Sebelum Perjalanan Isra Mikraj, Malaikat Jibril Membelah Dada dan Menyucikan Hati Nabi SAW
Rabu, 07 Januari 2026 - 16:35 WIB
loading...
Sebelum peristiwa Isra Mikraj, ternyata Malaikat Jibril pernah membelah dada Nabi SAW dan menyucikan hatinya karena na perintah Allah SWT. Foto ilustrasi/Sindonews
A
A
A
Ada cerita dan hikmah yang menarik untuk disimak dari peristiwa agung Isra Mikraj , salah satunya tentang Malaikat Jibril. Dikisahkan bahwa sebelum diperjalankan Isra Mikraj ini, dada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam dibelah oleh Malaikat Jibril tersebut. Pembelahan dada Rasulullah ini untuk menyucikan hati dan melapangkan hati beliau.
Dalam riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW disucikan hatinya oleh Malaikat sebanyak tiga kali. Pertama ketika beliau masih kecil, kedua sebelum menerima wahyu dan ketiga ketika peristiwa Isra Mikraj .
Al-Imam Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliky Al-Hasani menceritakan peristiwa agung ini dalam Kitab Al-Anwaarul Bahiyyah dan Dzikrayaat wa Munaasabaat. Suatu malam Nabi Muhammad SAW berada di Hijir Ismail dekat Ka'bah, saat itu Beliau berbaring di antara paman Beliau, Sayyiduna Hamzah dan sepupu Beliau, Sayyiduna Jakfar bin Abi Thalib.
Tiba-tiba Malaikat Jibril, Mikail dan Israfil menghampiri Beliau lalu membawanya ke arah sumur Zamzam. Setibanya di sana mereka merebahkan tubuh mulia Rasulullah untuk dibelah dadanya oleh Jibril.
Dalam riwayat lain disebutkan suatu malam atap rumah Nabi terbuka, kemudian Jibril turun membelah dada Beliau sampai di bawah perut Beliau, lalu Jibril berkata kepada Mikail: "Datangkan kepadaku nampan dengan air Zamzam agar aku bersihkan hatinya dan aku lapangkan dadanya."
Perlu diketahui bahwa penyucian ini bukan berarti hati Nabi kotor. Justru Nabi sudah diciptakan oleh Allah dengan hati yang paling suci dan mulia. Hal ini tidak lain untuk menambah kescian di atas kesucian dan untuk lebih memantapkan dan menguatkan hati Beliau.
Baca juga: Gambaran Wujud Malaikat Jibril, Memiliki 600 Sayap dan Bisa Menyerupai Seseorang
Apalagi beliau akan melakukan suatu perjalanan agung penuh hikmah serta sebagai kesiapan untuk berjumpa dengan Allah 'Azza wa Jalla. Ketika dada Beliau dibelah, Jibril mengeluarkan hati Beliau lalu membasuhnya tiga kali. Kemudian didatangkan satu nampan emas dipenuhi hikmah dan keimanan. Jibril menuangkannya ke dalam hati Beliau, maka penuhlah hati Rasulullah dengan kesabaran, keyakinan, ilmu dan kepasrahan penuh kepada Allah, lalu ditutup kembali oleh Jibril.
Setelah penyucian hati baginda Rasulullah selesai, Jibril kemudian menyiapkan Buraq lengkap dengan pelana dan kendalinya. Binatang ini berwarna putih, lebih besar dari himar lebih rendah dari baghal. Dia berjalan sejauh pandangan matanya, panjang kedua telinganya, jika turun dia mengangkat kedua kaki depannya. Buraq diciptakan dengan dua sayap pada sisi pahanya untuk membantu kecepatannya.
Saat hendak menaikinya, Nabi Muhammad merasa kesulitan (Buraq itu berjingkrak-jingkrak memperlihatkan kekuatannya). Maka Jibril meletakkan tangannya di wajah Buraq sembari berkata: "Wahai Buroq, tidakkah kamu merasa malu, demi Allah tidak ada makhluk Allah yang menaikimu yang lebih mulia daripada dia (Rasulullah)".
Mendengar itu, Buraq merasa malu sehingga sekujur tubuhnya berkeringat. Setelah tenang, naiklah Rasulullah ke atas punggungnya, dan sebelum Beliau, banyak Anbiya' yang menaiki Buraq ini.
Dalam perjalanan, Jibril menemani Rasulullah di sebelah kanan Beliau, sedangkan Mikail di sebelah kiri. Menurut riwayat Ibnu Sa'ad, Jibril memegang sanggurdi pelana Buraq, sedang Mikail memegang tali kendali. Mereka melaju mengarungi keindahan alam Allah Ta'ala yang penuh keajaiban dan hikmah dengan inayah dan rahmat-Nya menuju Baitul Maqdis Palestina.
Kemudian Buraq berangkat kembali melanjutkan perjalanan, secepat kilat dia melangkahkan kakinya sejauh pandangan matanya, tiba-tiba Jibril berseru: "Berhentilah dan turunlah serta salatlah di tempat ini!". Setelah salat dan kembali ke atas Buraq, Jibril memberitahukan bahwa Beliau salat di Madyan, di sisi pohon dimana dahulu Musa bernaung di bawahnya dan beristirahat saat dikejar-kejar tentara Fir'aun.
Perjalanan selanjutnya Nabi Muhammad turun di Thur Sina', sebuah lembah di Syam, tempat dimana Nabi Musa berbicara dengan Allah. Beliau pun salat di tempat itu. Kemudian Beliau sampai di suatu daerah yang tampak kepada Beliau istana-istana Syam, Beliau turun dan salat di sana.
Kemudian Jibril memberitahukan kepada beliau dengan berkata: "Anda telah salat di Bait Lahm (Betlehem, Baitul Maqdis), tempat dilahirkan Nabi Isa bin Maryam".
Baca juga: 6 Tugas Malaikat Jibril, Kaum Muslim Wajib Tahu!
Dalam riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW disucikan hatinya oleh Malaikat sebanyak tiga kali. Pertama ketika beliau masih kecil, kedua sebelum menerima wahyu dan ketiga ketika peristiwa Isra Mikraj .
Al-Imam Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliky Al-Hasani menceritakan peristiwa agung ini dalam Kitab Al-Anwaarul Bahiyyah dan Dzikrayaat wa Munaasabaat. Suatu malam Nabi Muhammad SAW berada di Hijir Ismail dekat Ka'bah, saat itu Beliau berbaring di antara paman Beliau, Sayyiduna Hamzah dan sepupu Beliau, Sayyiduna Jakfar bin Abi Thalib.
Tiba-tiba Malaikat Jibril, Mikail dan Israfil menghampiri Beliau lalu membawanya ke arah sumur Zamzam. Setibanya di sana mereka merebahkan tubuh mulia Rasulullah untuk dibelah dadanya oleh Jibril.
Dalam riwayat lain disebutkan suatu malam atap rumah Nabi terbuka, kemudian Jibril turun membelah dada Beliau sampai di bawah perut Beliau, lalu Jibril berkata kepada Mikail: "Datangkan kepadaku nampan dengan air Zamzam agar aku bersihkan hatinya dan aku lapangkan dadanya."
Perlu diketahui bahwa penyucian ini bukan berarti hati Nabi kotor. Justru Nabi sudah diciptakan oleh Allah dengan hati yang paling suci dan mulia. Hal ini tidak lain untuk menambah kescian di atas kesucian dan untuk lebih memantapkan dan menguatkan hati Beliau.
Baca juga: Gambaran Wujud Malaikat Jibril, Memiliki 600 Sayap dan Bisa Menyerupai Seseorang
Apalagi beliau akan melakukan suatu perjalanan agung penuh hikmah serta sebagai kesiapan untuk berjumpa dengan Allah 'Azza wa Jalla. Ketika dada Beliau dibelah, Jibril mengeluarkan hati Beliau lalu membasuhnya tiga kali. Kemudian didatangkan satu nampan emas dipenuhi hikmah dan keimanan. Jibril menuangkannya ke dalam hati Beliau, maka penuhlah hati Rasulullah dengan kesabaran, keyakinan, ilmu dan kepasrahan penuh kepada Allah, lalu ditutup kembali oleh Jibril.
Setelah penyucian hati baginda Rasulullah selesai, Jibril kemudian menyiapkan Buraq lengkap dengan pelana dan kendalinya. Binatang ini berwarna putih, lebih besar dari himar lebih rendah dari baghal. Dia berjalan sejauh pandangan matanya, panjang kedua telinganya, jika turun dia mengangkat kedua kaki depannya. Buraq diciptakan dengan dua sayap pada sisi pahanya untuk membantu kecepatannya.
Saat hendak menaikinya, Nabi Muhammad merasa kesulitan (Buraq itu berjingkrak-jingkrak memperlihatkan kekuatannya). Maka Jibril meletakkan tangannya di wajah Buraq sembari berkata: "Wahai Buroq, tidakkah kamu merasa malu, demi Allah tidak ada makhluk Allah yang menaikimu yang lebih mulia daripada dia (Rasulullah)".
Mendengar itu, Buraq merasa malu sehingga sekujur tubuhnya berkeringat. Setelah tenang, naiklah Rasulullah ke atas punggungnya, dan sebelum Beliau, banyak Anbiya' yang menaiki Buraq ini.
Dalam perjalanan, Jibril menemani Rasulullah di sebelah kanan Beliau, sedangkan Mikail di sebelah kiri. Menurut riwayat Ibnu Sa'ad, Jibril memegang sanggurdi pelana Buraq, sedang Mikail memegang tali kendali. Mereka melaju mengarungi keindahan alam Allah Ta'ala yang penuh keajaiban dan hikmah dengan inayah dan rahmat-Nya menuju Baitul Maqdis Palestina.
Rasulullah Singgah di Madinah dan Thur Sina
Di tengah perjalanan mereka berhenti di satu tempat yang dipenuhi pohon kurma, lantas Malaikat Jibril berkata: "Turunlah disini dan salatlah". Setelah Beliau salat, Jibril berkata: "Tahukah anda di mana Anda sholat?" "Tidak," jawab Rasulullah. Jibril berkata: "Anda telah salat di Thoybah (nama lain dari Madinah) dan kesana anda akan berhijrah".Kemudian Buraq berangkat kembali melanjutkan perjalanan, secepat kilat dia melangkahkan kakinya sejauh pandangan matanya, tiba-tiba Jibril berseru: "Berhentilah dan turunlah serta salatlah di tempat ini!". Setelah salat dan kembali ke atas Buraq, Jibril memberitahukan bahwa Beliau salat di Madyan, di sisi pohon dimana dahulu Musa bernaung di bawahnya dan beristirahat saat dikejar-kejar tentara Fir'aun.
Perjalanan selanjutnya Nabi Muhammad turun di Thur Sina', sebuah lembah di Syam, tempat dimana Nabi Musa berbicara dengan Allah. Beliau pun salat di tempat itu. Kemudian Beliau sampai di suatu daerah yang tampak kepada Beliau istana-istana Syam, Beliau turun dan salat di sana.
Kemudian Jibril memberitahukan kepada beliau dengan berkata: "Anda telah salat di Bait Lahm (Betlehem, Baitul Maqdis), tempat dilahirkan Nabi Isa bin Maryam".
Baca juga: 6 Tugas Malaikat Jibril, Kaum Muslim Wajib Tahu!
(wid)
Lihat Juga :