Hari Kartini, Begini Persamaan Wanita dan Pria dalam Pandangan Al Quran
Senin, 21 April 2025 - 08:12 WIB
loading...
A
A
A
Tetapi yang terasa aktual di dalam kisah ini sebagaimana disebutkan oleh Al Qur'an, bahwa kesesatan itu ditujukan kepada setan, bukan kepada Hawa. "Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula...." (QS Al Baqarah: 36)
Bukan semata-mata Hawa yang memakan buah pohon itu, bukan dia yang memulai, tetapi kesalahan itu dari Adam dan Hawa secara sama-sama, sebagaimana penyesalan dan taubat itu dilakukan oleh keduanya:
Keduanya berkata, "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, maka pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." ( QS Al A'raf :23)
Bahkan di dalam ayat lain, kesalahan itu disandarkan kepada Adam saja: "Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak kami dapati padanya kemauan yang kuat." (QS Thaha: 115)
"Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya (Adam), dengan berkata, "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa." ( QS Thaha : 120)
"Dan durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah ia." (QS Thaha: 121)
"Kemudian Tuhannya memilihnya, maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk." (QS Thaha: 122)
Ini semua membuktikan bahwa Adamlah yang berbuat maksiat, sedangkan isterinya sekadar mengikut.
Baca juga: Hadis-hadis tentang Memuliakan Wanita dalam Islam
Bagaimanapun keadaannya, maka kesalahan Hawa hanya dia yang menanggung, sedangkan anak turunnya terlepas dari perbuatan itu dan dari dosanya. Karena dosa seseorang tidak bisa ditimpakan kepada orang lain. Allah SWT berfirman:
"Itu adalah ummat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan." (QS Al Baqarah : 134,141)
Bukan semata-mata Hawa yang memakan buah pohon itu, bukan dia yang memulai, tetapi kesalahan itu dari Adam dan Hawa secara sama-sama, sebagaimana penyesalan dan taubat itu dilakukan oleh keduanya:
Keduanya berkata, "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, maka pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." ( QS Al A'raf :23)
Bahkan di dalam ayat lain, kesalahan itu disandarkan kepada Adam saja: "Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak kami dapati padanya kemauan yang kuat." (QS Thaha: 115)
"Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya (Adam), dengan berkata, "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa." ( QS Thaha : 120)
"Dan durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah ia." (QS Thaha: 121)
"Kemudian Tuhannya memilihnya, maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk." (QS Thaha: 122)
Ini semua membuktikan bahwa Adamlah yang berbuat maksiat, sedangkan isterinya sekadar mengikut.
Baca juga: Hadis-hadis tentang Memuliakan Wanita dalam Islam
Bagaimanapun keadaannya, maka kesalahan Hawa hanya dia yang menanggung, sedangkan anak turunnya terlepas dari perbuatan itu dan dari dosanya. Karena dosa seseorang tidak bisa ditimpakan kepada orang lain. Allah SWT berfirman:
"Itu adalah ummat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan." (QS Al Baqarah : 134,141)
Lihat Juga :