Suhu Padang Arafah Tembus 47 Derajat, Jemaah Haji Waspadai Heatstroke
Selasa, 26 Mei 2026 - 05:50 WIB
loading...
Ratusan ribu jemaah haji Indonesia yang saat ini berada di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf diadang oleh ancaman suhu ekstrem dan heatstroke. Foto/Dok.SindoNews
A
A
A
MAKKAH - Ratusan ribu jemaah haji Indonesia yang saat ini Selasa (26/5/2026) berada di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf diadang oleh ancaman suhu ekstrem dan heatstroke (sengatan panas) yang mematikan. Puncak ibadah rukun Islam kelima ini diprediksi akan berlangsung di bawah paparan terik matahari yang menyengat hingga 47 derajat Celcius.
National Center for Meteorology (NCM) Arab Saudi memprediksi hawa panas gurun saat puncak ibadah haji akan bertambah dengan tingkat kelembapan udara yang merosot tajam di angka 28 persen. Udara yang sangat kering tersebut akan menyedot cairan tubuh sehingga sengatan panas di Arafah terasa bak 48 hingga 49 derajat Celcius.
Baca juga: Jemaah Haji Mulai Bergerak ke Arafah, Kemenhaj Ingatkan Larangan di Masa Ihram
Mengantisipasi ancaman heatstroke, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) bersama tim medis menyebarkan protokol mitigasi darurat. Jemaah haji dituntut proaktif mengaplikasikan trik mendinginkan suhu tubuh secara mandiri di tengah lautan manusia.
Dokter dari PPIH Arab Saudi, Muhammad Fathi Banna Al Faruqi menegaskan bahwa kelelahan panas tidak bisa dianggap remeh. Penanganan yang terlambat dapat berujung pada kerusakan organ fatal akibat suhu tubuh yang mendidih.
"Jika merasa gerah menyengat, jangan hanya mengompres dahi. Basahi handuk kecil atau kain, lalu tempelkan pada area pembuluh darah besar," ungkap dr. Fathi memberikan panduan medisnya kepada Tim Media Center Haji, dikutip Selasa (26/7/2026).
Baca juga: Dahsyatnya Hari Arafah: Satu Hari yang Mengubah Takdir Lewat Doa
Ia merinci bahwa titik krusial pembuluh darah besar yang paling efektif mendinginkan sirkulasi darah terletak di leher belakang, ketiak, dan lipatan paha. Aliran darah yang sejuk dari area tersebut akan menyebar cepat dan memberikan kelegaan instan ke seluruh tubuh.
Selain teknik kompres titik nadi, jemaah juga diwajibkan melakukan manipulasi pengeluaran keringat buatan. Taktik ini sangat krusial mengingat udara kering Makkah membuat keringat menguap sebelum sempat mendinginkan kulit.
"Sediakan botol semprot kecil berisi air di dalam tas. Semprotkan air tipis-tipis ke wajah, lengan, dan leher, lalu kipas secara manual atau menggunakan kipas angin portabel," instruksi dr. Fathi lebih lanjut.
Langkah preventif lainnya mencakup pemilihan pakaian pelindung bagi jemaah yang telah menyelesaikan tahallul awal. Jemaah disarankan memakai pakaian longgar berbahan katun tipis berwarna cerah agar tubuh leluasa bernapas.
Pakaian gelap, ketat, atau berlapis-lapis wajib dihindari karena akan memerangkap hawa panas di dalam pori-pori kulit. Di samping itu, pengenalan terhadap sinyal bahaya dari tubuh sendiri menjadi kunci utama kelangsungan hidup jemaah.
Gejala awal seperti kram otot, pusing hebat, mual, hingga jantung berdebar keras adalah alarm nyata bahwa tubuh mulai kolaps. Kondisi ini menuntut penanganan segera sebelum berubah menjadi fase darurat sengatan panas.
"Jika kulit justru terasa sangat panas dan kering tapi tidak bisa keluar keringat lagi, maka adalah tanda darurat terjadi heat stroke," dr. Fathi mengingatkan.
Upaya menjaga suhu tubuh tetap stabil dan saling peduli antar-jemaah menjadi benteng pertahanan paling kokoh di Arafah. Kepekaan untuk segera melapor ke petugas medis saat melihat rekan jemaah tumbang akan menyelamatkan banyak nyawa.
National Center for Meteorology (NCM) Arab Saudi memprediksi hawa panas gurun saat puncak ibadah haji akan bertambah dengan tingkat kelembapan udara yang merosot tajam di angka 28 persen. Udara yang sangat kering tersebut akan menyedot cairan tubuh sehingga sengatan panas di Arafah terasa bak 48 hingga 49 derajat Celcius.
Baca juga: Jemaah Haji Mulai Bergerak ke Arafah, Kemenhaj Ingatkan Larangan di Masa Ihram
Mengantisipasi ancaman heatstroke, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) bersama tim medis menyebarkan protokol mitigasi darurat. Jemaah haji dituntut proaktif mengaplikasikan trik mendinginkan suhu tubuh secara mandiri di tengah lautan manusia.
Dokter dari PPIH Arab Saudi, Muhammad Fathi Banna Al Faruqi menegaskan bahwa kelelahan panas tidak bisa dianggap remeh. Penanganan yang terlambat dapat berujung pada kerusakan organ fatal akibat suhu tubuh yang mendidih.
"Jika merasa gerah menyengat, jangan hanya mengompres dahi. Basahi handuk kecil atau kain, lalu tempelkan pada area pembuluh darah besar," ungkap dr. Fathi memberikan panduan medisnya kepada Tim Media Center Haji, dikutip Selasa (26/7/2026).
Baca juga: Dahsyatnya Hari Arafah: Satu Hari yang Mengubah Takdir Lewat Doa
Ia merinci bahwa titik krusial pembuluh darah besar yang paling efektif mendinginkan sirkulasi darah terletak di leher belakang, ketiak, dan lipatan paha. Aliran darah yang sejuk dari area tersebut akan menyebar cepat dan memberikan kelegaan instan ke seluruh tubuh.
Selain teknik kompres titik nadi, jemaah juga diwajibkan melakukan manipulasi pengeluaran keringat buatan. Taktik ini sangat krusial mengingat udara kering Makkah membuat keringat menguap sebelum sempat mendinginkan kulit.
"Sediakan botol semprot kecil berisi air di dalam tas. Semprotkan air tipis-tipis ke wajah, lengan, dan leher, lalu kipas secara manual atau menggunakan kipas angin portabel," instruksi dr. Fathi lebih lanjut.
Langkah preventif lainnya mencakup pemilihan pakaian pelindung bagi jemaah yang telah menyelesaikan tahallul awal. Jemaah disarankan memakai pakaian longgar berbahan katun tipis berwarna cerah agar tubuh leluasa bernapas.
Pakaian gelap, ketat, atau berlapis-lapis wajib dihindari karena akan memerangkap hawa panas di dalam pori-pori kulit. Di samping itu, pengenalan terhadap sinyal bahaya dari tubuh sendiri menjadi kunci utama kelangsungan hidup jemaah.
Gejala awal seperti kram otot, pusing hebat, mual, hingga jantung berdebar keras adalah alarm nyata bahwa tubuh mulai kolaps. Kondisi ini menuntut penanganan segera sebelum berubah menjadi fase darurat sengatan panas.
"Jika kulit justru terasa sangat panas dan kering tapi tidak bisa keluar keringat lagi, maka adalah tanda darurat terjadi heat stroke," dr. Fathi mengingatkan.
Upaya menjaga suhu tubuh tetap stabil dan saling peduli antar-jemaah menjadi benteng pertahanan paling kokoh di Arafah. Kepekaan untuk segera melapor ke petugas medis saat melihat rekan jemaah tumbang akan menyelamatkan banyak nyawa.
(shf)
Lihat Juga :