alexametrics

Penanganan Covid-19, Muhammadiyah Gelorakan Semangat Al-Maun

loading...
Penanganan Covid-19, Muhammadiyah Gelorakan Semangat Al-Maun
Rapat bersama Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dengan MCCC dan sejumlah majelis PP Muhammadiyah serta pimpinan amal usaha Muhammadiyah. Foto Dok Muhammadiyah
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dr Agus Taufiqurrahman menyerukan umat Islam untuk terus menggelorakan semangat Al Ma’un dalam penanganan kasus covid-19 yang sudah pandemic global, termasuk Indonesia. Seruan ini disampaikan pada saat rapat antara Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dengan MCCC atau Muhammadiyah Covid-19 Command Center dan sejumlah pimpinan majelis PP Muhammadiyah serta pimpinan amal usaha Muhammadiyah.

Sekadar mengingatkan selama ini Surat Al-Ma'un lekat dalam gerakan Muhammadiyah. Allah berfirman:

اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِ
1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَ
2. Maka itulah orang yang menghardik anak yatim,
وَلَا يَحُضُّ عَلٰي طَعَامِ الْمِسْكِيْنِ
3. dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ
4. Maka celakalah orang yang shalat,
الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَ
5. (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya,
الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَ
6. yang berbuat ria,
وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ
7. dan enggan (memberikan) bantuan.



Bagi Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, agama bukan sekadar teks doktrinal, tapi juga praktik nyata. Ia gemar merujuk Surat al-Maun sebagai contohnya. Terkait wabah corona, Agus mengatakan perlunya dibuka relawan kesehatan, selain dari unsur Rumah Sakit yang dimiliki Muhammadiyah. Juga relawan dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Asiyiyah yang berasal dari fakultas-fakultas kesehatan.

Rapat yang diselenggarakan di ruang Aula PP Muhammadiyah, Jl. Cik DItiro No. 23 Yogyakarta ini juga dilakukan telekonferensiasi dengan RS Muhammadiyah dan Aisyiyah di beberapa wilayah yang menjadi RS rujukan bagi pasien Ciovid-19.

Dalam rapat ini juga dibahas tantangan terkini dan persiapan ke depannya terkait dengan semakin meluasnya persebaran virus Covid-19, anggaran dana, ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD), kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM), dan ketersediaan obat-obatan.

Bantuan Dana
Sementara itu, Lembaga Amil Zakat Infaq Shodaqoh Pimpinan Pusat Muhammadiyah (LazisMu) pada Selasa, 23 Maret lalu menyerahkan bantuan dana sebesar Rp5,5 milyar untuk penanganan Covid-19 kepada Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) PP Muhammadiyah yang kemudian diserahkan kepada MCCC.

Ketua Lazismu Pusat, Hilman Latief, mengatakan bahwa dana-dana bantuan yang masuk melalui Lazismu, khususnya untuk mendanai Tim Covid-19, akan digunakan berbagai pengadaan Alat Pelingung Diri (APD) bagi para tenaga medis, mengupgrade keperluan bangsal atau ruangan di RS yang membutuhkan dana tidak kecil, dan tambahan semangat bagi para tim medis yang bekerja siang dan malam.

Selain itu, lanjut Hilman, sebagai Lembaga Amil Zakat, Lazismu saat ini bersama lembaga amil zakat yang lain juga memikirkan dampak Covid-19 bukan hanya pada aspek kesehatan namun juga aspek sosial ekonomi. Sehingga disepekati ada program-program besar bersama dalam rangka bagaimana juga bisa menyediakan semacam platform untuk kelompok masyarakat yang penghasilannya berbasis harian dan tentu saja ada skema, apa itu insentif atau subsidi dan lainnya. “Mereka adalah bagian dari Mustahiq Zakat,” kata Hilman.

Hilman juga mengajak kepada rekan, kolega, dan teman-teman dari gerakan zakat dan lembaga amil se-Indonesia untuk bisa bersinergi bersama LazisMu.

Sementara itu, Wakil Ketua Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) dr. Aldila S Al-Arfah, MMR mengimbau kepada warga masyarakat bisa tetap tenang dan waspada serta membantu berdonasi bagi orang lain yang kekurangan. “Kemudian bagi tim medis (insan kesehatan) kami berikan support moril yang sebesar-besarnya. Teruslah bergandengan tangan, jangan lupa bahwa Allah SWT senantiasa hadir disetiap langkah-langkah kita, InsyaAllah ini adalah jihad fii sabilillah kita,” ujarnya.
(mhy)
cover top ayah
وَاِذَا مَسَّ الۡاِنۡسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنۡۢبِهٖۤ اَوۡ قَاعِدًا اَوۡ قَآٮِٕمًا ۚ فَلَمَّا كَشَفۡنَا عَنۡهُ ضُرَّهٗ مَرَّ كَاَنۡ لَّمۡ يَدۡعُنَاۤ اِلٰى ضُرٍّ مَّسَّهٗ‌ؕ كَذٰلِكَ زُيِّنَ لِلۡمُسۡرِفِيۡنَ مَا كَانُوۡا يَعۡمَلُوۡنَ
Apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali ke jalan yang sesat, seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk menghilangkan bahaya yang telah menimpanya. Begitulah, orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang mereka kerjakan.

(QS. Yunus:12)
cover bottom ayah
preload video
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak