Gerhana Bulan dalam Sudut Pandang Ilmu Hakikat, Begini Penjelasan Gus Baha!
Minggu, 07 September 2025 - 15:00 WIB
loading...
A
A
A
Seperti Allah, Dzat yang wujud-Nya hakikat. Bahkan Allah itu wajib wujud-Nya tetapi tidak bisa dilihat. Kadang hal yang tidak wujud malah bisa dilihat seperti keterangan dalam Surat An-Nur Ayat 39 berikut:
"...seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila (air) itu didatangi tidak ada apapun..." (QS An-Nur Ayat 39)
Di sinilah Allah menertibkan itu semua. Nah itulah dasar ilmu tafsir. Makanya menurut ilmu tafsir, sesuatu yang tidak hakikat itu disandarkan pada yang melihat. Misalnya begini, ketika Dzulqornain berjalan ke arah Timur dan ke arah Barat, itu Allah tidak kemudian mengistilahkan "kemudian matahari tenggelam". Itu pasti salah, karena hakikatnya matahari tidak pernah tenggelam.
Tapi diistilahkan Allah
Jadi semisal kamu ditanya: "Apakah Zaid hafal Al-Qur'an?" Kalau menurutku iya, kamu jangan bilang betul dia hafal Al-Qur'an. Itu salah! Itu berarti kamu berbicara hakikat. Dan itu pasti salah. Yang benar apa? Sepertinya betul dia hafal Al-Qur'an.
Baca juga: Masjid Istiqlal Gelar Salat Gerhana Bulan, Ini Waktunya
Makanya Allah tidak pernah mengatakan "matahari tenggelam" melainkan "wajadahaa Taghrubu" Dzulqarnain menemukan matahari, dilihatnya sebagai yang tenggelam. Wadaha tahhlu'u, Dzulqarnain melihat matahari dalam pandangannya terbit". Karena hakikatnya matahari tidak pernah terbit maupun tenggelam.
Tapi ada sistem putaran bumi yang kalau kamu di (daerah) atas, kamu menyebutnya siang. Dan kalau kamu di (daerah) bawah, kamu menyebutnya malam.
Itulah hakikat. Jadi di dunia ini ada yang hakikat dan ada yang zahir. Zahir ini juga disebut dengan Nazarul Ain (pandangan mata). Makanya Allah kadang mengatakan:
كَسَرَابٍۢ بِقِيْعَةٍ يَّحْسَبُهُ الظَّمْاٰنُ مَاۤءًۗ
"...seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila (air) itu didatangi tidak ada apapun..." (QS An-Nur Ayat 39)
Di sinilah Allah menertibkan itu semua. Nah itulah dasar ilmu tafsir. Makanya menurut ilmu tafsir, sesuatu yang tidak hakikat itu disandarkan pada yang melihat. Misalnya begini, ketika Dzulqornain berjalan ke arah Timur dan ke arah Barat, itu Allah tidak kemudian mengistilahkan "kemudian matahari tenggelam". Itu pasti salah, karena hakikatnya matahari tidak pernah tenggelam.
Tapi diistilahkan Allah
وَجَدَهَا تَغۡرُبُ
(wajada Haa Taghrubu). Maka bahasa yang benar itu "Roaitasy Syamsa Taghrubu". Kamu tidak boleh mengatakan "Matahari tenggelam," itu salah karena kita berbicara hakikat. Tapi kalau "Aku melihat matahari tenggelam". Artinya dalam pandangan mata. Tetapi hakikatnya tidak pernah tenggelam. Makanya Allah selalu menyandarkan sesuatu yang tidak hakikat kepada yang melihat.Jadi semisal kamu ditanya: "Apakah Zaid hafal Al-Qur'an?" Kalau menurutku iya, kamu jangan bilang betul dia hafal Al-Qur'an. Itu salah! Itu berarti kamu berbicara hakikat. Dan itu pasti salah. Yang benar apa? Sepertinya betul dia hafal Al-Qur'an.
Baca juga: Masjid Istiqlal Gelar Salat Gerhana Bulan, Ini Waktunya
Makanya Allah tidak pernah mengatakan "matahari tenggelam" melainkan "wajadahaa Taghrubu" Dzulqarnain menemukan matahari, dilihatnya sebagai yang tenggelam. Wadaha tahhlu'u, Dzulqarnain melihat matahari dalam pandangannya terbit". Karena hakikatnya matahari tidak pernah terbit maupun tenggelam.
Tapi ada sistem putaran bumi yang kalau kamu di (daerah) atas, kamu menyebutnya siang. Dan kalau kamu di (daerah) bawah, kamu menyebutnya malam.
Itulah hakikat. Jadi di dunia ini ada yang hakikat dan ada yang zahir. Zahir ini juga disebut dengan Nazarul Ain (pandangan mata). Makanya Allah kadang mengatakan:
Lihat Juga :