Bulan Berselawat, Keutamaan dan Larangan Menyingkatnya dalam Penulisan
Kamis, 28 Agustus 2025 - 09:31 WIB
loading...
Rabiul Awal atau populer disebut Bulan Maulid adalah bulan untuk berselawat karena bulan kelahiran Nabi Muhammad Shallalahu Alaihi Wassalam dan umat Islam dianjurkan memperbanyak berselawat. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Rabiul Awal atau populer disebut Bulan Maulid adalah bulan untuk berselawat karena bulan kelahiran Nabi Muhammad Shallalahu Alaihi Wassalam dan umat Islam dianjurkan memperbanyak berselawat.
Mengucapkan selawat untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan perkara yang disyariatkan agama. Karena itu umat Islam dilarang menyingkatnya dalam penulisan.
Misalnya, kita tulis Muhammad SAW dengan maksud singkatan dari salallahu ‘alaihi wassalam, maka ini tidak boleh, dilarang. Karena banyak faedah yang tertuang dalam selawat yang dibaca dan diucapkan. Menyingkatnya berarti kehilangan keberkahan selawat.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah menjelaskan, selawat memiliki keutamaan-keutamaan dan faedah yang banyak. Di antaranya, menjalankan perintah Allah, menyepakati Allah Subhanallahu Wa ta’ala dan para malaikat-Nya yang juga berselawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Allah Ta'ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Faedah lainnya adalah melipat gandakan pahala orang yang berselawat tersebut. Karena adanya harapan doanya terkabul, dan berselawat merupakan sebab diperolehnya berkah dan langgengnya kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam.
Baca juga: Jejak Penting di Bulan Rabiul Awal : Lahir dan Wafatnya Rasulullah SAW hingga Salat Jumat Pertama Kalinya
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah, Sebagaimana berselawat menjadi sebab seorang hamba beroleh hidayah dan hidup hatinya. Semakin banyak pula seseorang berselawat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengingat beliau, akan semakin kental pula kecintaan kepada beliau di dalam hati.
Sehingga tidak tersisa di hatinya penentangan terhadap sesuatu pun dari perintahnya dan tidak pula keraguan terhadap apa yang beliau sampaikan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah memberikan anjuran untuk mengucapkan selawat atas beliau dalam beberapa hadis.
Di antaranya hadis yang diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah Radhiallahuanhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Siapa yang berselawat untukku satu kali maka Allah akan berselawat untuknya sepuluh kali.”
Selain itu, ada hadis dari Abu Hurairah radhiallahu anhu juga, disebutkan bahwa Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan (Dengan tidak dikerjakan shalat sunnah di dalamnya, demikian pula Al-Qur’an tidak dibaca di dalamnya). dan jangan kalian jadikan kuburanku sebagai id (tempat kumpul-kumpul). Berselawatlah untukku karena selawat kalian sampai kepadaku di mana pun kalian berada.”. (HR. Al-Imam Ahmad dan Abu Dawud)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah juga bersabda :
“Terhinalah seorang yang aku (namaku) disebut disisinya namun ia tidak mau berselawat untukku.” (HR. At-Tirmidzi).
Berselawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga sangat disyariatkan dalam tasyahhud salat, dalam khutbah, saat berdoa serta beristighfar. Demikian pula setelah azan, ketika keluar serta masuk masjid, ketika mendengar nama beliau disebut, dan sebagainya.
Perkaranya lebih ditekankan ketika menulis nama beliau dalam kitab, karya tulis, risalah, makalah, atau yang semisalnya berdasarkan dalil yang telah lewat.
Ucapan selawat ini disyariatkan untuk ditulis secara lengkap atau sempurna. Jangan disingkat yang akhirnya menjadi tanpa makna. Ini dalam rangka menjalankan perintah Allah Azza wa Jalla kepada kita dan agar pembaca mengingat untuk berselawat ketika melewati tulisan selawat tersebut.
Baca juga: Bulan Maulid : Anjuran Perbanyak Selawat Nabi dalam Surat Al Ahzab Ayat 56
Jadi, tidak sepantasnya lafazh selawat tersebut ditulis dengan singkatan. "Bersalawatlah untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya.”
Menyingkat tulisan selawat tidak akan sempurna maksudnya serta tidak diperoleh keutamaan sebagaimana bila menuliskannya secara sempurna. Menyingkat lafaz selawat ini dibenci oleh para ulama dan mereka memberikan peringatan akan hal ini.
Ibnu Shalah juga berkata, “Hendaklah ia menjauhi dua kekurangan dalam penyebutan selawat tersebut:
Pertama, ia menuliskan lafaz selawat dengan kurang, hanya meringkasnya dalam dua huruf atau semisalnya.
Kedua, ia menuliskannya dengan makna yang kurang, misalnya ia tidak menuliskan wassalam islam Fatwa Larangan Penyingkatan Salam dan Shalawat
Baca juga: Kumpulan Bacaan Selawat yang Shahih Menurut Hadis
wallahu'alam.
Mengucapkan selawat untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan perkara yang disyariatkan agama. Karena itu umat Islam dilarang menyingkatnya dalam penulisan.
Misalnya, kita tulis Muhammad SAW dengan maksud singkatan dari salallahu ‘alaihi wassalam, maka ini tidak boleh, dilarang. Karena banyak faedah yang tertuang dalam selawat yang dibaca dan diucapkan. Menyingkatnya berarti kehilangan keberkahan selawat.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah menjelaskan, selawat memiliki keutamaan-keutamaan dan faedah yang banyak. Di antaranya, menjalankan perintah Allah, menyepakati Allah Subhanallahu Wa ta’ala dan para malaikat-Nya yang juga berselawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Allah Ta'ala berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰٓٮِٕكَتَهٗ يُصَلُّوۡنَ عَلَى النَّبِىِّ ؕ يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا صَلُّوۡا عَلَيۡهِ وَسَلِّمُوۡا تَسۡلِيۡمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Faedah lainnya adalah melipat gandakan pahala orang yang berselawat tersebut. Karena adanya harapan doanya terkabul, dan berselawat merupakan sebab diperolehnya berkah dan langgengnya kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam.
Baca juga: Jejak Penting di Bulan Rabiul Awal : Lahir dan Wafatnya Rasulullah SAW hingga Salat Jumat Pertama Kalinya
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah, Sebagaimana berselawat menjadi sebab seorang hamba beroleh hidayah dan hidup hatinya. Semakin banyak pula seseorang berselawat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengingat beliau, akan semakin kental pula kecintaan kepada beliau di dalam hati.
Sehingga tidak tersisa di hatinya penentangan terhadap sesuatu pun dari perintahnya dan tidak pula keraguan terhadap apa yang beliau sampaikan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah memberikan anjuran untuk mengucapkan selawat atas beliau dalam beberapa hadis.
Di antaranya hadis yang diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah Radhiallahuanhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Siapa yang berselawat untukku satu kali maka Allah akan berselawat untuknya sepuluh kali.”
Selain itu, ada hadis dari Abu Hurairah radhiallahu anhu juga, disebutkan bahwa Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan (Dengan tidak dikerjakan shalat sunnah di dalamnya, demikian pula Al-Qur’an tidak dibaca di dalamnya). dan jangan kalian jadikan kuburanku sebagai id (tempat kumpul-kumpul). Berselawatlah untukku karena selawat kalian sampai kepadaku di mana pun kalian berada.”. (HR. Al-Imam Ahmad dan Abu Dawud)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah juga bersabda :
“Terhinalah seorang yang aku (namaku) disebut disisinya namun ia tidak mau berselawat untukku.” (HR. At-Tirmidzi).
Berselawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga sangat disyariatkan dalam tasyahhud salat, dalam khutbah, saat berdoa serta beristighfar. Demikian pula setelah azan, ketika keluar serta masuk masjid, ketika mendengar nama beliau disebut, dan sebagainya.
Perkaranya lebih ditekankan ketika menulis nama beliau dalam kitab, karya tulis, risalah, makalah, atau yang semisalnya berdasarkan dalil yang telah lewat.
Ucapan selawat ini disyariatkan untuk ditulis secara lengkap atau sempurna. Jangan disingkat yang akhirnya menjadi tanpa makna. Ini dalam rangka menjalankan perintah Allah Azza wa Jalla kepada kita dan agar pembaca mengingat untuk berselawat ketika melewati tulisan selawat tersebut.
Baca juga: Bulan Maulid : Anjuran Perbanyak Selawat Nabi dalam Surat Al Ahzab Ayat 56
Jadi, tidak sepantasnya lafazh selawat tersebut ditulis dengan singkatan. "Bersalawatlah untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya.”
Menyingkat tulisan selawat tidak akan sempurna maksudnya serta tidak diperoleh keutamaan sebagaimana bila menuliskannya secara sempurna. Menyingkat lafaz selawat ini dibenci oleh para ulama dan mereka memberikan peringatan akan hal ini.
Ibnu Shalah
Ibnu Shalah dalam kitabnya ‘Ulumul Hadis yang lebih dikenal dengan Muqqadimah Ibnish Shalah mengatakan, “(Seorang yang belajar hadis ataupun ahlul hadits) hendaknya memerhatikan penulisan selawat dan salam untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila melewatinya. Janganlah ia bosan menulisnya secara lengkap ketika berulang menyebut Rasulullah.”Ibnu Shalah juga berkata, “Hendaklah ia menjauhi dua kekurangan dalam penyebutan selawat tersebut:
Pertama, ia menuliskan lafaz selawat dengan kurang, hanya meringkasnya dalam dua huruf atau semisalnya.
Kedua, ia menuliskannya dengan makna yang kurang, misalnya ia tidak menuliskan wassalam islam Fatwa Larangan Penyingkatan Salam dan Shalawat
Al-‘Allamah As-Sakhawi
Al-‘Allamah As-Sakhawi dalam kitabnya Fathul Mughits Syarhu Alfiyatil Hadits lil ‘Iraqi, menyatakan, “Jauhilah wahai penulis, menuliskan selawat dengan singkatan, dengan engkau menyingkatnya menjadi dua huruf dan semisalnya, sehingga bentuknya kurang. Karena penulisannya kurang, berarti pahalanya pun kurang, berbeda dengan orang yang menuliskannya secara lengkap.Baca juga: Kumpulan Bacaan Selawat yang Shahih Menurut Hadis
wallahu'alam.
(wid)
Lihat Juga :