Ayat-ayat Al Quran Tentang Berwisata, Simak Penjelasannya di Sini!
Sabtu, 28 Maret 2026 - 15:53 WIB
loading...
Sedikitnya, ada tujuh ayat Al Quran yang mengaitkan langsung perintah berekreasi atau memandang alam dengan perjalanan tersebut. Foto ilustrasi/Sindonews
A
A
A
Sedikitnya, ada tujuh ayat Al Quran yang mengaitkan langsung perintah berekreasi atau memandang alam dengan perjalanan tersebut. Apa saja ayatnya?
Hakikat wisata dalam Islam dikenal istilah siyaahah yang bermakna bepergian ke segenap penjuru bumi (adz-dzihaab fi al-ardh), safar atau perjalanan (travelling), dan/atau wisata (tourism).
Wisata dalam konsep Islam harus meningkatkan keimanan dengan menafakuri kebesaran Allah Subhanahu wa ta'ala. Bahkan dalam sebuah hadis Rasulullah SAW menegaskan:
“Sesunguhnya wisatanya umatku adalah berjihad di jalan Allah.” (HR. Abu Daud).
Dalam pemahaman Islam, wisata juga dikaitkan dengan ilmu dan pengetahuan. Pada masa permulaan Islam, telah ada perjalanan sangat agung dengan tujuan mencari ilmu dan menyebarkannya.
Al-Khatib Al-Bagdady menulis kitab Ar-Rihlah Fi Tolabil Hadits berisi kisah orang yang melakukan perjalanan hanya untuk mendapatkan dan mencari satu hadits. Di antara maksud wisata dalam Islam adalah mengambil pelajaran dan peringatan.
Baca juga: Mengisi Idulfitri dengan Wisata, Begini Pandangan Al Quran
Dalam Al-Qur’an terdapat perintah untuk berjalan di muka bumi di beberapa tempat, yakni:
“Katakanlah: 'Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu." (QS. Al-An’am: 11)
Dalam ayat lain, “Katakanlah: 'Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa.” (QS. An-Naml: 69)
Al-Qasimi rahimahullah berkata; ”Mereka berjalan dan pergi ke beberapa tempat untuk melihat berbagai peninggalan sebagai nasihat, pelajaran dan manfaat lainnya." (Mahasinu At-Ta’wil, 16/225)
Di antara maksud mulia dari wisata dalam Islam adalah berdakwah. Itulah tugas para Rasul dan para nabi dan orang-orang setelah mereka dari kalangan para sahabat. Para sahabat Nabi Saw telah menyebar ke ujung dunia untuk mengajarkan kebaikan kepada manusia, mengajak mereka kepada Islam.
Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Ankabut: 20).
“Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”
“Maka apakah mereka tidak pernah mengadakan perjalanan di bumi sehingga dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Allah telah membinasakan mereka, dan bagi orang-orang kafir akan menerima (nasib) yang serupa itu.”
“Dan Kami tidak mengutus sebelummu (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. Tidakkah mereka bepergian di bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul). Dan sungguh, negeri akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?”
“Sungguh, telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (Allah), karena itu berjalanlah kamu ke (segenap penjuru) bumi dan perhatikanlah bagai-mana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).”
“Katakanlah (Muhammad), “Berjalanlah kamu di bumi, lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa.”
Itulah ayat-ayat Al-Qur’an yang secara esensial memberikan pesan seruan untuk melakukan traveling. Namun perlu menjadi catatan, traveling yang diisyaratkan Al-Qur’an adalah traveling yang bukan tujuan untuk bermaksiat. Traveling yang dianjurkan Al-Qur’an adalah traveling yang memiliki nilai mentadaburi alam dan keagungan Allah melalui ciptaan-Nya.
Baca juga: Lebaran Ketupat : Tradisi Syawalan Peninggalan Wali Songo
Hakikat wisata dalam Islam dikenal istilah siyaahah yang bermakna bepergian ke segenap penjuru bumi (adz-dzihaab fi al-ardh), safar atau perjalanan (travelling), dan/atau wisata (tourism).
Wisata dalam konsep Islam harus meningkatkan keimanan dengan menafakuri kebesaran Allah Subhanahu wa ta'ala. Bahkan dalam sebuah hadis Rasulullah SAW menegaskan:
“Sesunguhnya wisatanya umatku adalah berjihad di jalan Allah.” (HR. Abu Daud).
Dalam pemahaman Islam, wisata juga dikaitkan dengan ilmu dan pengetahuan. Pada masa permulaan Islam, telah ada perjalanan sangat agung dengan tujuan mencari ilmu dan menyebarkannya.
Al-Khatib Al-Bagdady menulis kitab Ar-Rihlah Fi Tolabil Hadits berisi kisah orang yang melakukan perjalanan hanya untuk mendapatkan dan mencari satu hadits. Di antara maksud wisata dalam Islam adalah mengambil pelajaran dan peringatan.
Baca juga: Mengisi Idulfitri dengan Wisata, Begini Pandangan Al Quran
Dalam Al-Qur’an terdapat perintah untuk berjalan di muka bumi di beberapa tempat, yakni:
1. Surat Al An'am ayat 11
قُلۡ سِيۡرُوۡا فِى الۡاَرۡضِ ثُمَّ انْظُرُوۡا كَيۡفَ كَانَ عَاقِبَةُ الۡمُكَذِّبِيۡنَ
“Katakanlah: 'Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu." (QS. Al-An’am: 11)
Dalam ayat lain, “Katakanlah: 'Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa.” (QS. An-Naml: 69)
Al-Qasimi rahimahullah berkata; ”Mereka berjalan dan pergi ke beberapa tempat untuk melihat berbagai peninggalan sebagai nasihat, pelajaran dan manfaat lainnya." (Mahasinu At-Ta’wil, 16/225)
Di antara maksud mulia dari wisata dalam Islam adalah berdakwah. Itulah tugas para Rasul dan para nabi dan orang-orang setelah mereka dari kalangan para sahabat. Para sahabat Nabi Saw telah menyebar ke ujung dunia untuk mengajarkan kebaikan kepada manusia, mengajak mereka kepada Islam.
2. Surat Al Ankabut ayat 20
Dari pemahaman wisata dalam Islam adalah safar (travelling) untuk merenungi keindahan ciptaan Allah Ta’la, menikmati indahnya alam nan agung sebagai pendorong jiwa manusia untuk menguatkan keimanan terhadap keesaan Allah dan memotivasi menunaikan kewajiabn hidup. Karena refreshing jiwa perlu untuk memulai semangat kerja baru.قُلْ سِيرُوا فِي الأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ثُمَّ اللَّهُ يُنشِئُ النَّشْأَةَ الْآخِرَةَ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Ankabut: 20).
3. Surat Al-Mulk Ayat 15
هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ
“Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”
4. Surat Muhammad Ayat 10
اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَيَنْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۗ دَمَّرَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ ۖوَلِلْكٰفِرِيْنَ اَمْثَالُه
“Maka apakah mereka tidak pernah mengadakan perjalanan di bumi sehingga dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Allah telah membinasakan mereka, dan bagi orang-orang kafir akan menerima (nasib) yang serupa itu.”
5. Surat Yusuf Ayat 109
وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ مِّنْ اَهْلِ الْقُرٰىۗ اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَيَنْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۗ وَلَدَارُ الْاٰخِرَةِ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ اتَّقَوْاۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ
“Dan Kami tidak mengutus sebelummu (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. Tidakkah mereka bepergian di bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul). Dan sungguh, negeri akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?”
6. Surat Ali 'Imran Ayat 137
قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌۙ فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ
“Sungguh, telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (Allah), karena itu berjalanlah kamu ke (segenap penjuru) bumi dan perhatikanlah bagai-mana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).”
7. Surat An-Naml Ayat 69
قُلْ سِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِيْنَ
“Katakanlah (Muhammad), “Berjalanlah kamu di bumi, lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa.”
Itulah ayat-ayat Al-Qur’an yang secara esensial memberikan pesan seruan untuk melakukan traveling. Namun perlu menjadi catatan, traveling yang diisyaratkan Al-Qur’an adalah traveling yang bukan tujuan untuk bermaksiat. Traveling yang dianjurkan Al-Qur’an adalah traveling yang memiliki nilai mentadaburi alam dan keagungan Allah melalui ciptaan-Nya.
Baca juga: Lebaran Ketupat : Tradisi Syawalan Peninggalan Wali Songo
(wid)
Lihat Juga :