Mengapa Hari Asyura Begitu Istimewa? Ini Alasannya
Senin, 30 Juni 2025 - 07:57 WIB
loading...
A
A
A
Asyura merupakan hari paling suci di antara semua hari pada bulan tersebut. Ketika Nabi SAW datang ke Madinah, beliau berpuasa pada hari 'Asyura dan mengarahkan umat Islam untuk berpuasa pada hari ini. Tetapi ketika puasa Ramadan diwajibkan, puasa pada hari ini dibuat opsional. Namun, menurut banyak hadis otentik, puasa pada hari Asyura adalah sunnah Nabi SAW .
Baca juga: 3 Amalan Bertabur Pahala di Hari Asyura, Apa Saja?
Keistimewaan puasa 'Asyura ini sebagaimana sabda Beliau SAW: "Dan puasa di hari 'Asyura saya berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan (dosa) setahun yang lalu." (HR Muslim)
Kemudian hari itu pula Fir'aun ditenggelamkan dan terbelahnya laut bagi Nabi Musa 'alaihissalam. Bani Israil pun berpuasa di Hari Asyura sebagai bentuk rasa syukur mereka.
Imam Abu Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Muhammad bin Maisarah berkata:
"Siapa yang melapangkan keluarganya pada hari Asyura maka Allah akan meluaskan rezekinya sepanjang tahun itu". Sufyan berkata: "Telah kami coba maka kami rasakan kebenarannya."
Said bin Jubair dari Ibn Abbas RA berkata, ketika Nabi SAW baru hijrah ke Madinah mendapatkan kaum Yahudi puasa pada hari Asyura , maka beliau bertanya kepada mereka tentang itu.
Jawab mereka: "Hari ini Allah memenangkan Nabi Musa dan Bani Israil terhadap Fir'aun dan kaumnya, maka kami puasa karena mengagungkan hari ini."
Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Kami lebih layak (berhak) mengikuti jejak Musa dari kamu". Maka Nabi SAW menyuruh sahabat berpuasa.
Terkait keistimewaan Hari 'Asyura , Allah Ta'ala memuliakan para Nabi-nabi dengan sepuluh kehormatan, yakni
Baca juga: 3 Amalan Bertabur Pahala di Hari Asyura, Apa Saja?
Keistimewaan puasa 'Asyura ini sebagaimana sabda Beliau SAW: "Dan puasa di hari 'Asyura saya berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan (dosa) setahun yang lalu." (HR Muslim)
Peristiwa Penting di Hari Asyura
Ulama ahli fiqih dan pakar hadis kelahiran Samarkand (Uzbekistan), Imam Abu Laits As-Samarqandi (wafat 373 H) dalam kitabnya Tanbihul Ghafilin, meriwayatkan dari Ikrimah berkata Hari Asyura ialah hari diterimanya tobat Nabi Adam 'alaihissalam. Dan hari itu pula turunnya Nabi Nuh 'alahissalam dari perahunya, maka ia berpuasa sukur kepada Allah subhanahu wa ta'alaKemudian hari itu pula Fir'aun ditenggelamkan dan terbelahnya laut bagi Nabi Musa 'alaihissalam. Bani Israil pun berpuasa di Hari Asyura sebagai bentuk rasa syukur mereka.
Imam Abu Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Muhammad bin Maisarah berkata:
"Siapa yang melapangkan keluarganya pada hari Asyura maka Allah akan meluaskan rezekinya sepanjang tahun itu". Sufyan berkata: "Telah kami coba maka kami rasakan kebenarannya."
Said bin Jubair dari Ibn Abbas RA berkata, ketika Nabi SAW baru hijrah ke Madinah mendapatkan kaum Yahudi puasa pada hari Asyura , maka beliau bertanya kepada mereka tentang itu.
Jawab mereka: "Hari ini Allah memenangkan Nabi Musa dan Bani Israil terhadap Fir'aun dan kaumnya, maka kami puasa karena mengagungkan hari ini."
Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Kami lebih layak (berhak) mengikuti jejak Musa dari kamu". Maka Nabi SAW menyuruh sahabat berpuasa.
Terkait keistimewaan Hari 'Asyura , Allah Ta'ala memuliakan para Nabi-nabi dengan sepuluh kehormatan, yakni