Asal Usul Nama Surat Al-Baqarah: Kisah Sapi Betina yang Mengungkap Misteri Pembunuhan
Selasa, 21 Juli 2026 - 16:50 WIB
loading...
Kata Al-Baqarah sendiri berarti sapi betina. Penamaan ini merujuk pada perintah Allah SWT kepada Bani Israil untuk menyembelih seekor sapi betina sebagai jalan mengungkap pelaku pembunuhan yang misterius. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Asal-usul nama Surat Al Baqarah ini menarik untuk disimak dan diketahui umat Muslim. Bagaimana kisah penamaan surat tersebut? Berikut ulasannya.
Al-Qur'an terdiri atas 114 surat yang masing-masing memiliki nama dengan latar belakang berbeda. Sebagian nama surat diambil dari kata yang terdapat pada awal ayat, seperti Surat Ar-Rahman, Yasin, dan Al-Waqi'ah. Ada pula yang mencerminkan tema utama pembahasannya, seperti Surat An-Nisa' yang banyak mengulas hukum-hukum terkait perempuan.
Sementara itu, Surat Al-Baqarah memperoleh namanya dari sebuah kisah penting yang termuat dalam ayat 67-73. Kata Al-Baqarah sendiri berarti "sapi betina". Penamaan ini merujuk pada perintah Allah SWT kepada Bani Israil untuk menyembelih seekor sapi betina sebagai jalan mengungkap pelaku pembunuhan yang misterius.
Baca juga: Ayat-ayat Istimewa Surat Al Baqarah : Mengapa Ayat 255 Disebut Ayat Kursi?
Karena tidak menemukan titik terang dan khawatir terjadi pertumpahan darah akibat saling menuduh, Bani Israil mendatangi Nabi Musa AS untuk meminta petunjuk.
Setelah mendengar persoalan itu, Nabi Musa AS menyampaikan firman Allah SWT:
"Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi betina." (QS Al-Baqarah: 67)
Namun, jawaban tersebut justru membuat mereka heran.
"Apakah engkau hendak menjadikan kami sebagai bahan ejekan?" tanya mereka.
Nabi Musa AS segera menepis anggapan tersebut.
"Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh."
Jawaban itu menegaskan bahwa perintah tersebut adalah wahyu Allah, bukan candaan ataupun ejekan.
Namun, Bani Israil justru terus mengajukan pertanyaan. Mereka meminta Nabi Musa AS menjelaskan usia sapi yang dimaksud. Allah SWT kemudian menjawab bahwa sapi tersebut tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda, melainkan pertengahan. Belum puas, mereka kembali bertanya mengenai warnanya.
Allah SWT menjelaskan bahwa sapi itu berwarna kuning tua yang cerah dan sedap dipandang. Mereka masih juga merasa belum jelas, lalu kembali meminta penjelasan lebih rinci.
Melalui Nabi Musa AS, Allah SWT menerangkan bahwa sapi tersebut belum pernah digunakan membajak sawah ataupun mengairi tanaman, tubuhnya sehat, dan tidak memiliki belang.
Setelah seluruh ciri itu dijelaskan, barulah mereka berkata, "Sekarang barulah engkau menerangkan yang sebenarnya."
Padahal, justru karena banyak bertanya, mereka sendiri yang mempersulit pelaksanaan perintah Allah SWT. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa apabila sejak awal mereka langsung menyembelih sapi betina apa saja, niscaya perintah tersebut telah terlaksana tanpa kesulitan.
Setelah melalui pencarian yang panjang, mereka akhirnya berhasil memperoleh sapi tersebut dan menyembelihnya sebagaimana diperintahkan Allah SWT.
Al-Qur'an tidak menjelaskan bagian tubuh sapi yang digunakan. Sebagian ahli tafsir berpendapat bagian tersebut adalah ekor sapi, namun pendapat ini merupakan hasil ijtihad para mufasir.
Dengan izin Allah SWT, orang yang telah meninggal itu hidup kembali. Saat ditanya siapa pembunuhnya, ia menjawab bahwa pelakunya adalah anak saudaranya sendiri yang menginginkan harta warisan karena korban tidak memiliki anak.
Setelah menyampaikan kesaksian tersebut, korban kembali meninggal dunia. Berdasarkan pengakuan itu, pelaku kemudian ditangkap dan dijatuhi hukuman qishash sesuai syariat yang berlaku saat itu.
Selain itu, peristiwa dihidupkannya kembali orang yang telah meninggal menjadi bukti nyata kekuasaan Allah SWT untuk menghidupkan dan mematikan makhluk-Nya sesuai kehendak-Nya.
Karena itulah, kisah yang diabadikan dalam Surah Al-Baqarah ayat 67-73 menjadi salah satu mukjizat Nabi Musa AS sekaligus pelajaran berharga bagi setiap muslim agar tidak mempersulit urusan agama dengan sikap berlebihan dalam bertanya dan membantah perintah Allah SWT. Wallahu a'lam bishawab.
Baca juga: Asbabun Nuzul 2 Ayat Terakhir Surat Al Baqarah: Kisah Turunnya Ayat yang Menenangkan Para Sahabat
Al-Qur'an terdiri atas 114 surat yang masing-masing memiliki nama dengan latar belakang berbeda. Sebagian nama surat diambil dari kata yang terdapat pada awal ayat, seperti Surat Ar-Rahman, Yasin, dan Al-Waqi'ah. Ada pula yang mencerminkan tema utama pembahasannya, seperti Surat An-Nisa' yang banyak mengulas hukum-hukum terkait perempuan.
Sementara itu, Surat Al-Baqarah memperoleh namanya dari sebuah kisah penting yang termuat dalam ayat 67-73. Kata Al-Baqarah sendiri berarti "sapi betina". Penamaan ini merujuk pada perintah Allah SWT kepada Bani Israil untuk menyembelih seekor sapi betina sebagai jalan mengungkap pelaku pembunuhan yang misterius.
Misteri Pembunuhan di Kalangan Bani Israil
Kisah tersebut bermula ketika seorang laki-laki kaya raya dari kalangan Bani Israil ditemukan tewas terbunuh. Korban diketahui tidak memiliki keturunan sehingga kematiannya memicu perselisihan mengenai siapa yang bertanggung jawab sekaligus siapa yang berhak atas harta warisannya.Baca juga: Ayat-ayat Istimewa Surat Al Baqarah : Mengapa Ayat 255 Disebut Ayat Kursi?
Karena tidak menemukan titik terang dan khawatir terjadi pertumpahan darah akibat saling menuduh, Bani Israil mendatangi Nabi Musa AS untuk meminta petunjuk.
Setelah mendengar persoalan itu, Nabi Musa AS menyampaikan firman Allah SWT:
"Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi betina." (QS Al-Baqarah: 67)
Namun, jawaban tersebut justru membuat mereka heran.
"Apakah engkau hendak menjadikan kami sebagai bahan ejekan?" tanya mereka.
Nabi Musa AS segera menepis anggapan tersebut.
"Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh."
Jawaban itu menegaskan bahwa perintah tersebut adalah wahyu Allah, bukan candaan ataupun ejekan.
Banyak Bertanya Justru Menyulitkan
Pada awalnya Allah SWT tidak menentukan secara rinci jenis sapi yang harus disembelih. Artinya, sapi betina apa pun sebenarnya telah memenuhi perintah tersebut.Namun, Bani Israil justru terus mengajukan pertanyaan. Mereka meminta Nabi Musa AS menjelaskan usia sapi yang dimaksud. Allah SWT kemudian menjawab bahwa sapi tersebut tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda, melainkan pertengahan. Belum puas, mereka kembali bertanya mengenai warnanya.
Allah SWT menjelaskan bahwa sapi itu berwarna kuning tua yang cerah dan sedap dipandang. Mereka masih juga merasa belum jelas, lalu kembali meminta penjelasan lebih rinci.
Melalui Nabi Musa AS, Allah SWT menerangkan bahwa sapi tersebut belum pernah digunakan membajak sawah ataupun mengairi tanaman, tubuhnya sehat, dan tidak memiliki belang.
Setelah seluruh ciri itu dijelaskan, barulah mereka berkata, "Sekarang barulah engkau menerangkan yang sebenarnya."
Padahal, justru karena banyak bertanya, mereka sendiri yang mempersulit pelaksanaan perintah Allah SWT. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa apabila sejak awal mereka langsung menyembelih sapi betina apa saja, niscaya perintah tersebut telah terlaksana tanpa kesulitan.
Sapi yang Sulit Ditemukan
Dengan kriteria yang sangat spesifik, Bani Israil akhirnya kesulitan mencari sapi yang sesuai. Mereka harus menemukan sapi betina yang berusia pertengahan, berwarna kuning cerah, sehat, tidak bercacat, serta belum pernah digunakan bekerja.Setelah melalui pencarian yang panjang, mereka akhirnya berhasil memperoleh sapi tersebut dan menyembelihnya sebagaimana diperintahkan Allah SWT.
Mayat Hidup Kembali dan Pelaku Terungkap
Usai penyembelihan, Allah SWT memerintahkan melalui Nabi Musa AS agar sebagian anggota tubuh sapi itu dipukulkan kepada jenazah korban pembunuhan.Al-Qur'an tidak menjelaskan bagian tubuh sapi yang digunakan. Sebagian ahli tafsir berpendapat bagian tersebut adalah ekor sapi, namun pendapat ini merupakan hasil ijtihad para mufasir.
Dengan izin Allah SWT, orang yang telah meninggal itu hidup kembali. Saat ditanya siapa pembunuhnya, ia menjawab bahwa pelakunya adalah anak saudaranya sendiri yang menginginkan harta warisan karena korban tidak memiliki anak.
Setelah menyampaikan kesaksian tersebut, korban kembali meninggal dunia. Berdasarkan pengakuan itu, pelaku kemudian ditangkap dan dijatuhi hukuman qishash sesuai syariat yang berlaku saat itu.
Hikmah di Balik Kisah Al-Baqarah
Kisah penyembelihan sapi betina bukan sekadar menjelaskan asal-usul nama Surah Al-Baqarah. Peristiwa ini mengandung pelajaran penting tentang kewajiban menaati perintah Allah SWT tanpa berlebihan dalam mempertanyakan sesuatu yang tidak diperintahkan.Selain itu, peristiwa dihidupkannya kembali orang yang telah meninggal menjadi bukti nyata kekuasaan Allah SWT untuk menghidupkan dan mematikan makhluk-Nya sesuai kehendak-Nya.
Karena itulah, kisah yang diabadikan dalam Surah Al-Baqarah ayat 67-73 menjadi salah satu mukjizat Nabi Musa AS sekaligus pelajaran berharga bagi setiap muslim agar tidak mempersulit urusan agama dengan sikap berlebihan dalam bertanya dan membantah perintah Allah SWT. Wallahu a'lam bishawab.
Baca juga: Asbabun Nuzul 2 Ayat Terakhir Surat Al Baqarah: Kisah Turunnya Ayat yang Menenangkan Para Sahabat
(wid)
Lihat Juga :