Syaikh Abu Al-Hasan Ali An-Nadwi, Sosok Ulama dan Penulis Terbaik Sirah Nabawiyah
Jum'at, 29 Agustus 2025 - 20:12 WIB
loading...
A
A
A
Bidang kesusastraan Muhammad Iqbal memang sangat mempengaruhi Syaikh An-Nadwi. Syaikh An-Nadwi sendiri dikenal dengan pengetahuannya yang berlimpah dan sangat tajam daya kritisnya.
Visinya yang modern dan integral menjadikannya mampu mengembangkan aktivitas dakwah serta pemikirannya ke berbagai bidang. Hal itu didukung oleh perjalanannya ke hampir semua negara di dunia.
Baca juga: 8 Keutamaan Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW, Salah Satunya Mendidik Jiwa setelah Al Qur'an
Beliaulah pendiri Dewan Ilmu Islam di India dan menjabat sebagai ketuanya hingga akhir hayatnya, anggota Majelis Taksisi Rabithah Alam Islami, anggota Dewan Tinggi Masjid Internasional, anggota Dewan Fiqih Rabithah Alam Islami, anggota Dewan Kerajaan untuk riset peradaban Islam di Jordan, anggota Dewan Ilmu Pengetahuan dan Dewan Bahasa Arab di Damasqus.
Beliau juga anggota luar biasa di Majma Masri, anggota Majelis Pertimbangan di Universitas Madinah, anggota Dewan Pelaksana Darul Mushannifin di India serta pelopor pendirian Pusat Pengkajian Islam Universitas Oxford sekaligus menjadi ketua majelis lektor sejak didirikannya, selain itu beliau juga menjadi kepala Nadwatul Ulama di India.
Beliau telah melengkapi khazanah kepusataakn Islam dengan lebih dari 50 judul buku dengan beragam tema, utamanya pemikiran Islam yang ditulis dalam empat bahasa yang dikuasainya yakni bahasa Arab, Urdu, Perancis dan bahasa Inggris.
Buku-bukunya yang terkenal antara lain “Sirah Nabawiyah”, “Madza Khasiral ‘Alam bi Inhithatil Muslimin” (Kerugian Dunia karena Kemunduran Umat Islam), “Rijalul Fikri Wadda’wah Fil Islam”, “Al-Arkan Al-Arba’ah”, “Asshira’ Bainal Fikrah Islamiyah wa Fikrah Gharbiyyah” dan “Rabbaniyah la Rahbaniyah”.
Beliau wafat di penghujung abad 20, tahun 1999, suatu kehilangan besar bagi umat Islam di seluruh dunia.
Baca juga: Pendapat Ulama Kontemporer Wahbah Al-Zuhayli tentang Toleransi
Visinya yang modern dan integral menjadikannya mampu mengembangkan aktivitas dakwah serta pemikirannya ke berbagai bidang. Hal itu didukung oleh perjalanannya ke hampir semua negara di dunia.
Baca juga: 8 Keutamaan Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW, Salah Satunya Mendidik Jiwa setelah Al Qur'an
Beliaulah pendiri Dewan Ilmu Islam di India dan menjabat sebagai ketuanya hingga akhir hayatnya, anggota Majelis Taksisi Rabithah Alam Islami, anggota Dewan Tinggi Masjid Internasional, anggota Dewan Fiqih Rabithah Alam Islami, anggota Dewan Kerajaan untuk riset peradaban Islam di Jordan, anggota Dewan Ilmu Pengetahuan dan Dewan Bahasa Arab di Damasqus.
Beliau juga anggota luar biasa di Majma Masri, anggota Majelis Pertimbangan di Universitas Madinah, anggota Dewan Pelaksana Darul Mushannifin di India serta pelopor pendirian Pusat Pengkajian Islam Universitas Oxford sekaligus menjadi ketua majelis lektor sejak didirikannya, selain itu beliau juga menjadi kepala Nadwatul Ulama di India.
Beliau telah melengkapi khazanah kepusataakn Islam dengan lebih dari 50 judul buku dengan beragam tema, utamanya pemikiran Islam yang ditulis dalam empat bahasa yang dikuasainya yakni bahasa Arab, Urdu, Perancis dan bahasa Inggris.
Buku-bukunya yang terkenal antara lain “Sirah Nabawiyah”, “Madza Khasiral ‘Alam bi Inhithatil Muslimin” (Kerugian Dunia karena Kemunduran Umat Islam), “Rijalul Fikri Wadda’wah Fil Islam”, “Al-Arkan Al-Arba’ah”, “Asshira’ Bainal Fikrah Islamiyah wa Fikrah Gharbiyyah” dan “Rabbaniyah la Rahbaniyah”.
Beliau wafat di penghujung abad 20, tahun 1999, suatu kehilangan besar bagi umat Islam di seluruh dunia.
Baca juga: Pendapat Ulama Kontemporer Wahbah Al-Zuhayli tentang Toleransi
(wid)
Lihat Juga :