Perjanjian Hudaibiyah: Pakta Damai yang Mengubah Sejarah

Kamis, 16 April 2026 - 15:09 WIB
loading...
Perjanjian Hudaibiyah:...
Perjanjian Hudaibiyah merupakan perjanjian gencatan sejata antara kaum muslimin dengan kaum kafir Quraisy. Ini merupakan strategi dan upaya Rasulullah SAW meredakan ketegangan antara kaum muslimin Islam dengan kaum musyrik Quraisy. Foto ilustrasi/ist
A A A
Perjanjian Hudaibiyah merupakan perjanjian gencatan sejata antara kaum muslimin dengan kaum kafir Quraisy . Ini merupakan strategi dan upaya Rasulullah SAW meredakan ketegangan antara kaum muslimin Islam dengan kaum musyrik Quraisy. Simak ulasan napak tilas perjanjian tersebut berikut ini.

Pada awalnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam sempat diprotes sejumlah sahabat, karena beliau menandatangani perjanjian tersebut. Perjanjian yang dilakukan 628 Masehi ini dinilai tidak adil dan berat sebelah. Kaum Quraish Makkah yang belum masuk Islam ketika itu diuntungkan dengan surat perjanjian ini.

Inilah isi perjanjian Hudaibiyah :

"Dengan nama Tuhan. Ini perjanjian antara Muhammad (saw.) dan Suhail bin `Amru, perwakilan Quraisy. Tidak ada peperangan dalam jangka waktu sepuluh tahun. Siapa pun yang ingin mengikuti Muhammad, diperbolehkan secara bebas. Siapa pun yang ingin mengikuti Quraisy, diperbolehkan secara bebas."



Isi perjanjian ini dinilai masih adil dan netral. Namun simaklah isi perjanjian berikutnya.

"Pemuda, yang masih memiliki ayah, atau memiliki wali, jika mengikuti Muhammad tanpa izin mereka, akan dikembalikan ke ayah atau walinya. Bila ada orang Islam yang masuk ke kelompok Quraisy, ia tidak boleh kembali."

Baca juga: Diplomasi Perang ala Rasulullah SAW: Strategi Cerdas di Balik Kemenangan

Pasal inilah yang diprotes sejumlah umat Islam. Namun ada juga pasal yang menguntungkan kaum Muslimin, yakni:

"Tahun ini Muhammad akan kembali ke Madinah. Tapi tahun depan, mereka boleh masuk ke Makkah, untuk melakukan tawaf selama tiga hari. Selama tiga hari itu, penduduk Quraisy akan mundur ke bukit-bukit. Namun umat Islam tidak boleh bersenjata saat memasuki Makkah."

Meskipun sejumlah sahabat memprotes, namun Rasulullah meminta mereka bersabar dan menunggu hasil perdamaian itu. Saat itu Rasulullah SAW bermaksud melaksanakan haji dan umrah di Makkah. Beliau singgah di Hudaibiyah dan mengutus Utsman bin Affan memberitahukan kepada penduduk Makkah.

Penduduk Quraisy Makkah yang masih kafir tentu saja merasa kaget atas kedatangan Nabi yang agamanya semakin tersebar dan popular itu. Maka utusan Rasul, Utsman bin Affan pun ditahan. Para pengikut Nabi sempat berang dan akan menuntut balas atas setiap peristiwa yang menimpa Utsman.

Mengetahui kemarahan kaum Muslimin, kaum Quraisy tidak berani memperlakukan Utsman secara semena-mena. Selain melepaskan Utsman, mereka bahkan mengutus Suhail bin `Amru menemui Rasulullah di Hudaibiyah. Hasil pertemuan ini, maka ditandatanganilah perjanjian damai antara umat Islam dengan kaum kafir Quraisy itu, atau yang popular disebut Perjanjian Hudaibiyah.

Dampak Perjanjian Hudaibiyah

Dampak dari perjanjian Hudaibiyah ini, membuat orang Quraisy yang ingin datang ke Madinah semakin banyak. Saat masuk Madinah, mereka menyatakan masuk Islam, atau setidaknya menyatakan simpati kepada umat Islam. Tapi Rasulullah tetap meminta mereka kembali ke Makkah, sesuai dengan Perjanjian Hudaibiyah. Beberapa orang Islam yang berasal dari Quraisy yang ikut berhijrah bersama Rasulullah juga banyak

yang ingin menengok saudaranya di Mekah. Namun sesuai perjanjian, mereka tidak boleh kembali kepada umat Islam jika sudah masuk Mekah. Rupanya, baik orang kafir yang sudah bersimpati kepada Islam maupun orang Islam yang masuk ke Mekah merupakan para dai yang menyebarkan Islam dari pintu ke pintu. Saat di Mekah, orang Islam justru terus berdakwah mengajak orang kafir menerima agama hanif ini. Berkat perjanjian Hudaibiyah ini, Mekah justru semakin kondusif menerima Islam. Justru orang Qurasiy yang melanggar perdamaian karena beberapa kali menyulut pertempuran. Maka ketika Rasulullah datang kembali ke Mekah untuk menaklukkan kota kelahirannya itu, masyarakat Mekah sesungguhnya sudah kondusif. Ketika Rasulullah mengumumkan, "Barang siapa yang masuk ke Masjidilharam, aman. Barang siapa yang masuk ke rumah Abu Sofyan, aman", maka penduduk Mekah berbondong-bondong datang ke tempat sesuai yang ditunjukkan Nabi. Itulah keuntungan Perjanjian Hudaibiyah yang semula dinilai tidak adil, justru sangat menguntungkan pasukan Islam.

Tempat miqat Hudaibiyah terletak sekitar 30 km di luar Kota Makkah Al-Mukaramah. Jalan ke tempat ini sekarang tidak banyak penduduknya. Pengembangan Kota Makkah memang terus meluas, namun belum menjangkau wilayah ini. Pabrik pembuatan kiswah atau kelambu penutup Kakbah berada di dekat Hudaibiyah ini. Sepanjang perjalanan di Hudaibiyah terdapat banyak peternakan onta.

Bahkan, para peziarah bisa mampir ke peternakan ini untuk meminum air susu segarnya. Peninggalan dari tempat perjanjian ini kini didirikan masjid. Namun di belakang masjid ini ada puing-puing bangunan yang tua. Jemaah dari Malaysia dan Turki suka melakukan umrah sunat dari wilayah ini.

Sebagaimana diketahui, orang yang ingin melakukan umrah harus bertolak dari miqat. Bagi penduduk Makkah, mereka bisa mengambil miqat dari Ji`ranah, Tan`im, ataupun Hudaibiyah. Jemaah haji Indonesia yang sudah tinggal di Makkah pada umumnya lebih suka mengambil miqat dari Ji`ranah atau Tan`im.

Namun jemaah Malaysia sekarang lebih suka mengambil miqat dari Hudaibiyah. Jemaah Turki juga banyak yang mengambil miqat dari Hudaibiyah ini.

Melihat letak geografis Hudaibiyah, Arafah, Muzdalifah, Mina dan tempat Rasulullah tinggal selama melaksanakan haji, termasuk tempat pemondokan beliau di wilayah Abthah, menunjukkan bahwa Rasulullah sangat mobile saat melaksnakan haji. Mobilitas Nabi sangat tinggi saat berhaji yang berpindah dari satu wilayah ke wilayah yang lain dalam beberapa hari. Melihat dari kasus Rasulullah, sesungguhnya secara syar'i ,tidaklah salah jika jemaah haji tinggal di penginapan yang jauh dari Masjidilharam, sebagaimana Rasulullah tinggal di Abthah, wilayah di luar Kota Makkah, saat berhaji.

Baca juga: Mengenal Jejak Diplomasi dan Perundingan dalam Sejarah Perang Islam
(wid)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Benarkah Islam Agama...
Benarkah Islam Agama Perang? Simak Sejarah Turunnya Perintah Berperang dalam Al-Qur'an
Sejarah Perang Al-Abwa:...
Sejarah Perang Al-Abwa: Perang Pertama dalam Islam yang Terjadi pada Bulan Safar
Mengapa Safar Dijuluki...
Mengapa Safar Dijuluki Bulan Perang? Simak 9 Peristiwa Bersejarah Islam Ini
Bukan Perintah Menyerang,...
Bukan Perintah Menyerang, Ini Ayat Al-Quran yang Mengizinkan Perang
Jejak Perang yang Diabadikan...
Jejak Perang yang Diabadikan dalam Al Quran, Apa Saja?
Diplomasi Perang ala...
Diplomasi Perang ala Rasulullah SAW: Strategi Cerdas di Balik Kemenangan
Rekomendasi
DNA Pertama Manusia...
DNA Pertama Manusia Purba dengan Kromosom X Ditemukan
Temuan Grafiti Penggembala...
Temuan Grafiti Penggembala Ungkap Kuil Kuno di Parthenon
Arkeolog Ungkap Rahasia...
Arkeolog Ungkap Rahasia yang Terkubur di Pegunungan Rocky selama 6.000 Tahun
Artikel Terkini
Kasus Perebutan Hak...
Kasus Perebutan Hak Asuh, Ini 6 Hak Anak dalam Islam yang Wajib Dipenuhi Orang Tua
Luncurkan Aplikasi Gerakan...
Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Hidayatullah Perkuat Filantropi Islam Berbasis Digital
Kumpulan Doa Tolak Bala...
Kumpulan Doa Tolak Bala agar Terhindar dari Musibah, Penyakit, dan Kesulitan Hidup
Kepercayaan Bulan Safar...
Kepercayaan Bulan Safar Membawa Sial, Termasuk Khurafat? Ini Penjelasannya
Benarkah Islam Agama...
Benarkah Islam Agama Perang? Simak Sejarah Turunnya Perintah Berperang dalam Al-Qur'an
Sejarah Perang Al-Abwa:...
Sejarah Perang Al-Abwa: Perang Pertama dalam Islam yang Terjadi pada Bulan Safar
Infografis
Penemuan-penemuan Ilmuwan...
Penemuan-penemuan Ilmuwan Muslim yang Mengubah Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved