Kisah Sahabat Nabi : Karena Jarang Senyum dan Jutek, Umar bin Khattab 2 Kali Ditolak Lamarannya
Kamis, 18 Desember 2025 - 13:04 WIB
loading...
Dianggap jarang tersenyum dan galak atau jutek, Umar bin Khattab pernah ditolak perempuan dua kali ketika ingin melamarnya. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Kisah sahabat Nabi , Umar bin Khattab ini menarik untuk disimak. Dianggap jarang tersenyum dan galak atau jutek, Umar pernah ditolak perempuan dua kali ketika ingin melamarnya.
Alkisah, pada saat remaja, Umar bin Khattab adalah idaman kaum perempuan. Sebagai lelaki perkasa, juara gulat dan pacuan kuda, berdekatan dengan Umar, syukur-syukur dinikahinya menjadi impian mereka. Hanya saja, pada saat Islam datang dan Umar menjadi tokoh besar dalam mendakwahkan ajaran itu, perempuan justru kurang berminat dengan dirinya. Umar dianggap terlalu galak, jarang senyum, dan pelit.
Pria pada zaman itu sudah biasa memiliki istri banyak dengan harapan mendapat banyak anak. Begitu juga Umar bin Khattab. Begitu masa mudanya mencapai kematangan, ia terdorong ingin menikah. Dalam hidupnya, Umar tercatat mengawini sembilan perempuan yang kemudian memberikan keturunan dua belas anak, delapan laki-laki dan empat perempuan.
Mereka yang diceraikan itu Umm Hakam binti al-Haris bin Hisyam dan Jamilah yang telah melahirkan Asim. Menurut Haekal, kalau Umar masih akan berumur panjang niscaya ia masih akan nikah lagi selain kesembilan perempuan itu.
Baca juga: Tersenyum, Amalan Ringan yang Membuat Hidup Lebih Produktif
Prediksi Haekal itu terkait dengan peristiwa yang terjadi sebelum Umar wafat. Umar sempat melamar Umm Kulsum putri Abu Bakar sewaktu masih gadis kecil, sementara ia sudah memegang pimpinan umat. Ia memintanya kepada Aisyah saudaranya, Aisyah Ummul mukminin menanyakan adiknya itu, tetapi Umm Kulsum menolak dengan mengatakan bahwa Umar hidupnya kasar dan sangat keras terhadap perempuan.
Bukan itu saja. Umar juga sempat melamar Umm Aban binti Utbah bin Rabi'ah, yang juga menolak dengan mengatakan bahwa dia kikir, keluar masuk rumah dengan muka merengut.
Menurut Haekal, apa yang dikatakan Umm Kulsum binti Abu Bakar tentang wataknya yang keras dan kasar, dan apa yang dikatakan Umm Aban bahwa ia selalu bermuka masam dan hidupnya yang serba keras, merupakan sebagian dari wataknya yang sejak masa mudanya, dan kemudian tetap begitu dalam perjalanan hidup selanjutnya.
Sesudah menjadi khalifah, maka dalam doa pertamanya ia berkata: "Allahumma ya Allah, aku sungguh tegar, maka lunakkanlah hatiku. Ya Allah, aku ini lemah, berilah aku kekuatan. Ya Allah aku sungguh kikir jadikanlah aku orang pemurah."
Alkisah, diriwayatkan, suatu hari seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman Khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah, tak tahan dengan segala protes, keluh-kesah dan sumpah serapah keluar dari mulut istrinya. Begitu sampai di depan rumah Sang Khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar juga istri Umar yang mirip istrinya, marah-marah, protes ini itu.
Bahkan, bisa jadi cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah kata pun terdengar keluhan dari mulut Sang khalifah. Umar diam saja, ia bahkan dengan hikmat dan kesabaran mendengarkan istrinya yang sedang berkata-kata dengan gundah itu. Akhir cerita, lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.
Namun kisah tak sampai berhenti disitu. Saat ia tak sengaja bertemu dengan Sang Khalifah di serambi Masjid, ia langsung menanyakan kejadian yang dinilai ganjil itu. Kenapa Umar begitu sabar dengan Sang istri? Apa Jawaban Umar? Inilah kata yang bersahaja itu, “Wahai saudaraku, cinta adalah ketika kebahagiaan seseorang lebih penting dari kebahagiaanmu…”
Umar diam sejenak, lelaki itu juga tertegun. Lalu Umar melanjutkan, “Istriku adalah yang memasak masakan untukku, mencuci pakaian-pakaianku, menunaikan hajat-hajatku, menyusui anak-anakku. Jika beberapa kali ia berbuat tidak baik kepadaku, aku selalu mengingat, keburukan itu tak ada harganya dibanding jasa dan pengorbanannya untukku. Dengan seperti itu tak ada tempat yang tersisa untuk kesal dalam hatiku..”
Lepas dari itu, sejak mudanya Umar memang sudah mewarisi sikap keras dan kasar itu dari ayahnya, kemudian didukung pula oleh tubuhnya yang tetap kekar dan kuat. Mengenai apa yang disebutnya kebakhilan, menurut Haekal, karena ia memang tak pernah kaya, dan ayahnya juga tak pernah menjadi orang kaya.
Baca juga: Ganjaran Pahala Senyum Setara Sedekah, Begini Penjelasannya!
Alkisah, pada saat remaja, Umar bin Khattab adalah idaman kaum perempuan. Sebagai lelaki perkasa, juara gulat dan pacuan kuda, berdekatan dengan Umar, syukur-syukur dinikahinya menjadi impian mereka. Hanya saja, pada saat Islam datang dan Umar menjadi tokoh besar dalam mendakwahkan ajaran itu, perempuan justru kurang berminat dengan dirinya. Umar dianggap terlalu galak, jarang senyum, dan pelit.
Pria pada zaman itu sudah biasa memiliki istri banyak dengan harapan mendapat banyak anak. Begitu juga Umar bin Khattab. Begitu masa mudanya mencapai kematangan, ia terdorong ingin menikah. Dalam hidupnya, Umar tercatat mengawini sembilan perempuan yang kemudian memberikan keturunan dua belas anak, delapan laki-laki dan empat perempuan.
Jarang Senyum dan Jutek
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Umar bin Khattab" memaparkan Umar kawin dengan empat perempuan di Makkah, dan yang perempuan kelima setelah hijrah ke Madinah. Akan tetapi ia tidak sampai mengumpulkan mereka di rumahnya. Sebelumnya telah disebut Islam telah memisahkan Umar dari Umm Kulsum binti Jarul, dan perempuan-perempuan yang lain diceraikannya.Mereka yang diceraikan itu Umm Hakam binti al-Haris bin Hisyam dan Jamilah yang telah melahirkan Asim. Menurut Haekal, kalau Umar masih akan berumur panjang niscaya ia masih akan nikah lagi selain kesembilan perempuan itu.
Baca juga: Tersenyum, Amalan Ringan yang Membuat Hidup Lebih Produktif
Prediksi Haekal itu terkait dengan peristiwa yang terjadi sebelum Umar wafat. Umar sempat melamar Umm Kulsum putri Abu Bakar sewaktu masih gadis kecil, sementara ia sudah memegang pimpinan umat. Ia memintanya kepada Aisyah saudaranya, Aisyah Ummul mukminin menanyakan adiknya itu, tetapi Umm Kulsum menolak dengan mengatakan bahwa Umar hidupnya kasar dan sangat keras terhadap perempuan.
Bukan itu saja. Umar juga sempat melamar Umm Aban binti Utbah bin Rabi'ah, yang juga menolak dengan mengatakan bahwa dia kikir, keluar masuk rumah dengan muka merengut.
Menurut Haekal, apa yang dikatakan Umm Kulsum binti Abu Bakar tentang wataknya yang keras dan kasar, dan apa yang dikatakan Umm Aban bahwa ia selalu bermuka masam dan hidupnya yang serba keras, merupakan sebagian dari wataknya yang sejak masa mudanya, dan kemudian tetap begitu dalam perjalanan hidup selanjutnya.
Sesudah menjadi khalifah, maka dalam doa pertamanya ia berkata: "Allahumma ya Allah, aku sungguh tegar, maka lunakkanlah hatiku. Ya Allah, aku ini lemah, berilah aku kekuatan. Ya Allah aku sungguh kikir jadikanlah aku orang pemurah."
Sabar Terhadap Istri
Hanya saja, dalam banyak kisah Umar bin Khattab justru digambarkan sebagai lelaki yang lembut. Bahkan jika istrinya marah, ia lebih banyak diam.Alkisah, diriwayatkan, suatu hari seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman Khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah, tak tahan dengan segala protes, keluh-kesah dan sumpah serapah keluar dari mulut istrinya. Begitu sampai di depan rumah Sang Khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar juga istri Umar yang mirip istrinya, marah-marah, protes ini itu.
Bahkan, bisa jadi cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah kata pun terdengar keluhan dari mulut Sang khalifah. Umar diam saja, ia bahkan dengan hikmat dan kesabaran mendengarkan istrinya yang sedang berkata-kata dengan gundah itu. Akhir cerita, lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.
Namun kisah tak sampai berhenti disitu. Saat ia tak sengaja bertemu dengan Sang Khalifah di serambi Masjid, ia langsung menanyakan kejadian yang dinilai ganjil itu. Kenapa Umar begitu sabar dengan Sang istri? Apa Jawaban Umar? Inilah kata yang bersahaja itu, “Wahai saudaraku, cinta adalah ketika kebahagiaan seseorang lebih penting dari kebahagiaanmu…”
Umar diam sejenak, lelaki itu juga tertegun. Lalu Umar melanjutkan, “Istriku adalah yang memasak masakan untukku, mencuci pakaian-pakaianku, menunaikan hajat-hajatku, menyusui anak-anakku. Jika beberapa kali ia berbuat tidak baik kepadaku, aku selalu mengingat, keburukan itu tak ada harganya dibanding jasa dan pengorbanannya untukku. Dengan seperti itu tak ada tempat yang tersisa untuk kesal dalam hatiku..”
Lepas dari itu, sejak mudanya Umar memang sudah mewarisi sikap keras dan kasar itu dari ayahnya, kemudian didukung pula oleh tubuhnya yang tetap kekar dan kuat. Mengenai apa yang disebutnya kebakhilan, menurut Haekal, karena ia memang tak pernah kaya, dan ayahnya juga tak pernah menjadi orang kaya.
Baca juga: Ganjaran Pahala Senyum Setara Sedekah, Begini Penjelasannya!
(wid)
Lihat Juga :