Kisah Sahabat Nabi SAW yang Wajahnya Menyerupai Malaikat Jibril
Rabu, 07 Januari 2026 - 20:31 WIB
loading...
A
A
A
Hiraklius memanggil Uskup Kota Liya di Syam, Ibnu Nathur, yang biasanya menjadi rujukan dalam soal keagamaan. Dihyah hadir dalam pertemuan itu. Ibnu Nathur ini di samping sebagai uskup, juga sahabat Hiraklius.
Setelah mendengar penjelasan Hiraklius dan Dihyah, Ibnu Nathur membacakan beberapa ayat-ayat Injil, dan akhirnya membenarkan kerasulan Nabi Muhammad lalu memeluk Islam. Tetapi Hiraklius sendiri tidak mau mengikuti sikap uskup ini walau sebenarnya iai tidak mengingkari kebenaran itu.
Tidak ada sebenarnya yang menghalanginya memeluk Islam kecuali takut kehilangan kekuasaannya. Bahkan beberapa panglima perangnya sudah mengancam tidak akan mengakui kedudukannya jika ia memenuhi seruan Nabi.
Dihyah Al-Kalbi sering menemui sang uskup untuk mengajarkan Islam. Pada hari Ahadnya, sang uskup tidak hadir untuk memberikan ceramah dan nasihat seperti biasanya, padahal orang-orang Romawi yang menjadi jamaahnya telah berkumpul. Begitupun berulang pada beberapa hari berikutnya. Sehingga akhirnya orang-orang Romawi mengancam untuk membunuhnya jika tidak keluar.
Sang uskup, Ibnu Nathur menitipkan surat pada Dihyah untuk Nabi tentang keislamannya, dan menyampaikan pada Nabi apa yang dilihatnya. Setelah itu Ibnu Nathur keluar menemui orang-orang Romawi, tidak dengan pakaian gereja kebesaran seperti biasanya, tetapi memakai pakaian putih.
Ia mengucapkan syahadat di hadapan mereka sehingga mereka begitu murka dan akhirnya membunuh sang Uskup yang selama ini dipatuhi dan mereka dengar dan patuhi nasihat-nasihatnya.
Dihyah Al-Kalbi lah yang menjadi saksi langsung peristiwa tersebut. Kemudian beliau pulang menceritakan peristiwa itu kepada Nabi sekaligus menyerahkan surat sang Uskup. Surat itu dibacakan untuk Rasulullah dan mendoakan kebaikan dan keberkahan untuk Ibnu Nathur.
Demikian seklias kisah Dihyah Al-Kalbi pada masa hidupnya. Beliau tinggal di daerah Mizzah di Damaskus Syam dan hidup hingga masa kekhalifahan Muawiyyah bin Abi Sufyan.
Sumber:
1. Al-Ishaabah, Ibnu Hajar, hal. 371. no. 2474
2. Thabaqaat, Ibni Sa'ad, 4/249.
3. Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Manaqib, bab: ‘Alaamaatin Nubuwwah fil Islaam.
4. Shahih Al-Bukhari, Kitab al-Jihad was Siyar, Bab: Du’aa-in Nabiyyi an-Naasa ilal Islaam.
5. Kitab Al-Bidayah wan-Nihayah, Ibnu Katsir, 6/242.
Baca juga: Ayat-ayat Al Quran Tentang Malaikat Jibril, Simak Penjelasannya di Sini!
Setelah mendengar penjelasan Hiraklius dan Dihyah, Ibnu Nathur membacakan beberapa ayat-ayat Injil, dan akhirnya membenarkan kerasulan Nabi Muhammad lalu memeluk Islam. Tetapi Hiraklius sendiri tidak mau mengikuti sikap uskup ini walau sebenarnya iai tidak mengingkari kebenaran itu.
Tidak ada sebenarnya yang menghalanginya memeluk Islam kecuali takut kehilangan kekuasaannya. Bahkan beberapa panglima perangnya sudah mengancam tidak akan mengakui kedudukannya jika ia memenuhi seruan Nabi.
Dihyah Al-Kalbi sering menemui sang uskup untuk mengajarkan Islam. Pada hari Ahadnya, sang uskup tidak hadir untuk memberikan ceramah dan nasihat seperti biasanya, padahal orang-orang Romawi yang menjadi jamaahnya telah berkumpul. Begitupun berulang pada beberapa hari berikutnya. Sehingga akhirnya orang-orang Romawi mengancam untuk membunuhnya jika tidak keluar.
Sang uskup, Ibnu Nathur menitipkan surat pada Dihyah untuk Nabi tentang keislamannya, dan menyampaikan pada Nabi apa yang dilihatnya. Setelah itu Ibnu Nathur keluar menemui orang-orang Romawi, tidak dengan pakaian gereja kebesaran seperti biasanya, tetapi memakai pakaian putih.
Ia mengucapkan syahadat di hadapan mereka sehingga mereka begitu murka dan akhirnya membunuh sang Uskup yang selama ini dipatuhi dan mereka dengar dan patuhi nasihat-nasihatnya.
Dihyah Al-Kalbi lah yang menjadi saksi langsung peristiwa tersebut. Kemudian beliau pulang menceritakan peristiwa itu kepada Nabi sekaligus menyerahkan surat sang Uskup. Surat itu dibacakan untuk Rasulullah dan mendoakan kebaikan dan keberkahan untuk Ibnu Nathur.
Demikian seklias kisah Dihyah Al-Kalbi pada masa hidupnya. Beliau tinggal di daerah Mizzah di Damaskus Syam dan hidup hingga masa kekhalifahan Muawiyyah bin Abi Sufyan.
Sumber:
1. Al-Ishaabah, Ibnu Hajar, hal. 371. no. 2474
2. Thabaqaat, Ibni Sa'ad, 4/249.
3. Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Manaqib, bab: ‘Alaamaatin Nubuwwah fil Islaam.
4. Shahih Al-Bukhari, Kitab al-Jihad was Siyar, Bab: Du’aa-in Nabiyyi an-Naasa ilal Islaam.
5. Kitab Al-Bidayah wan-Nihayah, Ibnu Katsir, 6/242.
Baca juga: Ayat-ayat Al Quran Tentang Malaikat Jibril, Simak Penjelasannya di Sini!
(wid)
Lihat Juga :