Inilah Pandangan Al-Qur'an Tentang Posisi dan Kedudukan Anak
Rabu, 09 September 2020 - 20:23 WIB
loading...
A
A
A
4. Anak sebagai musuh ('Aduwwun)
Inilah yag paling dikuatirkan. Allah Ta'ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوّاً لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَإِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. At Taghaabun : 14)
(Baca juga : KPK Buka Kemungkinan Jerat Waskita Karya sebagai Tersangka Korporasi )
Anak bisa saja menjadi musuh bagi orang tuanya, ketika orang tua salah dalam mendidik anaknya, atau bisa juga karena kesibukan mereka yang kurang memperhatikan anak-anaknya, atau bisa juga karena salah dalam mengontrol pendidikan mereka, atau juga karena salah dalam memilih tempat mereka belajar.
Banyak contoh dalam kehidupan anak yang menjadi musuh ini, seperti ada anak yang menggugat orang tuanya karena masalah harta warisan, atau ada anak yang rela memilih kekasihnya daripada akidah yang dianutnya sendiri. Dan contoh-contoh buruk lainnya, naudzubilah min dzalik.
Dengan melihat kedudukan seorang anak di dalam Al-Qur’an di atas, yang menjadikan anak sebagai penyejuk hati, sebagai fitnah, sebagai perhiasan dunia atau sebagai musuh adalah tergantung dari orang tuanya. Karena itu, Islam mengajarkan untuk memiliki anak yang baik harus dibentuk dari jauh-jauh hari.
(Baca juga : Harry Kane Terancam Kehilangan Posisi di Timnas Inggris )
Salah satunya, dengan memilih pasangan yang baik dan shalih, membentuk karakter anak yang baik harus dengan keteladanan, sering berkomunikasi dan berinteraksi dengan anak, serta dengan melakukan pembiasaan yang baik sesuai dengan yang dianjurkan oleh syariat.
Wallahu 'Alam
Inilah yag paling dikuatirkan. Allah Ta'ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوّاً لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَإِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. At Taghaabun : 14)
(Baca juga : KPK Buka Kemungkinan Jerat Waskita Karya sebagai Tersangka Korporasi )
Anak bisa saja menjadi musuh bagi orang tuanya, ketika orang tua salah dalam mendidik anaknya, atau bisa juga karena kesibukan mereka yang kurang memperhatikan anak-anaknya, atau bisa juga karena salah dalam mengontrol pendidikan mereka, atau juga karena salah dalam memilih tempat mereka belajar.
Banyak contoh dalam kehidupan anak yang menjadi musuh ini, seperti ada anak yang menggugat orang tuanya karena masalah harta warisan, atau ada anak yang rela memilih kekasihnya daripada akidah yang dianutnya sendiri. Dan contoh-contoh buruk lainnya, naudzubilah min dzalik.
Dengan melihat kedudukan seorang anak di dalam Al-Qur’an di atas, yang menjadikan anak sebagai penyejuk hati, sebagai fitnah, sebagai perhiasan dunia atau sebagai musuh adalah tergantung dari orang tuanya. Karena itu, Islam mengajarkan untuk memiliki anak yang baik harus dibentuk dari jauh-jauh hari.
(Baca juga : Harry Kane Terancam Kehilangan Posisi di Timnas Inggris )
Salah satunya, dengan memilih pasangan yang baik dan shalih, membentuk karakter anak yang baik harus dengan keteladanan, sering berkomunikasi dan berinteraksi dengan anak, serta dengan melakukan pembiasaan yang baik sesuai dengan yang dianjurkan oleh syariat.
Wallahu 'Alam
(wid)
Lihat Juga :