Istri Tak Taat, Suami Berhak Tidak Menafkahi?

loading...
Istri Tak Taat, Suami Berhak Tidak Menafkahi?
Salah satu konsekuensi bagi istri yang melakukan perbuatan nusyuz adalah tidak berhak mendapatkan nafkah dari suami ketika ia tidak mau kembali untuk taat terhadap suaminya. Foto ilustrasi/ist
Dalam kehidupan rumah tangga, adanya nafkah disyariatkan untuk menjaga keseimbangan hidup keluarga. Ketika istri diwajibkan untuk taat kepada suami maka pada saat yang bersamaan suami wajib memberi nafkah kepada istri.

Suami yang tidak menafkahi istrinya tanpa udzur syar’i maka ia telah berbuat durhaka. Begitu juga dengan istri yang tidak menaati suaminya maka dia telah berbuat durhaka. Kedurhakaan seperti ini dalam istilah syar’i disebut dengan nusyuz.

Terkadang di dalam rumah tangga, seorang laki-laki diuji dengan kedurhakaan istri ini. Istri nusyûz kepada suami artinya membangkang dan bersikap buruk. (Baca juga :Inilah Manfaat Harta yang Bisa Memborong Pahala)

Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya, bahwa nusyuz seorang istri adalah perilaku yang melampaui batas terhadap suami, contohnya seperti istri yang tidak taat kepada suami, menolak perintahnya, melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan amarahnya dan sejenisnya.

Gambaran perbuatan nusyuz yang dilakukan seorang istri di antaranya adalah: menolak berhubungan intim, keluar rumah tanpa izin (kecuali dalam kondisi darurat dan alasan syar’i), menolak tinggal bersama suami, dan lain sebagainya yang pada intinya keluar dari ketaatan kepada suami.



(Baca juga :Diamnya Perempuan di Rumah Adalah Tanda Kemuliaannya)

Salah satukonsekuensi bagi istri yang melakukan perbuatan nusyuz adalah tidak berhak mendapatkan nafkah dari suami ketika ia tidak mau kembali untuk taat terhadap suaminya. Persoalan ini memang diperselisihkan oleh para ulama, jumhur ulama berpendapat seorang istri yang berbuat nusyuz tidak berhak mendapatkan nafkah dari suaminya dan tidak berhak mendapatkan tempat tinggal. Pendapat yang lain menyatakan bahwa istri tetap berhak mendapatkan nafkah meski telah berbuat nusyuz kepada suaminya.

Pendapat yangsetuju suami berhak tidak memberi nafkah pada istri nusyuz, antara lain dari Syaikh Muhammad bin Qasim. Dalam kitab “Fathul Qarib”, Syaik Muhammad menjelaskan bahwa Nusyuz juga mengakibatkan konsekuensi hukum berupa terputusnya nafkah, “Ada dua hal yang bisa gugur akibat Nusyuz, yakni hak gilir dan hak mendapatkan nafkah,” jelas Syaikh Muhammad.



(Baca juga :Kesalahan Fatal yang Sering Terjadi Tentang Khalwat)
halaman ke-1 dari 2
cover top ayah
وَكَذٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّا شَيٰطِيۡنَ الۡاِنۡسِ وَالۡجِنِّ يُوۡحِىۡ بَعۡضُهُمۡ اِلٰى بَعۡضٍ زُخۡرُفَ الۡقَوۡلِ غُرُوۡرًا‌ ؕ وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوۡهُ‌ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُوۡنَ
Demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan dari jenis manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Dan kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya, maka biarkanlah mereka bersama kebohongan yang mereka ada-adakan.

(QS. Al-An’am:112)
cover bottom ayah
preload video