Siap-siap Menyambut Bulan Safar : Sejarah, Kedudukan, Mitos hingga Amalan Sunahnya
Selasa, 14 Juli 2026 - 05:15 WIB
loading...
Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriyah setelah Muharram yang tahun ini akan jatuh pada tanggal berbeda menurut kalender hijriyah pemerintah (16 Juli 2026) dan Muhammadiyah (15 Juli 2026). Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Mengetahui jadwal Bulan Safar penting bagi umat Islam, terutama untuk merencanakan ibadah sunah maupun keperluan administrasi yang menggunakan penanggalan Hijriyah .
Merujuk Jurnal Studi Sistem Perhitungan Kalender Hijriyah dan Kalender Umat Islam di Indonesia UIN Sultan Syarif Kasim Riau, Kalender Hijriah Indonesia 2026 terbitan Kementerian Agama RI, Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) Muhammadiyah, serta berbagai referensi keislaman lainnya, berikut ulasan lengkap mengenai jadwal Bulan Safar 2026, sejarah penamaannya, kedudukannya dalam Islam, hingga amalan yang dianjurkan.
Sementara menurut Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang digunakan Muhammadiyah, 1 Safar 1448 H jatuh pada Rabu, 15 Juli 2026. Dalam perhitungan KHGT, Bulan Safar berlangsung selama 30 hari, sehingga 30 Safar 1448 H juga berakhir pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Baca juga: Gus Baha Ingatkan Bahaya Memiliki Khodam Jin, Singgung Kisah Nabi Sulaiman yang Diakali Setan
Perbedaan awal bulan tersebut terjadi karena metode penetapan kalender yang berbeda. Meski demikian, kedua kalender sama-sama menetapkan akhir Bulan Safar pada 13 Agustus 2026.
Saat itu, bulan yang kini dikenal sebagai Muharram disebut Shafar Al-Awwal, sedangkan bulan kedua dinamakan Shafar Ats-Tsani.
Secara bahasa, kata Safar berarti kosong. Penamaan tersebut menggambarkan kondisi masyarakat Arab pada masa itu. Ketika memasuki bulan Safar, banyak kaum lelaki meninggalkan kampung halaman untuk berdagang, berburu, atau berperang sehingga rumah-rumah dan perkampungan menjadi kosong.
Sebagian ulama juga mengaitkan kata Safar dengan makna "kuning", namun pendapat yang paling masyhur adalah karena kondisi negeri yang menjadi kosong akibat ditinggal penduduknya.
Empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an.
Karena tidak termasuk bulan haram, maka tidak terdapat hukum khusus yang hanya berlaku pada Bulan Safar, seperti larangan peperangan yang dikenal pada masa awal Islam atau pelipatgandaan pahala dan dosa sebagaimana kemuliaan bulan-bulan suci.
Meski demikian, bukan berarti Safar adalah bulan yang buruk. Dalam Islam, seluruh waktu merupakan ciptaan Allah SWT dan semuanya baik. Tidak ada satu pun bulan yang secara hakiki membawa keberuntungan maupun kesialan.
Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menjelaskan bahwa semua waktu adalah milik Allah SWT dan tidak memiliki kekuatan untuk mendatangkan manfaat ataupun mudarat dengan sendirinya. Yang menentukan segala sesuatu hanyalah Allah SWT.
Keyakinan tersebut sebenarnya berasal dari tradisi masyarakat Arab pada masa Jahiliah. Mereka meyakini Safar sebagai bulan yang dipenuhi musibah karena pada bulan itu banyak laki-laki berangkat berperang. Tidak sedikit yang terluka atau gugur sehingga mereka menganggap Safar identik dengan bencana.
Mereka bahkan menyebutnya sebagai Shafarul Khair, yakni "bulan yang kosong dari kebaikan".
Islam datang untuk menghapus seluruh bentuk takhayul tersebut.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda:
"Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (anggapan sial), tidak ada kesialan karena burung hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR Bukhari No. 5437 dan Muslim No. 2220)
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ juga bersabda:
"Tidak ada wabah, tidak ada kesialan karena burung, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR Bukhari)
Hadis-hadis tersebut menjadi dalil yang sangat tegas bahwa anggapan Safar sebagai bulan pembawa sial tidak memiliki dasar dalam syariat Islam. Seorang muslim dilarang meyakini adanya waktu tertentu yang secara otomatis membawa nasib buruk.
Beberapa amalan yang dapat dikerjakan selama Bulan Safar antara lain:
1.Memperbanyak salat sunah, terutama salat Dhuha dan Tahajud.
2.Melaksanakan puasa sunah seperti puasa Senin-Kamis, Ayyamul Bidh (13, 14, dan 15 Hijriah), atau puasa Daud bagi yang mampu.
3.Memperbanyak membaca Al-Qur'an dan berzikir.
4.Memperbanyak istighfar serta berdoa memohon perlindungan kepada Allah SWT.
5.Bersedekah dan mempererat silaturahmi.
6.Memperbanyak amal kebajikan sebagai bekal kehidupan akhirat.
Dengan demikian, Bulan Safar bukanlah bulan yang harus ditakuti ataupun dihindari. Islam justru mengajarkan agar setiap waktu dimanfaatkan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT serta menjauhi berbagai bentuk keyakinan yang bersumber dari mitos dan takhayul.
Baca juga: 4 Ciri Orang Memiliki Khodam, Benarkah Bisa Dikenali?
Merujuk Jurnal Studi Sistem Perhitungan Kalender Hijriyah dan Kalender Umat Islam di Indonesia UIN Sultan Syarif Kasim Riau, Kalender Hijriah Indonesia 2026 terbitan Kementerian Agama RI, Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) Muhammadiyah, serta berbagai referensi keislaman lainnya, berikut ulasan lengkap mengenai jadwal Bulan Safar 2026, sejarah penamaannya, kedudukannya dalam Islam, hingga amalan yang dianjurkan.
Versi Kementerian Agama dan KHGT Muhammadiyah
Berdasarkan Kalender Hijriyah Indonesia 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama RI, 1 Safar 1448 Hijriah bertepatan dengan Kamis, 16 Juli 2026. Bulan Safar tahun ini berumur 29 hari, sehingga 29 Safar 1448 H jatuh pada Kamis, 13 Agustus 2026.Sementara menurut Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang digunakan Muhammadiyah, 1 Safar 1448 H jatuh pada Rabu, 15 Juli 2026. Dalam perhitungan KHGT, Bulan Safar berlangsung selama 30 hari, sehingga 30 Safar 1448 H juga berakhir pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Baca juga: Gus Baha Ingatkan Bahaya Memiliki Khodam Jin, Singgung Kisah Nabi Sulaiman yang Diakali Setan
Perbedaan awal bulan tersebut terjadi karena metode penetapan kalender yang berbeda. Meski demikian, kedua kalender sama-sama menetapkan akhir Bulan Safar pada 13 Agustus 2026.
Sejarah Penamaan Bulan Safar
Bulan Safar telah dikenal masyarakat Arab jauh sebelum datangnya Islam. Pada masa Jahiliah, bangsa Arab telah menggunakan sistem kalender qamariyah sebagai pedoman waktu.Saat itu, bulan yang kini dikenal sebagai Muharram disebut Shafar Al-Awwal, sedangkan bulan kedua dinamakan Shafar Ats-Tsani.
Secara bahasa, kata Safar berarti kosong. Penamaan tersebut menggambarkan kondisi masyarakat Arab pada masa itu. Ketika memasuki bulan Safar, banyak kaum lelaki meninggalkan kampung halaman untuk berdagang, berburu, atau berperang sehingga rumah-rumah dan perkampungan menjadi kosong.
Sebagian ulama juga mengaitkan kata Safar dengan makna "kuning", namun pendapat yang paling masyhur adalah karena kondisi negeri yang menjadi kosong akibat ditinggal penduduknya.
Kedudukan Bulan Safar dalam Islam
Dalam syariat Islam, Bulan Safar memiliki kedudukan yang sama dengan bulan-bulan Hijriah lainnya. Safar bukan termasuk empat bulan haram (bulan suci) yang dimuliakan Allah SWT.Empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an.
Karena tidak termasuk bulan haram, maka tidak terdapat hukum khusus yang hanya berlaku pada Bulan Safar, seperti larangan peperangan yang dikenal pada masa awal Islam atau pelipatgandaan pahala dan dosa sebagaimana kemuliaan bulan-bulan suci.
Meski demikian, bukan berarti Safar adalah bulan yang buruk. Dalam Islam, seluruh waktu merupakan ciptaan Allah SWT dan semuanya baik. Tidak ada satu pun bulan yang secara hakiki membawa keberuntungan maupun kesialan.
Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menjelaskan bahwa semua waktu adalah milik Allah SWT dan tidak memiliki kekuatan untuk mendatangkan manfaat ataupun mudarat dengan sendirinya. Yang menentukan segala sesuatu hanyalah Allah SWT.
Mitos Safar sebagai Bulan Sial
Salah satu kesalahpahaman yang masih bertahan hingga kini adalah anggapan bahwa Bulan Safar merupakan bulan penuh kesialan.Keyakinan tersebut sebenarnya berasal dari tradisi masyarakat Arab pada masa Jahiliah. Mereka meyakini Safar sebagai bulan yang dipenuhi musibah karena pada bulan itu banyak laki-laki berangkat berperang. Tidak sedikit yang terluka atau gugur sehingga mereka menganggap Safar identik dengan bencana.
Mereka bahkan menyebutnya sebagai Shafarul Khair, yakni "bulan yang kosong dari kebaikan".
Islam datang untuk menghapus seluruh bentuk takhayul tersebut.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda:
"Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (anggapan sial), tidak ada kesialan karena burung hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR Bukhari No. 5437 dan Muslim No. 2220)
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ juga bersabda:
"Tidak ada wabah, tidak ada kesialan karena burung, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR Bukhari)
Hadis-hadis tersebut menjadi dalil yang sangat tegas bahwa anggapan Safar sebagai bulan pembawa sial tidak memiliki dasar dalam syariat Islam. Seorang muslim dilarang meyakini adanya waktu tertentu yang secara otomatis membawa nasib buruk.
Amalan Sunah pada Bulan Safar
Tidak terdapat ibadah khusus yang hanya disyariatkan pada Bulan Safar. Namun, seorang muslim tetap dianjurkan memperbanyak amal saleh sebagaimana pada bulan-bulan lainnya.Beberapa amalan yang dapat dikerjakan selama Bulan Safar antara lain:
1.Memperbanyak salat sunah, terutama salat Dhuha dan Tahajud.
2.Melaksanakan puasa sunah seperti puasa Senin-Kamis, Ayyamul Bidh (13, 14, dan 15 Hijriah), atau puasa Daud bagi yang mampu.
3.Memperbanyak membaca Al-Qur'an dan berzikir.
4.Memperbanyak istighfar serta berdoa memohon perlindungan kepada Allah SWT.
5.Bersedekah dan mempererat silaturahmi.
6.Memperbanyak amal kebajikan sebagai bekal kehidupan akhirat.
Dengan demikian, Bulan Safar bukanlah bulan yang harus ditakuti ataupun dihindari. Islam justru mengajarkan agar setiap waktu dimanfaatkan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT serta menjauhi berbagai bentuk keyakinan yang bersumber dari mitos dan takhayul.
Baca juga: 4 Ciri Orang Memiliki Khodam, Benarkah Bisa Dikenali?
(wid)
Lihat Juga :