Mengembalikan Kemuliaan Nuzulul Qur'an dengan Kesalehan Ritual dan Sosial
Rabu, 19 Maret 2025 - 16:01 WIB
loading...
A
A
A
Ia menguraikan, Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan bahwa setiap ibadah, apakah itu haji, salat, zakat, dan lain-lain, harus dilihat dari efek sosial yang bisa dihasilkan.
“Artinya, puasa atau salat tarawih misalnya, kita lihat dampak positifnya setelah Ramadan. Apakah perilaku sosialnya semakin baik atau justru semakin mengganggu orang lain? Hal ini harus dilihat setelah bulan Ramadan berakhir,” jelas Muammar Bakry.
Sebagai seorang akademisi dan juga ulama yang sering menyoroti isu toleransi dan kerukunan antargolongan, Muammar Bakry pun berharap agar Ramadan yang juga bertepatan dengan perayaan Nyepi ini bisa memberi hikmah bagi semua umat beragama.
Menurutnya, berdekatannya Idul Fitri dengan Nyepi seharusnya membuat umat Islam dan Hindu bisa saling menghargai dalam merayakannya.
“Umat Islam akan lebih nampak syiarnya dengan banyak kegiatan, terutama menjelang Lebaran. Di sisi lain, Hari Raya Nyepi diharapkan bisa menyampaikan pesan untuk membendung diri dari kegiatan-kegiatan yang melibatkan keramaian. Namun, intinya baik Hari Raya Idul Fitri maupun Hari Raya Nyepi diharapkan dapat menggugah jiwa spiritual umat beriman untuk berimplikasi positif pada kepedulian sosial mereka. Itulah inti sebenarnya dari kedua hari raya tersebut,” paparnya.
Lebih lanjut, ia kembali menegaskan pentingnya menjaga kemuliaan Ramadan. Menurutnya, umat Islam secara keseluruhan perlu lebih mawas diri, karena sebenarnya banyak tindakan yang merusak makna bulan Ramadan justru datang dari orang Islam itu sendiri.
“Perlu menjadi perhatian bagi kita mengenai kondisi yang ada di Indonesia. Misalnya, dalam bulan Ramadan, lebih banyak sebenarnya orang Islam sendiri yang melakukan tindakan yang merusak kemuliaan bulan suci Ramadan. Hampir semua pelaku sabung ayam dan minuman keras itu justru orang Muslim,” ujar Muammar Bakry.
Di sisi lain, lanjutnya seringkali non-Muslim justru sangat menghargai orang-orang Muslim yang berpuasa. Bahkan jarang terdengar tindakan-tindakan yang meresahkan masyarakat dilakukan oleh non-Muslim saat bulan Ramadan.
“Jangan sampai umat Islam sendiri yang merusak kemuliaan bulan suci Ramadan,” tandasnya.
“Artinya, puasa atau salat tarawih misalnya, kita lihat dampak positifnya setelah Ramadan. Apakah perilaku sosialnya semakin baik atau justru semakin mengganggu orang lain? Hal ini harus dilihat setelah bulan Ramadan berakhir,” jelas Muammar Bakry.
Sebagai seorang akademisi dan juga ulama yang sering menyoroti isu toleransi dan kerukunan antargolongan, Muammar Bakry pun berharap agar Ramadan yang juga bertepatan dengan perayaan Nyepi ini bisa memberi hikmah bagi semua umat beragama.
Menurutnya, berdekatannya Idul Fitri dengan Nyepi seharusnya membuat umat Islam dan Hindu bisa saling menghargai dalam merayakannya.
“Umat Islam akan lebih nampak syiarnya dengan banyak kegiatan, terutama menjelang Lebaran. Di sisi lain, Hari Raya Nyepi diharapkan bisa menyampaikan pesan untuk membendung diri dari kegiatan-kegiatan yang melibatkan keramaian. Namun, intinya baik Hari Raya Idul Fitri maupun Hari Raya Nyepi diharapkan dapat menggugah jiwa spiritual umat beriman untuk berimplikasi positif pada kepedulian sosial mereka. Itulah inti sebenarnya dari kedua hari raya tersebut,” paparnya.
Lebih lanjut, ia kembali menegaskan pentingnya menjaga kemuliaan Ramadan. Menurutnya, umat Islam secara keseluruhan perlu lebih mawas diri, karena sebenarnya banyak tindakan yang merusak makna bulan Ramadan justru datang dari orang Islam itu sendiri.
“Perlu menjadi perhatian bagi kita mengenai kondisi yang ada di Indonesia. Misalnya, dalam bulan Ramadan, lebih banyak sebenarnya orang Islam sendiri yang melakukan tindakan yang merusak kemuliaan bulan suci Ramadan. Hampir semua pelaku sabung ayam dan minuman keras itu justru orang Muslim,” ujar Muammar Bakry.
Di sisi lain, lanjutnya seringkali non-Muslim justru sangat menghargai orang-orang Muslim yang berpuasa. Bahkan jarang terdengar tindakan-tindakan yang meresahkan masyarakat dilakukan oleh non-Muslim saat bulan Ramadan.
“Jangan sampai umat Islam sendiri yang merusak kemuliaan bulan suci Ramadan,” tandasnya.
(shf)
Lihat Juga :