yang bertemu dengan huruf Alif pada kata yang berbeda. Panjangnya bisa bervariasi, yaitu 2, 4, atau 5 harakat.
Mad Ashli, karena ada huruf Alif difatah. Panjangnya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Pada lafadz يَعْبُدُوا اللّٰهَ, terdapat hukum Tafkhim (tebal), karena kata اللّٰهَ didahului oleh dhammah pada huruf waw dalam kata يَعْبُدُوا. Oleh karena itu, lafadz ini dibaca dengan suara yang tebal.
Pada lafadz مُخْلِصِيْنَ, terdapat hukum Mad Ashli karena ada huruf Ya yang di kasroh. Panjangnya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Pada ayat لَهُ الدِّيْنَ terdapat dua hukum tajwid, yaitu Alif Lam Syamsiyah dan Mad Ashli:
Alif Lam Syamsiyah: Terdapat Alif Lam yang diikuti oleh huruf dengan tasydid (huruf Da). Dalam pengucapan, huruf Lam tidak terdengar meskipun ada dalam penulisan, ini merupakan ciri khas dari Alif Lam Syamsiyah.
Mad Ashli: Terdapat huruf Ya yang dikasroh. Panjangnya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Pada kata حُنَفَاۤءَ terdapat hukum Mad Wajib Muttashil, karena ada Mad Ashli yang bertemu dengan Hamzah dalam satu kata. Dalam hal ini, panjang madnya adalah 5 harakat.
Pada kata وَيُقِيْمُوا الصَّلَاةَ, terdapat dua hukum tajwid:
Mad Ashli, karena ada huruf Ya di kasroh dan Alif difatah. Panjang madnya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Alif Lam Syamsiyah, karena ada Alif Lam yang diikuti dengan huruf syamsiyah (ص), yang ditandai dengan adanya tanda tasydid. Dalam pengucapan, huruf Lam tidak terdengar, meskipun ada dalam penulisan.
Pada kata وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ, terdapat dua hukum tajwid:
Alif Lam Syamsiyah, karena ada Alif Lam yang diikuti dengan huruf syamsiyah (ز), yang ditandai dengan adanya tanda tasydid. Dalam pengucapan, huruf Lam tidak terdengar, meskipun ada dalam penulisan.
Mad Ashli, karena ada huruf Alif difatah. Panjang madnya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Pada kata وَذٰلِكَ, terdapat hukum Mad Ashli, karena adanya fatah berdiri pada huruf Alif. Panjang madnya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Pada bagian دِيْنُ الْقَيِّمَةِ, terdapat dua hukum tajwid:
Mad Ashli: Terjadi karena adanya huruf Ya yang diikuti dengan kasroh, dengan panjang bacaan 1 alif atau 2 harakat.
Alif Lam Qomariyah: Dikenali dengan adanya Alif Lam yang diikuti dengan Sukun.
Selain itu, huruf Ta Marbutoh (Ta bulat) yang diwaqofkan akan berubah menjadi Ha saat dibaca.
Al-Bayyinah 98:6
Artinya :
Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk.
Pada bagian إِنَّ الَّذِينَ, terdapat dua hukum tajwid:
Ghunnah (Dengung): Terjadi karena adanya huruf Nun yang bertasydid. Membacanya harus didengungkan selama 3 harakat dan dengungnya harus konsisten.
Mad Ashli: Terjadi karena adanya huruf Ya yang diikuti dengan kasroh, dengan panjang bacaan 1 alif atau 2 harakat.
Pada kata كَفَرُوْا, terdapat hukum Mad Ashli. Hukum ini terjadi karena ada huruf Wawu yang diikuti dengan dhammah. Panjang bacaan Mad Ashli ini adalah 1 alif atau 2 harakat.
Pada kata مِنْ أَهْلِ, terdapat hukum Izh-har Halqi. Hukum ini berlaku karena ada Nun Mati yang bertemu dengan Alif. Cara membacanya harus jelas tanpa dengung, yaitu dengan mengucapkan Nun secara terang.
Pada kata أَهْلِ الْكِتَابِ, terdapat dua hukum:
Alif Lam Qomariyah, karena ada Alif Lam yang diikuti dengan sukun. Dalam hal ini, huruf Lam tidak terucap secara jelas dalam pengucapan, meskipun terlihat dalam penulisan.
Mad Ashli, karena ada huruf Alif yang difathah. Panjangnya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Pada kata وَالْمُشْرِكِينَ, terdapat dua hukum:
Alif Lam Qomariyah, karena ada Alif Lam yang diikuti dengan sukun. Huruf Lam tidak diucapkan secara jelas dalam pengucapan, meskipun terlihat dalam penulisan.
Mad Ashli, karena ada huruf Ya yang dikasroh. Panjangnya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Pada kata فِيْ نَارِ, terdapat Mad Ashli karena terdapat huruf Ya yang dikasroh dan huruf Alif yang difathah. Panjangnya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Kata جَهَنَّمَ mengandung hukum Ghunnah karena terdapat huruf Nun yang bertasydid, yang dibaca dengan dengung selama 3 harakat.
Kata خَالِدِيْنَ فِيْهَا mengandung hukum Mad Ashli, karena terdapat huruf Alif dengan fathah dan Ya dengan kasroh, dengan panjang bacaan 1 alif atau 2 harakat.
Kata أُولٰۤئِكَ mengandung hukum Mad Wajib Muttashil, karena terdapat Mad Ashli yang bertemu dengan Hamzah dalam satu kata. Panjang bacaan adalah 5 harakat.
Pada kata هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ, terdapat dua hukum: Izh-har Syafawi dan Alif Lam Qomariyah.
Izh-har Syafawi terjadi karena ada Mim mati yang bertemu dengan huruf Syin, yang berarti tidak boleh dibaca dengan dengung.
Alif Lam Qomariyah terjadi karena ada Alif Lam yang diikuti oleh sukun.
Ta Marbutoh di akhir ayat jika dibaca waqof berubah menjadi Ha.
Al-Bayyinah 98:7
Artinya : "Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itulah sebaik-baik makhluk".
Pada kata إِنَّ الَّذِيْنَ, terdapat dua hukum, yaitu Ghunnah yang dibaca dengan dengung selama 3 harakat karena huruf Nun ditasydid, dan Mad Ashli yang dipanjangkan 1 alif atau 2 harakat karena ada huruf Ya dikasroh.
Pada kata اٰمَنُوْا, terdapat dua hukum mad, yaitu Mad Badal, yang terjadi karena adanya Alif berharakat Fathah berdiri, dan Mad Ashli, yang terjadi karena adanya Wawu di dlommah. Keduanya dibaca dengan panjang 1 alif atau 2 harakat.
Pada kata وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ, terdapat dua hukum, yaitu Alif Lam Syamsiyah dan Mad Ashli. Alif Lam Syamsiyah ditandai dengan adanya Alif Lam dan tanda Tasydid, di mana huruf Wawu yang ada sebelum Alif Lam tidak dibaca panjang, melainkan dimasukkan ke dalam hukum Alif Lam Syamsiyah. Sedangkan Mad Ashli terjadi karena adanya Alif di fathah, yang dibaca dengan panjang 1 alif atau 2 harakat.
Kata أُوْلٰۤئِكَ ini termasuk dalam hukum Mad Wajib Muttashil, karena terdapat Mad Ashli yang bertemu dengan Hamzah dalam satu kata. Panjang bacaan untuk hukum ini adalah 5 harakat.
Kata هُمْ خَ ini termasuk dalam hukum Izh-har Syafawi, karena ada Mim mati yang bertemu dengan huruf Kho. Cara membacanya adalah tanpa dengung, sehingga bunyi huruf Mim harus jelas dan tegas.
Kata خَيْرُ ini termasuk dalam Huruf Lin atau Haraf Lin, karena terdapat huruf Ya yang disukun setelah huruf sebelumnya yang berharakat Fatah.
Kata رُ الْبَرِيَّةِ ini mengandung 1 hukum, yaitu Alif Lam Qomariyah, yang ditandai dengan adanya Alif Lam dan Sukun. Selain itu, Ta Marbutoh di akhir ayat, saat waqof, berubah menjadi huruf Ha.
Al-Bayyinah 98:8
Artinya :Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Ādn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.
Kata جَزَاۤؤُهُمْ ini termasuk dalam Mad Wajib Muttashil, karena terdapat Mad Ashli yang bertemu dengan Hamzah dalam satu kata. Panjang bacaan untuk mad ini adalah 5 harakat.
Kata هُمْ عِ ini termasuk dalam Izh-har Syafawi, karena ada Mim mati yang bertemu dengan huruf ‘Ain. Cara membacanya tidak boleh dengung, tetapi bunyi huruf Mim harus jelas terdengar.
Kata عِنْدَ ini termasuk dalam Ikhfa’ (samar), karena ada Nun mati yang bertemu dengan huruf Dal. Cara membacanya adalah dengan menyamarkan bunyi huruf Nun.
Kata رَبِّهِمْ ini memiliki hukum Tafkhim (tebal) pada huruf Ro karena huruf tersebut berharakat Fatah.
Kata هِمْ جَ ini memiliki hukum Izh-har Syafawi karena ada Mim mati bertemu dengan huruf Jim. Cara membacanya tidak boleh dengung, tetapi harus jelas bunyi huruf Mim-nya.
Kata جَنَّاتُ ini mengandung 2 hukum, yaitu Ghunnah dan Mad Ashli. Ghunnah terjadi karena ada huruf Nun yang ditasydid, dan cara membacanya didengungkan selama 3 harakat. Mad Ashli terjadi karena ada huruf Alif di fatah, sehingga dibaca dipanjangkan 1 alif atau 2 harakat.
Kata عَدْنٍ تَجْرِيْ mengandung 3 hukum, yaitu Qolqolah Sughro, Ikhfa’, dan Mad Ashli. Qolqolah Sughro terjadi karena ada huruf Qolqolah yang disukun, yaitu huruf Dal dan Jim, yang dibaca dengan pantulan. Ikhfa’ terjadi karena ada Tanwin yang bertemu dengan huruf Ta, sehingga dibaca dengan samar (seperti bunyi “NG”). Mad Ashli terjadi karena ada huruf Ya di kasroh, yang dibaca dipanjangkan 1 alif atau 2 harakat.
Kata مِنْ تَ mengandung hukum Ikhfa’ (samar), karena ada Nun mati yang bertemu dengan huruf Ta. Cara membacanya adalah dengan menyamarkan bunyi huruf Nun, seperti bunyi "NG".
Kata تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ mengandung 3 hukum:
Alif Lam Qomariyah, karena ada Alif Lam dan sukun, yang berarti huruf Lam dibaca jelas dengan suara yang tidak disamarkan.
Izh-har Halqi, karena ada Nun mati yang bertemu dengan huruf Ha, yang artinya huruf Nun dibaca jelas tanpa dengung.
Mad Ashli, karena ada huruf Alif di fatah, yang dibaca dengan panjang 1 alif atau 2 harakat.
Kata خَالِدِيْنَ mengandung hukum Mad Ashli, karena ada huruf Alif di fatah dan huruf Ya di kasroh. Panjangnya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Kata فِيْهَاۤ أَبَدًاۗ mengandung tiga hukum Mad, yaitu:
Mad Ashli, karena ada huruf Ya di kasroh, panjangnya 1 alif atau 2 harakat.
Mad Jaiz Munfashil, karena ada Mad Ashli yang bertemu dengan Alif atau Hamzah pada kata yang lain, panjangnya bisa 2, 4, atau 5 harakat.
Mad ‘Iwadl, terjadi karena ada Tanwin Fatah yang diwaqofkan dan diubah menjadi Mad Asli, membaca "Abadaa", dengan panjang seperti Mad Ashli, yaitu 1 alif atau 2 harakat.
Kata رَضِيَ اللّٰهُ mengandung hukum Tafkhim (tebal) karena lafaz Allah didahului oleh Fatah pada huruf Ra.
Kata عَنْهُمْ mengandung hukum Izh-har Halqi, karena ada Nun mati yang bertemu dengan huruf Ha. Cara membacanya harus jelas tanpa dengung, dengan menekankan bunyi huruf Nun.
Kata هُمْ وَ mengandung hukum Izh-har Syafawi, karena ada Mim mati yang bertemu dengan huruf Wawu. Cara membacanya harus jelas tanpa dengung, dengan menekankan bunyi huruf Mim.
Kata وَرَضُوْا mengandung dua hukum:
Tafkhim (tebal) pada huruf Ro, karena huruf tersebut berharakat Fatah.
Mad Ashli, karena ada huruf Wawu di dlommah, yang panjangnya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Kata عَنْهُ mengandung hukum Izh-har Halqi, karena ada Nun mati yang bertemu dengan huruf Ha. Cara membacanya adalah dengan jelas melafalkan huruf Nun tanpa dengung.
Kata ذٰلِكَ mengandung hukum Mad Ashli, karena ada huruf Alif dengan fatah. Panjang bacaannya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Pada bagian لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ, terdapat dua hukum:
Izh-har Halqi: Terjadi karena ada Nun mati bertemu dengan huruf Kho. Cara membacanya tidak boleh dengung, melainkan harus jelas bunyi huruf Nun-nya.
Tafkhim: Terjadi pada huruf Ro, yang dibaca tebal (Tafkhim) karena berharakat fatah.
Penerapan hukum tajwid dalam Surat Al-Bayyinah tidak hanya membantu memperbaiki pelafalan, tetapi juga memperindah bacaan Al-Qur’an dengan memperhatikan setiap detail aturan tajwid yang ada.
Setiap hukum tajwid yang diterapkan pada ayat-ayat dalam surat ini memiliki peran penting dalam menjaga kejelasan, kelancaran, dan kesempurnaan bacaan. MG/Raffirabbani Panatamahdi Adizaputra
Baca juga: Hukum Tajwid Surat Asy Syams Ayat 1-15 Lengkap Beserta Cara Membacanya
Hukum tajwid membantu kita melafalkan setiap ayat dengan tartil sesuai kaidah yang benar, sehingga bacaan menjadi lebih indah dan penuh makna.
Dalam artikel ini, kita akan mengulas berbagai hukum tajwid yang terdapat dalam Surat Al-Bayyinah, lengkap dengan penjelasan dan contoh aplikasinya, sebagai panduan praktis untuk memperbaiki kualitas bacaan Al-Qur'an Anda.
Hukum Tajwid Surat Al-Bayyinah
Al-Bayyinah 98:1لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتّٰى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ (١)
Artinya :
Orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak akan meninggalkan (agama mereka) sampai datang kepada mereka bukti yang nyata,
لَمْ يَ, Ini merupakan hukum Idzhar Syafawi (harus dibaca jelas tanpa dengung), karena huruf mim mati bertemu dengan huruf Ya.
Terdapat satu hukum tajwid pada bacaan يَكُنِ الَّذِينَ, yaitu Mad Ashli, karena ada huruf Ya yang diberi harakat kasrah. Pembacaannya panjangnya satu alif atau dua harakat.
Pada bacaan كَفَرُوا, terdapat hukum Mad Ashli, karena ada huruf Wawu yang diberi harakat dhommah. Pembacaannya panjangnya satu alif atau dua harakat.
Pada bacaan مِنْ أَهْلِ, terdapat hukum Izh-har Halqi. Hal ini terjadi karena ada nun mati yang bertemu dengan huruf Alif. Membacanya harus jelas tanpa dengung, dengan suara yang keluar dari tenggorokan (halqi).
Pada bacaan أَهْلِ الْكِتَابِ, terdapat dua hukum tajwid:
Alif Lam Qomariyah: Hukum ini diterapkan karena ada Alif Lam yang bertemu dengan huruf kaf (ك), yang merupakan salah satu huruf qamariyah. Pembacaan Alif Lam Qomariyah harus dibaca jelas, tanpa meleburkan suara lam ke huruf setelahnya.
Mad Ashli: Hukum ini terjadi karena ada huruf Alif yang berharakat fathah. Mad Ashli dibaca panjangnya 1 alif atau 2 harakat, yang mengacu pada pembacaan huruf Alif yang diberi fathah.
Pada bacaan وَالْمُشْرِكِينَ, terdapat dua hukum tajwid sebagai berikut:
Alif Lam Qomariyah: Hukum ini diterapkan karena adanya Alif Lam yang bertemu dengan huruf mim (م), yang merupakan salah satu huruf qamariyah. Pembacaan Alif Lam Qamariyah harus dibaca jelas, tanpa meleburkan suara lam ke huruf setelahnya.
Mad Ashli: Hukum ini berlaku karena ada huruf Ya yang berharakat kasrah. Mad Ashli dibaca panjangnya 1 alif atau 2 harakat, mengacu pada pembacaan huruf Ya dengan kasrah di bawahnya.
Pada bacaan مُنْفَكِّينَ, terdapat dua hukum tajwid sebagai berikut:
Ikhfa’: Hukum ini diterapkan karena adanya nun mati bertemu dengan huruf fa. Pembacaannya harus disamarkan, yaitu dengan mengeluarkan bunyi "ng" secara samar-samar, tanpa menonjolkan suara nun.
Mad Ashli: Hukum ini berlaku karena ada huruf Ya yang berharakat kasrah. Mad Ashli dibaca dengan panjang 1 alif atau 2 harakat, mengikuti aturan panjang pendeknya bacaan.
Pada bacaan حَتّٰى, terdapat hukum tajwid Mad Ashli. Hal ini disebabkan karena ada harakat fatah berdiri Panjang bacaan Mad Ashli ini adalah 1 alif atau 2 harakat, yang berarti dibaca dengan durasi panjang yang standar sesuai aturan tajwid.
Pada bacaan تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ, terdapat 1 hukum tajwid, yaitu Alif Lam Qomariyah. Hal ini ditandai dengan adanya Alif Lam (ال) yang diikuti tanda sukun. Cara membacanya adalah dengan jelas dan tidak dilebur.
Al-Bayyinah 98:2
رَسُولٌۭ مِّنَ ٱللَّهِ يَتْلُوا۟ صُحُفًۭا مُّطَهَّرَة
Artinya :
(yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang suci (Alquran),
Pada bacaan رَسُوْ, terdapat hukum tajwid Mad Ashli. Hal ini terjadi karena ada huruf wawu yang didlommah (berharakat dhammah). Cara membacanya adalah dengan dipanjangkan 1 alif atau 2 harakat.
Pada bacaan لٌ مِّ, terdapat hukum tajwid Idgham Bighunnah. Hal ini terjadi karena ada tanwin bertemu dengan huruf Mim.
Cara membacanya adalah dengan mendengung saat meleburkan bunyi tanwin ke dalam huruf Mim.
Pada bacaan مِنَ اللّٰهِ, terdapat hukum tajwid Tafkhim (dibaca tebal). Hal ini terjadi karena lafadz اللّٰهِ didahului oleh harakat fathah pada huruf sebelumnya. Cara membacanya adalah dengan menebalkan bunyi lam pada lafadz tersebut.
Pada bacaan يَتْلُوْا, terdapat satu hukum tajwid, yaitu Mad Ashli. Hal ini karena ada huruf Wawu yang didlommah. Panjang bacaan untuk hukum ini adalah 1 alif atau 2 harakat.
Selain itu, huruf Ta yang memiliki tanda sukun dibaca dengan mengeluarkan udara dari sela-sela lidah dan gigi, sehingga bunyinya menyerupai suara “ts”. Hal ini merupakan karakteristik artikulasi (makhraj) huruf Ta.
Pada lafadz صُحُفًا مُّطَهَّرَةً, terdapat satu hukum tajwid, yaitu Idgham Bighunnah. Hal ini terjadi karena Tanwin pada kata صُحُفًا bertemu dengan huruf Mim, sehingga cara membacanya harus didengungkan selama 2-3 harakat.
Selain itu, huruf-huruf yang memiliki tanda tasydid, seperti مّ dan طهَّ, dibaca dengan tekanan atau seolah-olah dilafalkan dua kali. Sementara itu, huruf Ta Marbuthah pada kata مُطَهَّرَةً akan berubah bunyi menjadi Ha jika dibaca dalam keadaan waqaf.
Al-Bayyinah 98:3
فِيهَا كُتُبٌۭ قَيِّمَةٌۭ
Artinya : "di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus (benar).
Pada lafadz فِيْهَا, terdapat hukum tajwid Mad Ashli. Hal ini disebabkan oleh adanya huruf Ya yang berharakat kasrah dan huruf Alif yang berharakat fatah. Panjang bacaan pada hukum ini adalah 1 alif atau 2 harakat.
Pada lafadz كُتُبٌ قَيِّمَةٌ, terdapat satu hukum tajwid, yaitu Ikhfa’ (samar). Hukum ini terjadi karena adanya tanwin yang bertemu dengan huruf Qof. Cara membaca huruf Nun pada tanwin tersebut harus disamarkan, menghasilkan bunyi seperti "ng" yang halus.
Selain itu, huruf-huruf yang bertasydid dalam lafadz ini harus dibaca dengan cara ditekan (hurufnya seperti dobel). Sedangkan Ta Marbutoh (huruf Ta bulat) pada akhir lafadz, jika dihentikan (waqof), akan berubah menjadi bunyi Ha.
Al-Bayyinah 98:4
وَمَا تَفَرَّقَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَـٰبَ إِلَّا مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْهُمُ ٱلْبَيِّنَةُ
Artinya : "Dan tidaklah terpecah belah orang-orang Ahli Kitab melainkan setelah datang kepada mereka bukti yang nyata."
Pada lafadz وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِيْنَ, terdapat satu hukum tajwid, yaitu Mad Ashli. Hukum ini terjadi karena ada huruf Alif yang di fathah dan huruf Ya yang dikasroh. Panjang bacaannya adalah 1 Alif atau 2 Harakat.
Selain itu, pada lafadz ini terdapat huruf yang bertasydid, yang harus dibaca dengan cara ditekan, sehingga huruf tersebut terdengar seperti dobel.
Pada lafadz أُوْتُوا الْكِتَابَ, terdapat dua hukum tajwid, yaitu Mad Ashli dan Alif Lam Qomariyah.
Mad Ashli terjadi karena ada huruf Wawu yang didlommah, dan huruf Alif yang difatah. Panjang bacaannya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Alif Lam Qomariyah terjadi karena ada Alif Lam diikuti sukun pada lafadz الْكِتَابَ.
Namun, perlu diperhatikan bahwa sebelum Alif Lam, ada huruf Wawu didlommah, yang mana tidak dibaca Mad tetapi dimasukkan ke dalam hukum Alif Lam Qomariyah.
Lafadz إِلَّا adalah Mad Ashli, karena terdapat huruf Alif yang difatah. Panjang bacaannya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Lafadz مِنْ بَعْدِ adalah Iqlab, karena terdapat Nun Mati yang bertemu dengan huruf Ba’. Cara membacanya, huruf Nun berubah menjadi huruf Mim, sehingga dibaca “Mim Ba’di”.
Lafadz مَا adalah Mad Ashli, karena terdapat huruf Alif dengan fatah. Panjangnya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Lafadz جَاۤءَ adalah Mad Wajib Muttashil, karena terdapat Mad Ashli yang diikuti oleh Hamzah dalam satu kata. Panjangnya adalah 5 harakat.
Pada lafadz ءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُ, terdapat 1 hukum, yaitu Alif Lam Qomariyah, yang ditandai dengan adanya Alif Lam diikuti oleh sukun.
Selain itu, huruf Ta yang disukun dibaca dengan mengeluarkan udara dari sela-sela lidah dan gigi. Huruf yang bertasydid dibaca dengan cara ditekan (hurufnya dobel). Jika terdapat Ta Marbutoh (Ta bulat) yang di waqof, maka berubah menjadi Ha.
Al-Bayyinah 98:5
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ
Artinya :
Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).
Pada lafadz وَمَاۤ أُمِرُوْا إِلَّا, terdapat 2 hukum:
Mad Jaiz Munfashil, karena ada Mad Ashli yang bertemu dengan huruf Alif pada kata yang berbeda. Panjangnya bisa bervariasi, yaitu 2, 4, atau 5 harakat.
Mad Ashli, karena ada huruf Alif difatah. Panjangnya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Pada lafadz يَعْبُدُوا اللّٰهَ, terdapat hukum Tafkhim (tebal), karena kata اللّٰهَ didahului oleh dhammah pada huruf waw dalam kata يَعْبُدُوا. Oleh karena itu, lafadz ini dibaca dengan suara yang tebal.
Pada lafadz مُخْلِصِيْنَ, terdapat hukum Mad Ashli karena ada huruf Ya yang di kasroh. Panjangnya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Pada ayat لَهُ الدِّيْنَ terdapat dua hukum tajwid, yaitu Alif Lam Syamsiyah dan Mad Ashli:
Alif Lam Syamsiyah: Terdapat Alif Lam yang diikuti oleh huruf dengan tasydid (huruf Da). Dalam pengucapan, huruf Lam tidak terdengar meskipun ada dalam penulisan, ini merupakan ciri khas dari Alif Lam Syamsiyah.
Mad Ashli: Terdapat huruf Ya yang dikasroh. Panjangnya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Pada kata حُنَفَاۤءَ terdapat hukum Mad Wajib Muttashil, karena ada Mad Ashli yang bertemu dengan Hamzah dalam satu kata. Dalam hal ini, panjang madnya adalah 5 harakat.
Pada kata وَيُقِيْمُوا الصَّلَاةَ, terdapat dua hukum tajwid:
Mad Ashli, karena ada huruf Ya di kasroh dan Alif difatah. Panjang madnya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Alif Lam Syamsiyah, karena ada Alif Lam yang diikuti dengan huruf syamsiyah (ص), yang ditandai dengan adanya tanda tasydid. Dalam pengucapan, huruf Lam tidak terdengar, meskipun ada dalam penulisan.
Pada kata وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ, terdapat dua hukum tajwid:
Alif Lam Syamsiyah, karena ada Alif Lam yang diikuti dengan huruf syamsiyah (ز), yang ditandai dengan adanya tanda tasydid. Dalam pengucapan, huruf Lam tidak terdengar, meskipun ada dalam penulisan.
Mad Ashli, karena ada huruf Alif difatah. Panjang madnya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Pada kata وَذٰلِكَ, terdapat hukum Mad Ashli, karena adanya fatah berdiri pada huruf Alif. Panjang madnya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Pada bagian دِيْنُ الْقَيِّمَةِ, terdapat dua hukum tajwid:
Mad Ashli: Terjadi karena adanya huruf Ya yang diikuti dengan kasroh, dengan panjang bacaan 1 alif atau 2 harakat.
Alif Lam Qomariyah: Dikenali dengan adanya Alif Lam yang diikuti dengan Sukun.
Selain itu, huruf Ta Marbutoh (Ta bulat) yang diwaqofkan akan berubah menjadi Ha saat dibaca.
Al-Bayyinah 98:6
إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنْ أَهْلِ ٱلْكِتَـٰبِ وَٱلْمُشْرِكِينَ فِى نَارِ جَهَنَّمَ خَـٰلِدِينَ فِيهَآ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ هُمْ شَرُّ ٱلْبَرِيَّةِ
Artinya :
Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk.
Pada bagian إِنَّ الَّذِينَ, terdapat dua hukum tajwid:
Ghunnah (Dengung): Terjadi karena adanya huruf Nun yang bertasydid. Membacanya harus didengungkan selama 3 harakat dan dengungnya harus konsisten.
Mad Ashli: Terjadi karena adanya huruf Ya yang diikuti dengan kasroh, dengan panjang bacaan 1 alif atau 2 harakat.
Pada kata كَفَرُوْا, terdapat hukum Mad Ashli. Hukum ini terjadi karena ada huruf Wawu yang diikuti dengan dhammah. Panjang bacaan Mad Ashli ini adalah 1 alif atau 2 harakat.
Pada kata مِنْ أَهْلِ, terdapat hukum Izh-har Halqi. Hukum ini berlaku karena ada Nun Mati yang bertemu dengan Alif. Cara membacanya harus jelas tanpa dengung, yaitu dengan mengucapkan Nun secara terang.
Pada kata أَهْلِ الْكِتَابِ, terdapat dua hukum:
Alif Lam Qomariyah, karena ada Alif Lam yang diikuti dengan sukun. Dalam hal ini, huruf Lam tidak terucap secara jelas dalam pengucapan, meskipun terlihat dalam penulisan.
Mad Ashli, karena ada huruf Alif yang difathah. Panjangnya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Pada kata وَالْمُشْرِكِينَ, terdapat dua hukum:
Alif Lam Qomariyah, karena ada Alif Lam yang diikuti dengan sukun. Huruf Lam tidak diucapkan secara jelas dalam pengucapan, meskipun terlihat dalam penulisan.
Mad Ashli, karena ada huruf Ya yang dikasroh. Panjangnya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Pada kata فِيْ نَارِ, terdapat Mad Ashli karena terdapat huruf Ya yang dikasroh dan huruf Alif yang difathah. Panjangnya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Kata جَهَنَّمَ mengandung hukum Ghunnah karena terdapat huruf Nun yang bertasydid, yang dibaca dengan dengung selama 3 harakat.
Kata خَالِدِيْنَ فِيْهَا mengandung hukum Mad Ashli, karena terdapat huruf Alif dengan fathah dan Ya dengan kasroh, dengan panjang bacaan 1 alif atau 2 harakat.
Kata أُولٰۤئِكَ mengandung hukum Mad Wajib Muttashil, karena terdapat Mad Ashli yang bertemu dengan Hamzah dalam satu kata. Panjang bacaan adalah 5 harakat.
Pada kata هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ, terdapat dua hukum: Izh-har Syafawi dan Alif Lam Qomariyah.
Izh-har Syafawi terjadi karena ada Mim mati yang bertemu dengan huruf Syin, yang berarti tidak boleh dibaca dengan dengung.
Alif Lam Qomariyah terjadi karena ada Alif Lam yang diikuti oleh sukun.
Ta Marbutoh di akhir ayat jika dibaca waqof berubah menjadi Ha.
Al-Bayyinah 98:7
إِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُوْلٰۤئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ
Artinya : "Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itulah sebaik-baik makhluk".
Pada kata إِنَّ الَّذِيْنَ, terdapat dua hukum, yaitu Ghunnah yang dibaca dengan dengung selama 3 harakat karena huruf Nun ditasydid, dan Mad Ashli yang dipanjangkan 1 alif atau 2 harakat karena ada huruf Ya dikasroh.
Pada kata اٰمَنُوْا, terdapat dua hukum mad, yaitu Mad Badal, yang terjadi karena adanya Alif berharakat Fathah berdiri, dan Mad Ashli, yang terjadi karena adanya Wawu di dlommah. Keduanya dibaca dengan panjang 1 alif atau 2 harakat.
Pada kata وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ, terdapat dua hukum, yaitu Alif Lam Syamsiyah dan Mad Ashli. Alif Lam Syamsiyah ditandai dengan adanya Alif Lam dan tanda Tasydid, di mana huruf Wawu yang ada sebelum Alif Lam tidak dibaca panjang, melainkan dimasukkan ke dalam hukum Alif Lam Syamsiyah. Sedangkan Mad Ashli terjadi karena adanya Alif di fathah, yang dibaca dengan panjang 1 alif atau 2 harakat.
Kata أُوْلٰۤئِكَ ini termasuk dalam hukum Mad Wajib Muttashil, karena terdapat Mad Ashli yang bertemu dengan Hamzah dalam satu kata. Panjang bacaan untuk hukum ini adalah 5 harakat.
Kata هُمْ خَ ini termasuk dalam hukum Izh-har Syafawi, karena ada Mim mati yang bertemu dengan huruf Kho. Cara membacanya adalah tanpa dengung, sehingga bunyi huruf Mim harus jelas dan tegas.
Kata خَيْرُ ini termasuk dalam Huruf Lin atau Haraf Lin, karena terdapat huruf Ya yang disukun setelah huruf sebelumnya yang berharakat Fatah.
Kata رُ الْبَرِيَّةِ ini mengandung 1 hukum, yaitu Alif Lam Qomariyah, yang ditandai dengan adanya Alif Lam dan Sukun. Selain itu, Ta Marbutoh di akhir ayat, saat waqof, berubah menjadi huruf Ha.
Al-Bayyinah 98:8
جَزَآؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّـٰتُ عَدْنٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًۭا ۖ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِىَ رَبَّهُۥ
Artinya :Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Ādn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.
Kata جَزَاۤؤُهُمْ ini termasuk dalam Mad Wajib Muttashil, karena terdapat Mad Ashli yang bertemu dengan Hamzah dalam satu kata. Panjang bacaan untuk mad ini adalah 5 harakat.
Kata هُمْ عِ ini termasuk dalam Izh-har Syafawi, karena ada Mim mati yang bertemu dengan huruf ‘Ain. Cara membacanya tidak boleh dengung, tetapi bunyi huruf Mim harus jelas terdengar.
Kata عِنْدَ ini termasuk dalam Ikhfa’ (samar), karena ada Nun mati yang bertemu dengan huruf Dal. Cara membacanya adalah dengan menyamarkan bunyi huruf Nun.
Kata رَبِّهِمْ ini memiliki hukum Tafkhim (tebal) pada huruf Ro karena huruf tersebut berharakat Fatah.
Kata هِمْ جَ ini memiliki hukum Izh-har Syafawi karena ada Mim mati bertemu dengan huruf Jim. Cara membacanya tidak boleh dengung, tetapi harus jelas bunyi huruf Mim-nya.
Kata جَنَّاتُ ini mengandung 2 hukum, yaitu Ghunnah dan Mad Ashli. Ghunnah terjadi karena ada huruf Nun yang ditasydid, dan cara membacanya didengungkan selama 3 harakat. Mad Ashli terjadi karena ada huruf Alif di fatah, sehingga dibaca dipanjangkan 1 alif atau 2 harakat.
Kata عَدْنٍ تَجْرِيْ mengandung 3 hukum, yaitu Qolqolah Sughro, Ikhfa’, dan Mad Ashli. Qolqolah Sughro terjadi karena ada huruf Qolqolah yang disukun, yaitu huruf Dal dan Jim, yang dibaca dengan pantulan. Ikhfa’ terjadi karena ada Tanwin yang bertemu dengan huruf Ta, sehingga dibaca dengan samar (seperti bunyi “NG”). Mad Ashli terjadi karena ada huruf Ya di kasroh, yang dibaca dipanjangkan 1 alif atau 2 harakat.
Kata مِنْ تَ mengandung hukum Ikhfa’ (samar), karena ada Nun mati yang bertemu dengan huruf Ta. Cara membacanya adalah dengan menyamarkan bunyi huruf Nun, seperti bunyi "NG".
Kata تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ mengandung 3 hukum:
Alif Lam Qomariyah, karena ada Alif Lam dan sukun, yang berarti huruf Lam dibaca jelas dengan suara yang tidak disamarkan.
Izh-har Halqi, karena ada Nun mati yang bertemu dengan huruf Ha, yang artinya huruf Nun dibaca jelas tanpa dengung.
Mad Ashli, karena ada huruf Alif di fatah, yang dibaca dengan panjang 1 alif atau 2 harakat.
Kata خَالِدِيْنَ mengandung hukum Mad Ashli, karena ada huruf Alif di fatah dan huruf Ya di kasroh. Panjangnya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Kata فِيْهَاۤ أَبَدًاۗ mengandung tiga hukum Mad, yaitu:
Mad Ashli, karena ada huruf Ya di kasroh, panjangnya 1 alif atau 2 harakat.
Mad Jaiz Munfashil, karena ada Mad Ashli yang bertemu dengan Alif atau Hamzah pada kata yang lain, panjangnya bisa 2, 4, atau 5 harakat.
Mad ‘Iwadl, terjadi karena ada Tanwin Fatah yang diwaqofkan dan diubah menjadi Mad Asli, membaca "Abadaa", dengan panjang seperti Mad Ashli, yaitu 1 alif atau 2 harakat.
Kata رَضِيَ اللّٰهُ mengandung hukum Tafkhim (tebal) karena lafaz Allah didahului oleh Fatah pada huruf Ra.
Kata عَنْهُمْ mengandung hukum Izh-har Halqi, karena ada Nun mati yang bertemu dengan huruf Ha. Cara membacanya harus jelas tanpa dengung, dengan menekankan bunyi huruf Nun.
Kata هُمْ وَ mengandung hukum Izh-har Syafawi, karena ada Mim mati yang bertemu dengan huruf Wawu. Cara membacanya harus jelas tanpa dengung, dengan menekankan bunyi huruf Mim.
Kata وَرَضُوْا mengandung dua hukum:
Tafkhim (tebal) pada huruf Ro, karena huruf tersebut berharakat Fatah.
Mad Ashli, karena ada huruf Wawu di dlommah, yang panjangnya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Kata عَنْهُ mengandung hukum Izh-har Halqi, karena ada Nun mati yang bertemu dengan huruf Ha. Cara membacanya adalah dengan jelas melafalkan huruf Nun tanpa dengung.
Kata ذٰلِكَ mengandung hukum Mad Ashli, karena ada huruf Alif dengan fatah. Panjang bacaannya adalah 1 alif atau 2 harakat.
Pada bagian لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ, terdapat dua hukum:
Izh-har Halqi: Terjadi karena ada Nun mati bertemu dengan huruf Kho. Cara membacanya tidak boleh dengung, melainkan harus jelas bunyi huruf Nun-nya.
Tafkhim: Terjadi pada huruf Ro, yang dibaca tebal (Tafkhim) karena berharakat fatah.
Penerapan hukum tajwid dalam Surat Al-Bayyinah tidak hanya membantu memperbaiki pelafalan, tetapi juga memperindah bacaan Al-Qur’an dengan memperhatikan setiap detail aturan tajwid yang ada.
Setiap hukum tajwid yang diterapkan pada ayat-ayat dalam surat ini memiliki peran penting dalam menjaga kejelasan, kelancaran, dan kesempurnaan bacaan. MG/Raffirabbani Panatamahdi Adizaputra
Baca juga: Hukum Tajwid Surat Asy Syams Ayat 1-15 Lengkap Beserta Cara Membacanya
(wid)