Adab Suami Istri agar Rumah Tangga Samawa, Imam Ghazali: Bukan Sekadar Tidak Menyakiti
Selasa, 28 Juli 2026 - 12:30 WIB
loading...
Adab suami istri dalam Islam menjadi fondasi penting dalam membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah (Samawa). Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Adab suami istri dalam Islam menjadi fondasi penting dalam membangun rumah tangga Samawa ( sakinah, mawaddah, wa rahmah). Setiap pasangan Muslim perlu memahami hak dan kewajibannya agar kehidupan rumah tangga berjalan harmonis sesuai tuntunan syariat dan teladan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Ulama besar Islam, Imam Al-Ghazali, menjelaskan bahwa keharmonisan keluarga tidak hanya bergantung pada pemenuhan hak dan kewajiban, tetapi juga pada akhlak mulia dalam berinteraksi antara suami dan istri.
Dalam salah satu penjelasannya, Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa kehidupan rumah tangga tidak akan berjalan harmonis tanpa adanya adab pergaulan dan pemenuhan hak masing-masing pasangan.
Salah satu adab yang paling utama adalah berakhlak baik kepada pasangan serta bersabar menghadapi kekurangan dan ujian yang muncul dalam kehidupan rumah tangga.
Baca juga: Cara Islam Mengelola Konflik Rumah Tangga: Teladan Rasulullah, Fatimah, dan Ali bin Abi Thalib
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut (ma'ruf)." (QS An-Nisa: 19)
Pada ayat lain Allah berfirman:
"Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat." (QS An-Nisa: 21)
Sementara dalam Surah An-Nisa ayat 36, Allah juga memerintahkan agar berbuat baik kepada berbagai golongan manusia, termasuk "teman sejawat", yang oleh sebagian ulama ditafsirkan sebagai istri.
"Ketahuilah bahwa berakhlak baik kepada mereka (istri) bukan cuma tidak menyakiti mereka, tetapi juga sabar menerima keluhan mereka serta bersikap santun ketika mereka sedang marah," tulis Imam Al-Ghazali.
Sikap tersebut merupakan teladan langsung dari Rasulullah SAW. Dalam kehidupan rumah tangga beliau, para istri terkadang mengulang-ulang pembicaraan bahkan pernah ada yang mendiamkan beliau selama sehari semalam. Namun Rasulullah tetap memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang.
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW pernah berkata kepada Aisyah RA:
"Aku mengetahui kapan engkau sedang ridha dan kapan engkau sedang marah."
Aisyah bertanya bagaimana Rasulullah mengetahuinya. Beliau menjawab bahwa ketika Aisyah sedang senang, ia berkata, "Tidak, demi Tuhan Muhammad." Sedangkan ketika marah, ia berkata, "Tidak, demi Tuhan Ibrahim."
Aisyah pun menjawab, "Benar, aku hanya menghindari menyebut namamu."
Menurut Al-Qardhawi, seorang suami dianjurkan bercanda, bergurau, bercumbu, serta menghadirkan suasana yang menyenangkan bagi istrinya. Hal-hal sederhana tersebut mampu menumbuhkan kebahagiaan dan mempererat kasih sayang di antara pasangan.
Rasulullah SAW sendiri dikenal sebagai pribadi yang penuh kelembutan terhadap keluarga. Beliau sering bergurau bersama para istrinya dan pernah mengadakan perlombaan lari dengan Aisyah RA sebagai bentuk kasih sayang dan kedekatan emosional.
Beliau berkata:
"Seyogianya sikap seorang suami terhadap istrinya seperti anak kecil. Namun ketika diperlukan ketegasan, ia tetap menjadi seorang laki-laki."
Dalam penjelasan para ulama terhadap hadis tentang orang yang dibenci Allah karena keras dan sombong, disebutkan bahwa salah satu sifat tercela adalah berlaku kasar kepada istri dan keluarganya.
Karena itu, Islam tidak membenarkan sikap arogan maupun keras hati dalam kehidupan rumah tangga.
Beliau tetap meluangkan waktu untuk para istri, meskipun disibukkan dengan ibadah seperti salat malam, puasa, membaca Al-Qur'an, dan berzikir hingga kedua kaki beliau bengkak karena lamanya berdiri dalam qiyamul lail.
Syaikh Yusuf Al-Qardhawi menegaskan bahwa sesibuk apa pun Rasulullah SAW, beliau tidak pernah melupakan hak-hak istri yang wajib dipenuhi.
Menurutnya, kedekatan seorang hamba kepada Allah tidak boleh menghilangkan sisi kemanusiaan dalam memperlakukan pasangan. Seorang istri tidak hanya membutuhkan nafkah materi, tetapi juga kasih sayang, perhatian, tutur kata yang lembut, serta wajah yang ceria.
Pandangan ini sejalan dengan kisah seorang perempuan yang mengadukan perilaku suaminya kepada Al-Qardhawi. Sang suami dinilai tidak pernah lalai memberi nafkah materi, namun miskin perhatian.
Perempuan itu mengaku tidak pernah melihat senyum suaminya, tidak pernah mendengar kata-kata yang menenangkan, dan merasa keberadaannya sebagai istri kurang dihargai.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak hanya dibangun dengan kecukupan materi, tetapi juga melalui akhlak yang baik, komunikasi yang hangat, dan kasih sayang sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.
Baca juga: Doa agar Dijauhkan dari Perceraian dan Konflik Rumah Tangga
Ulama besar Islam, Imam Al-Ghazali, menjelaskan bahwa keharmonisan keluarga tidak hanya bergantung pada pemenuhan hak dan kewajiban, tetapi juga pada akhlak mulia dalam berinteraksi antara suami dan istri.
Dalam salah satu penjelasannya, Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa kehidupan rumah tangga tidak akan berjalan harmonis tanpa adanya adab pergaulan dan pemenuhan hak masing-masing pasangan.
Salah satu adab yang paling utama adalah berakhlak baik kepada pasangan serta bersabar menghadapi kekurangan dan ujian yang muncul dalam kehidupan rumah tangga.
Baca juga: Cara Islam Mengelola Konflik Rumah Tangga: Teladan Rasulullah, Fatimah, dan Ali bin Abi Thalib
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut (ma'ruf)." (QS An-Nisa: 19)
Pada ayat lain Allah berfirman:
"Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat." (QS An-Nisa: 21)
Sementara dalam Surah An-Nisa ayat 36, Allah juga memerintahkan agar berbuat baik kepada berbagai golongan manusia, termasuk "teman sejawat", yang oleh sebagian ulama ditafsirkan sebagai istri.
Berakhlak Baik Bukan Hanya Tidak Menyakiti
Menurut Imam Al-Ghazali, berbuat baik kepada istri bukan sekadar tidak menyakiti secara fisik maupun lisan. Lebih dari itu, seorang suami dituntut memiliki kesabaran, kelembutan, dan kelapangan hati ketika menghadapi emosi ataupun keluhan istrinya."Ketahuilah bahwa berakhlak baik kepada mereka (istri) bukan cuma tidak menyakiti mereka, tetapi juga sabar menerima keluhan mereka serta bersikap santun ketika mereka sedang marah," tulis Imam Al-Ghazali.
Sikap tersebut merupakan teladan langsung dari Rasulullah SAW. Dalam kehidupan rumah tangga beliau, para istri terkadang mengulang-ulang pembicaraan bahkan pernah ada yang mendiamkan beliau selama sehari semalam. Namun Rasulullah tetap memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang.
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW pernah berkata kepada Aisyah RA:
"Aku mengetahui kapan engkau sedang ridha dan kapan engkau sedang marah."
Aisyah bertanya bagaimana Rasulullah mengetahuinya. Beliau menjawab bahwa ketika Aisyah sedang senang, ia berkata, "Tidak, demi Tuhan Muhammad." Sedangkan ketika marah, ia berkata, "Tidak, demi Tuhan Ibrahim."
Aisyah pun menjawab, "Benar, aku hanya menghindari menyebut namamu."
Suami Dianjurkan Bergurau dan Membahagiakan Istri
Cendekiawan Muslim Syaikh Yusuf Al-Qardhawi dalam bukunya Fatwa-fatwa Kontemporer menambahkan bahwa adab yang dijelaskan Imam Al-Ghazali perlu disempurnakan dengan sikap romantis dalam rumah tangga.Menurut Al-Qardhawi, seorang suami dianjurkan bercanda, bergurau, bercumbu, serta menghadirkan suasana yang menyenangkan bagi istrinya. Hal-hal sederhana tersebut mampu menumbuhkan kebahagiaan dan mempererat kasih sayang di antara pasangan.
Rasulullah SAW sendiri dikenal sebagai pribadi yang penuh kelembutan terhadap keluarga. Beliau sering bergurau bersama para istrinya dan pernah mengadakan perlombaan lari dengan Aisyah RA sebagai bentuk kasih sayang dan kedekatan emosional.
Umar bin Khattab: Bersikap Lembut kepada Istri
Sikap lembut terhadap istri juga pernah disampaikan oleh Umar bin Khattab RA yang dikenal sebagai sosok tegas.Beliau berkata:
"Seyogianya sikap seorang suami terhadap istrinya seperti anak kecil. Namun ketika diperlukan ketegasan, ia tetap menjadi seorang laki-laki."
Dalam penjelasan para ulama terhadap hadis tentang orang yang dibenci Allah karena keras dan sombong, disebutkan bahwa salah satu sifat tercela adalah berlaku kasar kepada istri dan keluarganya.
Karena itu, Islam tidak membenarkan sikap arogan maupun keras hati dalam kehidupan rumah tangga.
Rasulullah SAW Teladan Terbaik dalam Rumah Tangga
Kesibukan Rasulullah SAW sebagai pemimpin umat, kepala negara, panglima perang, sekaligus pendakwah tidak pernah membuat beliau mengabaikan hak-hak keluarganya.Beliau tetap meluangkan waktu untuk para istri, meskipun disibukkan dengan ibadah seperti salat malam, puasa, membaca Al-Qur'an, dan berzikir hingga kedua kaki beliau bengkak karena lamanya berdiri dalam qiyamul lail.
Syaikh Yusuf Al-Qardhawi menegaskan bahwa sesibuk apa pun Rasulullah SAW, beliau tidak pernah melupakan hak-hak istri yang wajib dipenuhi.
Menurutnya, kedekatan seorang hamba kepada Allah tidak boleh menghilangkan sisi kemanusiaan dalam memperlakukan pasangan. Seorang istri tidak hanya membutuhkan nafkah materi, tetapi juga kasih sayang, perhatian, tutur kata yang lembut, serta wajah yang ceria.
Pandangan ini sejalan dengan kisah seorang perempuan yang mengadukan perilaku suaminya kepada Al-Qardhawi. Sang suami dinilai tidak pernah lalai memberi nafkah materi, namun miskin perhatian.
Perempuan itu mengaku tidak pernah melihat senyum suaminya, tidak pernah mendengar kata-kata yang menenangkan, dan merasa keberadaannya sebagai istri kurang dihargai.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak hanya dibangun dengan kecukupan materi, tetapi juga melalui akhlak yang baik, komunikasi yang hangat, dan kasih sayang sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.
Baca juga: Doa agar Dijauhkan dari Perceraian dan Konflik Rumah Tangga
(wid)
Lihat Juga :