Kisah Sufi: Namus Si Agas dan Gajah, Ilustrasi Tajam tentang Kesia-siaan Hidup
Kamis, 12 Desember 2024 - 12:41 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kisah Sufi, Putri yang Tidak Patuh
Kali ketiga, dengan sekuat tenaga dalam hasratnya yang sudah di ubun-ubun untuk menyampaikan kata-kata fasihnya, ia berteriak: "Wahai gajah, ketahuilah bahwa aku, Namus Si Cerdik, pamit untuk pergi dari rumahku dan tungku perapianku, meninggalkan kediamanku di telingamu ini yang telah kutempati sekian lama. Dan kepergianku ini karena alasan yang penting dan mendesak yang akan kukatakan juga kepadamu."
Sekarang akhirnya suara agas itu menyentuh saraf-saraf pendengaran gajah tersebut, dan seruan agas itu pun terdengar olehnya. Sementara gajah itu mencerna perkataan itu, Namus berteriak lagi: "Apa jawabmu atas beritaku ini? Bagaimana perasaanmu tentang keberangkatanku sebentar lagi?"
Gajah itu menengadahkan kepalanya yang besar itu dan mendengus pelan. Dalam dengusan itu terkandung kata-kata: "Pergilah dalam damai --sebab sesungguhnya kepergianmu sama menarik dan pentingnya bagiku seperti kedatanganmu."
***
Baca juga: Kisah Sufi: Berharga dan Tak Berharga
Idries Shah dalam bukunya berjudul "Tales of The Dervishes" yang diterjemahkan Ahmad Bahar menjadi "Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi" menjelaskan kisah Namus Si Cerdik sekilas barangkali tampak sebagai ilustrasi tajam tentang kesia-siaan hidup. Bagi seorang Sufi , penafsiran semacam itu hanya bisa muncul karena ketidakpekaan pembaca.
Yang hendak ditekankan di sini adalah kurangnya kesadaran manusia bahwa segala sesuatu dalam hidup ini memiliki arti penting yang relatif.
Manusia memperlakukan hal-hal yang penting sebagai tidak penting, dan segala yang remeh sebagai hal yang sangat perlu.
Kali ketiga, dengan sekuat tenaga dalam hasratnya yang sudah di ubun-ubun untuk menyampaikan kata-kata fasihnya, ia berteriak: "Wahai gajah, ketahuilah bahwa aku, Namus Si Cerdik, pamit untuk pergi dari rumahku dan tungku perapianku, meninggalkan kediamanku di telingamu ini yang telah kutempati sekian lama. Dan kepergianku ini karena alasan yang penting dan mendesak yang akan kukatakan juga kepadamu."
Sekarang akhirnya suara agas itu menyentuh saraf-saraf pendengaran gajah tersebut, dan seruan agas itu pun terdengar olehnya. Sementara gajah itu mencerna perkataan itu, Namus berteriak lagi: "Apa jawabmu atas beritaku ini? Bagaimana perasaanmu tentang keberangkatanku sebentar lagi?"
Gajah itu menengadahkan kepalanya yang besar itu dan mendengus pelan. Dalam dengusan itu terkandung kata-kata: "Pergilah dalam damai --sebab sesungguhnya kepergianmu sama menarik dan pentingnya bagiku seperti kedatanganmu."
***
Baca juga: Kisah Sufi: Berharga dan Tak Berharga
Idries Shah dalam bukunya berjudul "Tales of The Dervishes" yang diterjemahkan Ahmad Bahar menjadi "Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi" menjelaskan kisah Namus Si Cerdik sekilas barangkali tampak sebagai ilustrasi tajam tentang kesia-siaan hidup. Bagi seorang Sufi , penafsiran semacam itu hanya bisa muncul karena ketidakpekaan pembaca.
Yang hendak ditekankan di sini adalah kurangnya kesadaran manusia bahwa segala sesuatu dalam hidup ini memiliki arti penting yang relatif.
Manusia memperlakukan hal-hal yang penting sebagai tidak penting, dan segala yang remeh sebagai hal yang sangat perlu.
(mhy)
Lihat Juga :