Apakah Perjalanan Nabi SAW saat Isra Mikraj dengan Raga atau Roh-nya Saja?
Kamis, 16 Januari 2025 - 05:15 WIB
loading...
Peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW pada malam 27 Rajab satu tahun sebelum Hijrah merupakan peristiwa agung yang dibenarkan oleh Al-Quran dan Hadis. Foto ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
Apakah Nabi Muhammad SAW melakukan Isra Mikraj dengan raga beliau atau rohnya saja? Bagaimana penjelasan Al Qur'an?
Peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW pada malam 27 Rajab satu tahun sebelum Hijrah merupakan peristiwa agung yang dibenarkan oleh Al-Qur'an dan Hadis. Para Ulama mengatakan Isra Mikraj ini termasuk mukjizat besar Nabi Muhammad SAW.
Dalam Surat Al-Isra ayat 1 memang tidak dijelaskan secara detail apakah Nabi Muhammad SAW melakukan Isra dengan roh dan jasadnya ataukah ruhnya saja. Para Mufassir pun berbeda pendapat mengenai hal tersebut.
Berikut firman-Nya:
Artinya: "Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS Al-Isra ayat 1)
Mengutip tafsir Kemenag, mayoritas Mufasir berpendapat bahwa Isra dilakukan dengan roh dan jasad dalam keadaan sadar, bukan dalam keadaan tidur. Mereka menyampaikan beberapa alasan untuk menguatkan pendapatnya di antaranya:
Pertama, kata "Subhana" dalam ayat 1 Surat Al-Isra menunjukkan adanya peristiwa hebat (luar biasa). Jika Nabi di-isra'-kan dalam keadaan tidur, tidak perlu diungkapkan dengan menggunakan ayat yang didahului dengan Tasbih.
Kedua, andaikata Isra itu dilakukan dalam keadaan tidur, tentulah orang Quraisy tidak dengan serta merta mendustakannya. Banyaknya orang muslim yang murtad kembali karena peristiwa Isra menunjukkan bahwa peristiwa itu bukanlah hal yang biasa.
Kata-kata Ummu Hani yang melarang Nabi menceritakan kepada siapa pun pengalaman yang dialami ketika Isra' agar mereka tidak menganggap Nabi berdusta, juga menguatkan bahwa Isra' itu dilakukan Nabi Muhammad dengan roh dan jasadnya.
Peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW pada malam 27 Rajab satu tahun sebelum Hijrah merupakan peristiwa agung yang dibenarkan oleh Al-Qur'an dan Hadis. Para Ulama mengatakan Isra Mikraj ini termasuk mukjizat besar Nabi Muhammad SAW.
Dalam Surat Al-Isra ayat 1 memang tidak dijelaskan secara detail apakah Nabi Muhammad SAW melakukan Isra dengan roh dan jasadnya ataukah ruhnya saja. Para Mufassir pun berbeda pendapat mengenai hal tersebut.
Berikut firman-Nya:
سُبۡحٰنَ الَّذِىۡۤ اَسۡرٰى بِعَبۡدِهٖ لَيۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَـرَامِ اِلَى الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِىۡ بٰرَكۡنَا حَوۡلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنۡ اٰيٰتِنَا ؕ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيۡعُ الۡبَصِيۡرُ
Artinya: "Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS Al-Isra ayat 1)
Mengutip tafsir Kemenag, mayoritas Mufasir berpendapat bahwa Isra dilakukan dengan roh dan jasad dalam keadaan sadar, bukan dalam keadaan tidur. Mereka menyampaikan beberapa alasan untuk menguatkan pendapatnya di antaranya:
Pertama, kata "Subhana" dalam ayat 1 Surat Al-Isra menunjukkan adanya peristiwa hebat (luar biasa). Jika Nabi di-isra'-kan dalam keadaan tidur, tidak perlu diungkapkan dengan menggunakan ayat yang didahului dengan Tasbih.
Kedua, andaikata Isra itu dilakukan dalam keadaan tidur, tentulah orang Quraisy tidak dengan serta merta mendustakannya. Banyaknya orang muslim yang murtad kembali karena peristiwa Isra menunjukkan bahwa peristiwa itu bukanlah hal yang biasa.
Kata-kata Ummu Hani yang melarang Nabi menceritakan kepada siapa pun pengalaman yang dialami ketika Isra' agar mereka tidak menganggap Nabi berdusta, juga menguatkan bahwa Isra' itu dilakukan Nabi Muhammad dengan roh dan jasadnya.
Lihat Juga :