Setan Senang Melihat Orang Beriman Bersedih
Selasa, 08 September 2020 - 19:44 WIB
loading...
A
A
A
(Baca juga : Istri Tak Taat, Suami Berhak Tidak Menafkahi? )
Di dalam kehidupan ini banyak hal-hal yang datangnya secara spontanitas . Tidak terduga sebelumnya, terkadang kehilangan orang yang dihormati dan dicintai. Terkadang kehilangan harta, keluarga, bahkan harus meninggalkan tanah air. Tabiat kehidupan di dunia sama pula dengan tabiat manusia itu sendiri yang serba penuh ujian dan kesedihan.
Allah Ta'ala berfirman di dalam Al-Qur’an :
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”.(QS Al-Baqarah :155).
(Baca juga : Harga Vaksin Merah Putih Ditaksir Rp74.087 Perdosis )
Kalau manusia pada umumnya pasti mendapatkan ujian, betapa pula orang mukmin yang pasti lebih besar pula dia untuk mendapatkan ujian. Oleh karena itu, tidaklah tercela bila seorang merasa sedih. Itu adalah naluri.
Sedih yang Terpuji dan Tercela
Ada dua jenis kesedihan yang dialami manusia. Menurut Ustadz Ahmad Anshori,Lc., yakni sedih yang terpuji dan sedih yang tercela. "Kedua jenis kesedihan ini sangat bergantung pada penyebabnya,"papar alumni Universitas Islam Madinah tersebut.
Bila kesedihan itu disebabkan karena sesuatu hal yang terpuji, seperti yang dirasakan orang beriman saat melakukan dosa, di mana Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengabarkan bahwa itu adalah tanda iman.
مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَاتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَاتُهُ فَهُوَ الْمُؤْمِنُ
“Barangsiapa yang merasa bergembira karena amal kebaikannya dan sedih karena amal keburukannya, maka ia adalah seorang yang beriman” (HR. Tirmidzi).
(Baca juga : Dahsyat, Bisnis Katering Anjlok 70% Dihantam Corona )
Di dalam kehidupan ini banyak hal-hal yang datangnya secara spontanitas . Tidak terduga sebelumnya, terkadang kehilangan orang yang dihormati dan dicintai. Terkadang kehilangan harta, keluarga, bahkan harus meninggalkan tanah air. Tabiat kehidupan di dunia sama pula dengan tabiat manusia itu sendiri yang serba penuh ujian dan kesedihan.
Allah Ta'ala berfirman di dalam Al-Qur’an :
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”.(QS Al-Baqarah :155).
(Baca juga : Harga Vaksin Merah Putih Ditaksir Rp74.087 Perdosis )
Kalau manusia pada umumnya pasti mendapatkan ujian, betapa pula orang mukmin yang pasti lebih besar pula dia untuk mendapatkan ujian. Oleh karena itu, tidaklah tercela bila seorang merasa sedih. Itu adalah naluri.
Sedih yang Terpuji dan Tercela
Ada dua jenis kesedihan yang dialami manusia. Menurut Ustadz Ahmad Anshori,Lc., yakni sedih yang terpuji dan sedih yang tercela. "Kedua jenis kesedihan ini sangat bergantung pada penyebabnya,"papar alumni Universitas Islam Madinah tersebut.
Bila kesedihan itu disebabkan karena sesuatu hal yang terpuji, seperti yang dirasakan orang beriman saat melakukan dosa, di mana Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengabarkan bahwa itu adalah tanda iman.
مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَاتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَاتُهُ فَهُوَ الْمُؤْمِنُ
“Barangsiapa yang merasa bergembira karena amal kebaikannya dan sedih karena amal keburukannya, maka ia adalah seorang yang beriman” (HR. Tirmidzi).
(Baca juga : Dahsyat, Bisnis Katering Anjlok 70% Dihantam Corona )
Lihat Juga :