MABIMS Gelar Rukyat Bersama, Hilal Awal Safar 1447 H Terlihat di 3 Titik Utama
Sabtu, 26 Juli 2025 - 19:10 WIB
loading...
A
A
A
Arsad menilai hasil rukyat kali ini menjadi modal penting untuk penyusunan kalender hijriah global yang tengah dibahas di berbagai forum internasional. “Data kita berkontribusi pada wacana kalender hijriah internasional. Indonesia punya pengalaman panjang dan hasil rukyat yang valid, sehingga bisa menjadi rujukan,” tambahnya.
Baca Juga: Pentingnya Tukmaninah dalam Salat, Begini Penjelasannya
Lebih jauh, Arsad menyebut bahwa MABIMS telah merumuskan kriteria baru imkan rukyat (kemungkinan terlihatnya hilal) yang lebih sesuai dengan perkembangan astronomi. “Kriteria baru MABIMS adalah hasil ijtihad kolektif berbasis data ilmiah. Ini akan kita uji konsistensinya di setiap rukyat bersama,” jelasnya.
Dalam konteks sosial keagamaan, Arsad menekankan bahwa keseragaman penanggalan hijriah bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga simbol persatuan umat. “Kalender yang seragam meminimalisasi perbedaan yang bisa membingungkan masyarakat. Rukyat bersama adalah salah satu cara merawat ukhuwah di tengah keragaman,” ujarnya.
Lebih lanjut, Arsad mengajak masyarakat untuk memahami bahwa rukyatulhilal adalah proses ilmiah sekaligus ibadah. “Melihat hilal adalah ibadah yang diperintahkan Nabi. Namun, di era modern, ia juga menjadi sarana penguatan literasi astronomi umat Islam. Ini dua manfaat yang saling melengkapi,” pungkasnya.
Melalui pengamatan hilal di tiga titik utama Indonesia dan sinergi kuat antarnegara MABIMS ini, awal bulan Safar 1447 H pun resmi ditetapkan. "Momentum ini diharapkan menjadi pijakan untuk meningkatkan kapasitas ilmu falak nasional dan memperkuat harmonisasi kalender hijriah kawasan,” tandasnya.
Baca Juga: Pentingnya Tukmaninah dalam Salat, Begini Penjelasannya
Lebih jauh, Arsad menyebut bahwa MABIMS telah merumuskan kriteria baru imkan rukyat (kemungkinan terlihatnya hilal) yang lebih sesuai dengan perkembangan astronomi. “Kriteria baru MABIMS adalah hasil ijtihad kolektif berbasis data ilmiah. Ini akan kita uji konsistensinya di setiap rukyat bersama,” jelasnya.
Dalam konteks sosial keagamaan, Arsad menekankan bahwa keseragaman penanggalan hijriah bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga simbol persatuan umat. “Kalender yang seragam meminimalisasi perbedaan yang bisa membingungkan masyarakat. Rukyat bersama adalah salah satu cara merawat ukhuwah di tengah keragaman,” ujarnya.
Lebih lanjut, Arsad mengajak masyarakat untuk memahami bahwa rukyatulhilal adalah proses ilmiah sekaligus ibadah. “Melihat hilal adalah ibadah yang diperintahkan Nabi. Namun, di era modern, ia juga menjadi sarana penguatan literasi astronomi umat Islam. Ini dua manfaat yang saling melengkapi,” pungkasnya.
Melalui pengamatan hilal di tiga titik utama Indonesia dan sinergi kuat antarnegara MABIMS ini, awal bulan Safar 1447 H pun resmi ditetapkan. "Momentum ini diharapkan menjadi pijakan untuk meningkatkan kapasitas ilmu falak nasional dan memperkuat harmonisasi kalender hijriah kawasan,” tandasnya.
(aww)
Lihat Juga :