Kisah Gila Mereka yang Disebut Sebagai Para Penggila Tuhan
Senin, 07 September 2020 - 06:01 WIB
loading...
A
A
A
Kenekatan para penggila Tuhan itu sesuatu yang baik. Mereka tak dapat mengatakan apakah jalan itu baik atau buruk, mereka hanya tahu bagaimana berbuat.
Baca juga: 6 Megaproyek Termahal, dari Jalan Tol hingga Membangun Kota Masa Depan
Seorang Gila yang Suci
Hudhud melanjutkan, "Seorang penggila Tuhan pergi dengan telanjang dan dalam keadaan lapar menyusuri jalan di musim dingin. Tanpa rumah maupun tempat berlindung ia basah kuyup karena hujan dan salju cair. Akhirnya ia sampai ke sebuah reruntuhan istana, dan memutuskan untuk berlindung di sana, tetapi ketika ia masuk ke ambang pintu, sebuah genting jatuh menimpa kepalanya dan meretakkan batok kepalanya, sehingga darah pun mengalir. Ia menengadahkan wajahnya ke langit dan berkata, "Tidakkah lebih baik memukul genderang kerajaan ketimbang menjatuhkan sebuah genting di atas kepalaku?"
Doa Orang Gila
Ada paceklik di Mesir , begitu mencemaskan sehingga di mana-mana orang-orang hampir mati ketika mereka mengemis roti. Kebetulan seorang gila lewat dan melihat betapa banyaknya yang binasa karena kelaparan, maka sembahnya pada Tuhan, "O Tuan yang memiliki segala yang baik di dunia dan dalam agama, karena Tuan tak dapat memberi makan semua orang, maka ciptakanlah lebih sedikit kiranya."
Baca juga: Megaproyek Kilang Nasional Diyakini Bisa Selesai Tepat Waktu
Jika yang memberanikan diri di istana hendak mengatakan sesuatu yang tak pantas, dengan rendah hati ia harus mohon ampun.
Orang Gila yang Lain
Seorang Sufi, penggila Tuhan, diganggu anak-anak yang melemparinya dengan batu. Akhirnya ia pun berlindung di pojok sebuah gedung. Tetapi pada saat itu mulai turun hujan es, dan butir-butir es jatuh dari tingkat atap yang terbuka, menimpa kepala si gila itu.
Baca juga: Mulyadi-Ali Mukhni Kembalikan Dukungan, PDIP Pilih Tak Ikut Pilgub Sumbar
Disangkanya butir-butir es itu kerikil-kerikil dan ia pun lalu menjulurkan lidahnya serta memaki anak-anak itu, yang dibayangkannya sedang melemparkan kerikil-kerikil, karena rumah itu gelap. Akhirnya diketahuinya bahwa kerikil-kerikil itu hanya batu-batu es kiranya, dan ia pun menyesal dan berdoa, "O Tuhan, adalah karena rumah ini gelap maka aku telah berdosa dengan lidahku."
Bila kau memahami dasar-dasar perbuatan mereka yang ada dalam kegelapan, kau pun tentu akan memaafkan mereka.
Baca juga: 6 Megaproyek Termahal, dari Jalan Tol hingga Membangun Kota Masa Depan
Seorang Gila yang Suci
Hudhud melanjutkan, "Seorang penggila Tuhan pergi dengan telanjang dan dalam keadaan lapar menyusuri jalan di musim dingin. Tanpa rumah maupun tempat berlindung ia basah kuyup karena hujan dan salju cair. Akhirnya ia sampai ke sebuah reruntuhan istana, dan memutuskan untuk berlindung di sana, tetapi ketika ia masuk ke ambang pintu, sebuah genting jatuh menimpa kepalanya dan meretakkan batok kepalanya, sehingga darah pun mengalir. Ia menengadahkan wajahnya ke langit dan berkata, "Tidakkah lebih baik memukul genderang kerajaan ketimbang menjatuhkan sebuah genting di atas kepalaku?"
Doa Orang Gila
Ada paceklik di Mesir , begitu mencemaskan sehingga di mana-mana orang-orang hampir mati ketika mereka mengemis roti. Kebetulan seorang gila lewat dan melihat betapa banyaknya yang binasa karena kelaparan, maka sembahnya pada Tuhan, "O Tuan yang memiliki segala yang baik di dunia dan dalam agama, karena Tuan tak dapat memberi makan semua orang, maka ciptakanlah lebih sedikit kiranya."
Baca juga: Megaproyek Kilang Nasional Diyakini Bisa Selesai Tepat Waktu
Jika yang memberanikan diri di istana hendak mengatakan sesuatu yang tak pantas, dengan rendah hati ia harus mohon ampun.
Orang Gila yang Lain
Seorang Sufi, penggila Tuhan, diganggu anak-anak yang melemparinya dengan batu. Akhirnya ia pun berlindung di pojok sebuah gedung. Tetapi pada saat itu mulai turun hujan es, dan butir-butir es jatuh dari tingkat atap yang terbuka, menimpa kepala si gila itu.
Baca juga: Mulyadi-Ali Mukhni Kembalikan Dukungan, PDIP Pilih Tak Ikut Pilgub Sumbar
Disangkanya butir-butir es itu kerikil-kerikil dan ia pun lalu menjulurkan lidahnya serta memaki anak-anak itu, yang dibayangkannya sedang melemparkan kerikil-kerikil, karena rumah itu gelap. Akhirnya diketahuinya bahwa kerikil-kerikil itu hanya batu-batu es kiranya, dan ia pun menyesal dan berdoa, "O Tuhan, adalah karena rumah ini gelap maka aku telah berdosa dengan lidahku."
Bila kau memahami dasar-dasar perbuatan mereka yang ada dalam kegelapan, kau pun tentu akan memaafkan mereka.
(mhy)
Lihat Juga :