Amanah, Perkara Kecil yang Berdampak Besar
Senin, 06 Oktober 2025 - 05:15 WIB
loading...
Sifat amanah ini mencakup kejujuran, dapat dipercaya, dan bertanggung jawab penuh atas tugas-tugas yang diberikan, serta merupakan bagian dari kesempurnaan iman seseorang. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Amanah merupakan kewajiban setiap muslim untuk menjaga dan menunaikan titipan atau kepercayaan yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia, baik itu berupa ibadah kepada-Nya, tanggung jawab terhadap diri sendiri, maupun tanggung jawab sosial kepada sesama manusia dan alam semesta.
Sifat amanah ini mencakup kejujuran, dapat dipercaya, dan bertanggung jawab penuh atas tugas-tugas yang diberikan, serta merupakan bagian dari kesempurnaan iman seseorang. Faktanya, amanah ini sering diremehkan oleh sebagian orang bahkan melalaikannya.
Dalam Islam, seorang muslim diajarkan untuk menjaga amanah , bahkan mewajibkan kita untuk memelihara amanah ini.
Ajaran untuk bersifat amanah ini sejalan dengan perintah Allah dalam firmannya :
“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang Memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat”. Selain itu, Nabi Muhammad juga pernah bersabda tentang amanah, yang diriwayatkan oleh Ahmad, “Tidak ada iman yang sempurna bagi orang yang tidak memiliki sifat amanah, dan tidak ada agama yang sempurna bagi orang yang tidak menepati janji ”. (QS An-Nisa 58)
Baca juga: Apa Itu Nikah Misyar? Benarkah Solusi Pernikahan Wanita Tajir yang Tidak Butuh Nafkah?
Rasulullah sendiri mengaitkan amanah ini dengan iman, seperti dalam sabdanya :
“Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki sifat amanah.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)
Dan seorang mukmin adalah orang yang memegang amanah, karena munafik adalah orang yang suka mengkhianati amanah. Dan akhlak ini tidak dapat diremehkan, sangat penting dalam Islam, disebutkan dalam kitabullah , ini merangkum semua urusan-urusan agama.
Menurut Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary,MA, dalam salah satu kajiannya menjelaskan, kejujuran adalah bagian dan sekaligus penyempurna dari sifat amanah ini. Orang yang telah menanamkan sifat jujur pada dirinya, maka secara otomatis akan lahir sifat amanah itu. Sehingga sifat amanah disebutkan beriringan dengan sifat jujur. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjadikan jujur dan amanah sebagai tanda-tanda iman dan meniadakannya merupakan sifat-sifat kemunafikan.
Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam bersabda, “Tanda orang munafik itu ada tiga; jika berbicara dia berdusta.” Tidak punya sifat jujur. Dan karena tidak adanya sifat jujur pada dirinya, maka melahirkan tanda yang selanjutnya: “Jika dia berjanji dia mengingkari.” Lalu. Dan apabila dia diberi amanah, dia berkhianat.”
Apapun amanah itu, apakah itu jabatan, harta, atau yang lainnya. Dan amanah yang terbesar yang diberikan Allah kepada kita adalah amanah keluarga. "Kita punya anak istri yang mana itu adalah amanah yang kita ambil dengan kalimat Allah. Kita halalkan mereka dengan kalimat Allah, maka itu adalah amanah yang besar yang harus kita pikul. Di situ ada amanah kepemimpinan, amanah harta, amanah anak-anak, maka kita wajib memiliki sifat ini pada diri kita. Dan tiadanya sifat amanah ini merupakan salah satu tanda-tanda munafik,"ungkap Ustadz Abu Ihsan.
Baca juga: Mahar Hak Mutlak Istri, Begini Penjelasannnya
Wallahu A'lam
Sifat amanah ini mencakup kejujuran, dapat dipercaya, dan bertanggung jawab penuh atas tugas-tugas yang diberikan, serta merupakan bagian dari kesempurnaan iman seseorang. Faktanya, amanah ini sering diremehkan oleh sebagian orang bahkan melalaikannya.
Dalam Islam, seorang muslim diajarkan untuk menjaga amanah , bahkan mewajibkan kita untuk memelihara amanah ini.
Ajaran untuk bersifat amanah ini sejalan dengan perintah Allah dalam firmannya :
إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًا
“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang Memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat”. Selain itu, Nabi Muhammad juga pernah bersabda tentang amanah, yang diriwayatkan oleh Ahmad, “Tidak ada iman yang sempurna bagi orang yang tidak memiliki sifat amanah, dan tidak ada agama yang sempurna bagi orang yang tidak menepati janji ”. (QS An-Nisa 58)
Baca juga: Apa Itu Nikah Misyar? Benarkah Solusi Pernikahan Wanita Tajir yang Tidak Butuh Nafkah?
Rasulullah sendiri mengaitkan amanah ini dengan iman, seperti dalam sabdanya :
لاَ إِيمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ
“Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki sifat amanah.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)
Dan seorang mukmin adalah orang yang memegang amanah, karena munafik adalah orang yang suka mengkhianati amanah. Dan akhlak ini tidak dapat diremehkan, sangat penting dalam Islam, disebutkan dalam kitabullah , ini merangkum semua urusan-urusan agama.
Menurut Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary,MA, dalam salah satu kajiannya menjelaskan, kejujuran adalah bagian dan sekaligus penyempurna dari sifat amanah ini. Orang yang telah menanamkan sifat jujur pada dirinya, maka secara otomatis akan lahir sifat amanah itu. Sehingga sifat amanah disebutkan beriringan dengan sifat jujur. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjadikan jujur dan amanah sebagai tanda-tanda iman dan meniadakannya merupakan sifat-sifat kemunafikan.
Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam bersabda, “Tanda orang munafik itu ada tiga; jika berbicara dia berdusta.” Tidak punya sifat jujur. Dan karena tidak adanya sifat jujur pada dirinya, maka melahirkan tanda yang selanjutnya: “Jika dia berjanji dia mengingkari.” Lalu. Dan apabila dia diberi amanah, dia berkhianat.”
Apapun amanah itu, apakah itu jabatan, harta, atau yang lainnya. Dan amanah yang terbesar yang diberikan Allah kepada kita adalah amanah keluarga. "Kita punya anak istri yang mana itu adalah amanah yang kita ambil dengan kalimat Allah. Kita halalkan mereka dengan kalimat Allah, maka itu adalah amanah yang besar yang harus kita pikul. Di situ ada amanah kepemimpinan, amanah harta, amanah anak-anak, maka kita wajib memiliki sifat ini pada diri kita. Dan tiadanya sifat amanah ini merupakan salah satu tanda-tanda munafik,"ungkap Ustadz Abu Ihsan.
Baca juga: Mahar Hak Mutlak Istri, Begini Penjelasannnya
Wallahu A'lam
(wid)
Lihat Juga :