10 Contoh Hadis Dhaif yang Banyak Beredar di Masyarakat

Jum'at, 09 Mei 2025 - 05:15 WIB
loading...
10 Contoh Hadis Dhaif...
Hadits dhaif adalah hadis yang tidak memenuhi kriteria hadits shahih dan hasan, artinya secara kredibilitas sangat diragukan karena sanadnya tidak bersambung dan di dalam rangkaian sanadnya terdapat perawi yang bermasalah. Foto ilustrasi/ist
A A A
Banyak contoh hadis dhaif yang banyak beredar di masyarakat. Hadis merupakan salah satu sumber hukum Islam yang telah disepakati para ulama sehingga kerap menjadi rujukan bagi umat Muslim.

Hadis adalah segala ucapan (sabda), pernyataan, perbuatan dan ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad shallallahu 'alihi wa sallam (SAW) yang dijadikan hukum dalam agama Islam. Hadis merupakan sumber hukum Islam selain Al Quran, Ijma dan Qiyas.

Adapun macam-macam hadis jika dilihat dari banyak sedikitnya perawi antara lain; hadis mutawatir, hadis ahad, hadis shahih, hadis hasan, hadis dha'if (lemah). Dan hadis dhaif disebabkan oleh kecacatan perawinya antara lain; hadis maudhu', hadis matruk, hadis mungkar, hadis mu'allal, hadis mudhthorib, hadis maqlub, hadis munqalib, hadis mudraj, hadis syadz.

Dai pendiri Quantum Akhyar Institute, Ustaz Adi Hidayat menjelaskan, dalam kitab hadis akan ditemui dua sayap yaitu Matan (isi/subsantsi hadis) dan Sanad (silsilah orang yang meriwayatkan hadis sampai ke Nabi Muhammad SAW). "Keduanya penting, kata ulama ini bagaikan dua sayap burung. Satu sayap terluka maka burungnya tidak bisa terbang, satu sayap terluka maka hadisnya akan turun kualitasnya," terang Dai kelahiran Pandeglang, Banten itu.

Ada hadis yang isinya bagus, tapi riwayatnya bermasalah maka belum tentu hadisnya bisa diterima. Untuk mengetahui hadis benar atau tidak, maka perlu dicek dan melihat perawinya. "Kita kan gak pernah berjumpa dengan Rasulullah SAW, maka telusuri informasinya sampai tersambung kepada Nabi atau disebut dengan Isnad, urutannya disebut Sanad. Sebagaimana dilakukan Imam Muslim yang membuat bab khusus 'babul Isnadi' (bab pembahasan tentang pentingnya sanad),"ungkapnya.

Lantas, apa itu hadis dhaif dan contohnya paling populer di masyarakat?Hadis dhaif berarti hadis yang tidak memenuhi kriteria hadits shahih dan hasan. Artinya secara kredibilitas sangat diragukan. Hal ini bisa terjadi karena sanadnya tidak bersambung dan di dalam rangkaian sanadnya terdapat perawi yang bermasalah.

Meski demikian, nyatanya beberapa hadis dhaif begitu populer di kalangan masyarakat. Bahkan beberapa di antaranya masih dipercaya hingga saat ini.

Berikut 10 Contoh Hadis Dhaif yang Populer di Masyarakat.

1. Hadis tentang Ramadan Dibagi Tiga

مغفرة، وآخره عتق من النار. رواه ابن أبي الدنيا والخطيب وابن عساكر


Dari Abu Hurairah, Ramadhan itu adalah bulan yang awalnya penuh dengan rahmat. Di pertengahannya penuh dengan ampunan. Dan, di ujungnya pembebasan dari api neraka.” (HR Ibnu Abi Dunya dan Ibnu 'Asakir)

فقد روي من حديث سلمان: وهو شهر أوله رحمة وأوسطه مغفرة وآخره عتق من النار. رواه ابن خزيمة في صحيحه 1887 وقال: إن صح. والبيهقي في شعب الإيمان


Artinya: Telah diriwayatkan dari Salman bahwa Ramadan adalah bulan yang awalnya penuh rahmat, Di pertengahannya penuh ampunan dan fase terakhirnya pembebasan dari api neraka. (HR Al Baihaqi dalam Syu'bul Iman).

2. Hadis Bulan Rajab Bulan Allah

إِنَّ رَجَب شَهْرُ اللهِ، وَشَعْبَانَ شَهْرِيْ، وَرَمَضَانَ شَهْرَ أُمَّتِي


Artinya: Sesungguhnya Rajab itu bulannya Allah, dan Sya’ban itu bulanku, dan Ramadan itu bulan ummatku.

3. Hadis Pahala Salat 6 Rakaat

Diriwayatkan oleh Umar bin Rasyid dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah menyatakan bahwa Rasulullah bersabda,

“Barangsiapa yang salat 6 rakaat setelah shalat maghrib dan tidak berbicara sedikitpun di antara salat tersebut, maka baginya sebanding dengan pahala ibadah selama 12 tahun.”

4. Hadis Mencari Ilmu Sampai ke Negeri China

اطلبوا العلم ولو بالصين فإن طلب العلم فريضة على كل مسلم


Artinya: Carilah ilmu meskipun di negeri China, karena mencari ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim.

5. Hadis tentang Tidur dan Diamnya Orang Puasa

الصَّائِمُ فِي عِبَادَةٍ وَإِنْ كَانَ رَاقِدًا عَلَى فِرَاشِهِ


“Orang yang berpuasa itu tetap dalam kondisi beribadah meskipun dia tidur di atas kasurnya“. [HR Tamâm]

Baca juga: Macam-macam Hadis Lengkap dengan Penjelasannya

6. Hadis tentang Puasa Itu Setengah Dari Kesabaran

… وَالصَّوْمُ نِصْفُ الصَّبْرِ وَالطُّهُورُ نِصْفُ الْإِيْمَانِ


“Puasa itu setengah kesabaran dan kesucian itu setengahnya iman“.

Dhaif. Hadis ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 3519 dalam Kitab ad-Dâ’awât, juga diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam Musnad beliau rahimahullah (4/260 dan 5/363) lewat jalur periwayatan Juraisy an-Nahdy dari seorang laki-laki bani (suku) Sulaim.

Sanad hadis ini dha’if, karena Juraisy bin Kulaib ini adalah seorang yang majhûl (tidak dikenal), sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnul Madini rahimahullah (lihat, Tahdzîbut Tahdzîb, 2/78 karya Ibnu Hajar rahimahullah).

7. Hadis tentang Doa Buka Puasa

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَفْطَرَ قَالَ : اللَّهُمَّ لَكَ صُمْنَا وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْنَا فَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ


“Dari Ibnu Abbâs Radhiyallahu ‘anhu, beliau Radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila hendak berbuka, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan :

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْنَا وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْنَا فَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ


“Wahai Allâh! UntukMu kami berpuasa dan dengan rezeki dari Mu kami berbuka. Ya Allâh ! Terimalah amalan kami ! Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui“. [Diriwayatkan oleh Daru Quthni rahimahullah dalam kitab Sunan beliau rahimahullah, Ibnu Sunni dalam kitab ‘Amalul Yaumi wal Lailah, no. 473 dan Thabrani t dalam kitab al-Mu’jamul Kabîr]

Sanad hadis ini sangat lemah (dha’îfun jiddan), karena :
Pertama : Ada seorang rawi yang bernama Abdul Mâlik bin Hârun bin ‘Antarah. Orang ini adalah sseorang rawi yang sangat lemah.
Kedua : Dalam sanad hadits ini terdapat juga orang tua dari Abdul Mâlik yaitu Hârun bin ‘Antarah. Dia ini seorang rawi yang diperselisihkan oleh para Ulama ahli hadits. Imam Daru Quthni rahimahullah menilainya lemah, sedangkan Ibni Hibbân rahimahullah telang mengatakan, “Mungkarul hadîts (orang yang haditsnya diingkari), sama sekali tidak boleh berhujjah dengannya.”

8. Hadis tentang Keutamaan I’tikaf

مَنِ اعْتَكَفَ عَشْرًا فِي رَمَضَانَ كَانَ كَحَجَّتَيْنِ وَعُمْرَتَيْنِ


“Barangsiapa yang beri’tikaf pada sepuluh hari (terakhir) bulan Ramadân, maka dia seperti telah menunaikan haji dan umrah dua kali“.

Diriwayatkan oleh al-Baihaqi rahimahullah dalam kitab beliau Syu’abul Imân dari Husain bin Ali bin Thâlib Radhiyallahu ‘anhuma. hadits ini Maudhû’.

Syaikh al-Albâni rahimahullah dalam kitab beliau Dha’if Jami’ish Shaghiir, no. 5460, mengatakan ,”Maudhû.’ Kemudian beliau rahimahullah menjelaskan penyebab kepalsuan hadits ini dalam kitab beliau rahimahullah Silsilah ad-Dha’ifah, no. 518

Hadits dha’if lain yang hampir senada yaitu :

مَنِ اعْتَكَفَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ


“Barangsiapa yang beri’tikaf atas dasar keimanan dan mengharapkan pahala, maka dia diampuni dosanya yang telah lewat“.

Hadits dha’if riwayat Dailami rahimahullah dalam Musnad Firdaus. Al-Munâwi rahimahullah, dalam kitab beliau Faidhul Qadîr, syarah Ja’mi’ Shaghîr (6/74, no. 8480) mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat rawi yang tidak aku ketahui.”

9. Hadis tentang Ramadan Bulan Terbaik Bagi Kaum Muslimin

مَا أَتَى عَلَى الْمُسْلِمِينَ شَهْرٌ خَيْرٌ لَهُمْ مِنْ رَمَضَانَ وَلَا أَتَى عَلَى الْمُنَافِقِينَ شَهْرٌ شَرٌّ مِنْ رَمَضَانَ


“Tidak ada bulan yang datang kepada kaum Muslimin yang lebih baik daripada Ramadân . dan tidak datang kepada kaum Munafiqin bulan yang lebih buruk daripada bulan Ramadân“.

Hadits ini dha’if. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah (2/330, Fathurrabbani, 9/231-232), Ibnu Khuzaimah, no. 1884 dan lain-lainnya. Semua riwayat ini melalui jalur periwayatan Katsîr bin Zaid rahimahullah dari Amr bin Tamim dari bapaknya dari Abu Hurairah secara marfu’

Al-Haitsami rahimahullah dalam kitabnya Majma’uz Zawâid, 3/140-141 mengatakan, “Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah dan Thabrani rahimahullah dalam kitabnya al-Ausath dari Tamîm dan aku tidak menemukan riwayat hidup Tamîm.” Maksudnya Tamîm (bapaknya Amr) seorang perawi yang majhûl.

Dalam kitab Mizânul I’tidâl, 3/249, adz Dzahabi rahimahullah mengatakan, “Amr bin Tamim dari bapaknya dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu tentang keutamaan bulan Ramadhân. Dan dari Amr, hadits ini diriwayatkan oleh Katsîr bin Zaid. Tentang Amr bin Tamim, Imam Bukhâri rahimahullah mengatakan, ‘Haditsnya perlu diteliti (Fi hadîtsihi nazhar).”

Ini adalah salah satu istilah Imam Bukhâri dalam mengkritik dan menerangkan cacat perawi yang sangat halus akan tetapi makna dan maksudnya dalam sekali. Apabila Imam Bukhâri mengatakan, “Fiihi nazhar atau fi haditsihi nazhar, maka perawi itu derajatnya lemah atau bahkan sangat lemah. ”

10. Hadis tentang Mengqadha Puasa Ramadan dengan Cara Berturut-Turut

مَنْ كَانَ عَلَيْهِ صَوْمُ رَمَضَانَ فَلْيَسْرُدْهُ وَلاَ يَقْطَعْهُ


“Barangsiapa yang memiliki tanggungan shaum (puasa) Ramadhân, maka hendaknya dia mengqadha’nya dengan cara berturut-turut dan tidak diputus-putus (selang-seling)“.

Hadits ini dha’if. Hadits ini diriwayatkan oleh Daru Quthni rahimahullah dalam sunannya, 2/191-192 dan al-Baihaqi dalam sunan beliau, 2/259 lewat jalur Abdurrahman bin Ibrahim al Qâsh dari ‘Alâ bin Abdurrahman dari bapaknya dari Abu Hurairah (ia mengatakan), Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : (seperti hadis di atas).

Sanad hadits ini dha’if (lemah), karena Abdurrahman bin Ibrahim al Qâsh adalah seorang rawi yang dha’if (lemah).Ad-Daaru Quthni rahimahullah mengatakan, “Abdurrahman bin Ibrahim al Qâsh adalah dha’îful hadîts (orang yang haditsnya lemah).”

Al Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam kitabnya Talkhishul Habîr ,2/260, no. 920 mengatakan, “Ibnu Abil Hâtim rahimahullah telah menerangkan bahwa bapaknya yaitu Abu Hâtim telah mengingkari hadis ini karena ada Abdurrahman.”

Al-Baihaqi rahimahullah mengatakan, “Dia (Abdurrahman bin Ibrahim al Qâsh) telah dinilai lemah oleh Ibnu Ma’in rahimahullah, Nasa’i rahimahullah dan Daru Quthni rahimahullah.”

Demikianlah beberapa contoh hadis dha’if yang banyak beredar di masyarakat. semoga bermanfaat.

Baca juga: Bolehkah Menggunakan Hadis Dhaif, Maudhu dan Mengamalkannya?
(wid)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
9 Hadis tentang Pernikahan,...
9 Hadis tentang Pernikahan, Kaum Muslim Wajib Tahu!
Selain Al Quran, Inilah...
Selain Al Quran, Inilah 5 Hadis Tentang Perintah Haji
Ayat Al Quran dan Hadis...
Ayat Al Quran dan Hadis Tentang Dalil Ibadah Umrah
Dalil Hadis Tentang...
Dalil Hadis Tentang Anjuran Puasa Sunnah di Bulan Zulkaidah
Penjelasan Hadis tentang...
Penjelasan Hadis tentang Kemunculan dan Fitnah Dajjal
Mengenal Hadis-hadis...
Mengenal Hadis-hadis tentang Pernikahan, Simak Biar Lebih Paham!
Rekomendasi
Diterjang Badai Debu,...
Diterjang Badai Debu, Astronot Deteksi Petir di Mars
Fenomena Matahari di...
Fenomena Matahari di Swedia Bisa Dilihat hampr 24 Jam
Patahan Bumi Raksasa...
Patahan Bumi Raksasa Tersembunyi Ditemukan di Titik Rawan Gempa
Artikel Terkini
Tak Banyak yang Tahu,...
Tak Banyak yang Tahu, Ini 7 Larangan di Bulan Muharram
Mengenal Keutamaan Puasa...
Mengenal Keutamaan Puasa Asyura, Puasa Sehari Penghapus Dosa Setahun
Mengenal 3 Amalan Utama...
Mengenal 3 Amalan Utama Bulan Muharram, Sayang untuk Dilewatkan!
Muharram dan Lahirnya...
Muharram dan Lahirnya Kalender Hijriyah: Kisah di Balik Penanggalan Umat Islam
Kapan Tahun Baru Islam...
Kapan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriyah?
7 Kisah Para Nabi di...
7 Kisah Para Nabi di Bulan Muharram yang Diabadikan Al Quran
Infografis
Abu Musa Jabir Bin Hayyan,...
Abu Musa Jabir Bin Hayyan, Ilmuwan Islam di Bidang Kimia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved