Bijak di Medsos untuk Menjaga Pahala Puasa
Rabu, 06 Mei 2020 - 07:01 WIB
loading...
A
A
A
Dai muda Nahdatul Ulama (NU) Ustadz M Najmi Fathoni mengatakan, sangat penting bagi seluruh umat muslim di bulan Ramadan ini untuk menjaga lisan maupun tulisan. Apalagi di era di mana banyak masyarakat menggunakan medsos dalam menyuarakan sesuatu.
Najmi menjelaskan, tujuan dari datangnya bulan suci Ramadhan ialah untuk meningkatkan derajat orang-orang yang beriman menjadi muttaqin di sisi Allah SWT. Hal ini sesuai dengan landasan apa yang tertulis di Alquran yakni tentang perintah puasa itu adalah la’allakum tattaquun.
Najmi menerangkan, ibadah puasa ini dimaknai dengan al imsaak atau menahan dari hal yang membatalkan puasa. Akan tetapi, yang menjadi perhatian lebih bukan hanya sekadar menahan haus dan lapar sehabis imsak hingga waktu berbuka.
“Jika merujuk hadis dinyatakan bahwa banyak orang yang berpuasa tetapi hanya dapat lapar dan haus saja. Artinya pahalanya tidak didapatkan,” ujarnya kemarin.
Orang-orang yang tidak beruntung tersebut, kata dia, di antaranya orang-orang yang tidak menggunakan lidah, pendengaran, mata dan hati untuk kebaikan misalnya dengan membaca Alquran dan kebaikan lainnya. Akan tetapi digunakan untuk bergunjing atau membicarakan orang lain.
Dia lalu menceritakan dialog Nabi Muhammad SAW dengan para sahabat. "Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?,” kata Nabi. Para sahabat menjawab, ”Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.” Tetapi Nabi SAW berkata, “Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari kiamat membawa (pahala) salat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka” (HR. Muslim).
Najmi melanjutkan, seorang muslim yang baik itu adalah bukan seseorang yang suka melaknat, bukan pula yang suka mencela dan berkata keji atau kotor. Hukum bagi seseorang yang melakukan fitnah atau membicarakan aib orang lain dengan menulis atau berkata langsung sama saja yakni perbuatan buruk. (Neneng Zubaidah/Okezone)
Najmi menjelaskan, tujuan dari datangnya bulan suci Ramadhan ialah untuk meningkatkan derajat orang-orang yang beriman menjadi muttaqin di sisi Allah SWT. Hal ini sesuai dengan landasan apa yang tertulis di Alquran yakni tentang perintah puasa itu adalah la’allakum tattaquun.
Najmi menerangkan, ibadah puasa ini dimaknai dengan al imsaak atau menahan dari hal yang membatalkan puasa. Akan tetapi, yang menjadi perhatian lebih bukan hanya sekadar menahan haus dan lapar sehabis imsak hingga waktu berbuka.
“Jika merujuk hadis dinyatakan bahwa banyak orang yang berpuasa tetapi hanya dapat lapar dan haus saja. Artinya pahalanya tidak didapatkan,” ujarnya kemarin.
Orang-orang yang tidak beruntung tersebut, kata dia, di antaranya orang-orang yang tidak menggunakan lidah, pendengaran, mata dan hati untuk kebaikan misalnya dengan membaca Alquran dan kebaikan lainnya. Akan tetapi digunakan untuk bergunjing atau membicarakan orang lain.
Dia lalu menceritakan dialog Nabi Muhammad SAW dengan para sahabat. "Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?,” kata Nabi. Para sahabat menjawab, ”Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.” Tetapi Nabi SAW berkata, “Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari kiamat membawa (pahala) salat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka” (HR. Muslim).
Najmi melanjutkan, seorang muslim yang baik itu adalah bukan seseorang yang suka melaknat, bukan pula yang suka mencela dan berkata keji atau kotor. Hukum bagi seseorang yang melakukan fitnah atau membicarakan aib orang lain dengan menulis atau berkata langsung sama saja yakni perbuatan buruk. (Neneng Zubaidah/Okezone)
(ysw)
Lihat Juga :