Pesan Imam Al Ghazali : Berikanlah Hak Anak untuk Bermain
Selasa, 13 Oktober 2020 - 16:49 WIB
loading...
A
A
A
(Baca juga : Ah Ternyata, 'Perkawinan' Bank Syariah BUMN Belum Sah )
Dalam diri setiap manusia setidaknya ada empat fitrah yang telah ditanamkan, yakni fitrah zaman dan tempat, fitrah belajar, fitrah kemanusiaan, dan fitrah keimanan. Menjadi keputusan guru dan orang tualah apakah fitrah yang dimiliki anak-anak ini dikembangkan atau tidak.
Sementara esensi pendidikan adalah merawat dan menumbuhkembangkan fitrah anak ini. Dari sisi fitrah kemanusiaan, anak juga punya rasa ingin dihargai dan memiliki perasaan yang halus. Karena itu, harus berhati-hati dalam berbicara kepada anak, bahkan sejak di dalam kandungan.
(Baca juga: Riza Berharap Aksi Demo di Jakarta Langsung Didengar Pemerintah Pusat )
Untuk fitrah zaman dan tempat, Allah SWT menghadirkan makhluknya sesuai dengan kondisi dan zaman yang ada. Maka dari itu, tidak bisa anak-anak yang lahir di zaman penuh teknologi dididik dengan gaya 70-an hingga 90-an dimana tidak ada gawai atau teknologi. "Meniadakan anak-anak dari televisi atau gawai itu tidak mungkin. Yang mungkin adalah mengedukasi penggunanya. Disesuaikan, tidak mungkin juga anak bayi diberi ponsel," ujar Ketua Umum Indonesia Emas (IE) Rahmat Saripudin Syehani.
(Baca juga : Soal Aktor Intelektual Demo UU Ciptaker, Arief Poyuono Beda Pendapat dengan Prabowo )
Adalah fitrah anak untuk belajar. Sejak usia 100 hari di dalam kandungan, sel-sel otak meningkat secara drastis. Hingga anak berusia tiga bulan setelah dilahirkan, sel-sel ini semakin berkembang bahkan melebihi kapasitasnya. Baru setelah itu beberapa sel otak mengalami kehancuran menyesuaikan dengan kemampuan otak.
Sel-sel otak anak ini bisa berkembang dengan belajar. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengembangkan anak dalam hal pelajaran dan pendidikan. Pengembangan ini bisa dilakukan dari berbagai sisi, namun bermain adalah salah satu bentuk belajar anak yang paling nyata.
(Baca juga : Inspiratif, Pria Palestina Bikin Mobil Sendiri Selama Pandemi )
Wallahu A'lam
Dalam diri setiap manusia setidaknya ada empat fitrah yang telah ditanamkan, yakni fitrah zaman dan tempat, fitrah belajar, fitrah kemanusiaan, dan fitrah keimanan. Menjadi keputusan guru dan orang tualah apakah fitrah yang dimiliki anak-anak ini dikembangkan atau tidak.
Sementara esensi pendidikan adalah merawat dan menumbuhkembangkan fitrah anak ini. Dari sisi fitrah kemanusiaan, anak juga punya rasa ingin dihargai dan memiliki perasaan yang halus. Karena itu, harus berhati-hati dalam berbicara kepada anak, bahkan sejak di dalam kandungan.
(Baca juga: Riza Berharap Aksi Demo di Jakarta Langsung Didengar Pemerintah Pusat )
Untuk fitrah zaman dan tempat, Allah SWT menghadirkan makhluknya sesuai dengan kondisi dan zaman yang ada. Maka dari itu, tidak bisa anak-anak yang lahir di zaman penuh teknologi dididik dengan gaya 70-an hingga 90-an dimana tidak ada gawai atau teknologi. "Meniadakan anak-anak dari televisi atau gawai itu tidak mungkin. Yang mungkin adalah mengedukasi penggunanya. Disesuaikan, tidak mungkin juga anak bayi diberi ponsel," ujar Ketua Umum Indonesia Emas (IE) Rahmat Saripudin Syehani.
(Baca juga : Soal Aktor Intelektual Demo UU Ciptaker, Arief Poyuono Beda Pendapat dengan Prabowo )
Adalah fitrah anak untuk belajar. Sejak usia 100 hari di dalam kandungan, sel-sel otak meningkat secara drastis. Hingga anak berusia tiga bulan setelah dilahirkan, sel-sel ini semakin berkembang bahkan melebihi kapasitasnya. Baru setelah itu beberapa sel otak mengalami kehancuran menyesuaikan dengan kemampuan otak.
Sel-sel otak anak ini bisa berkembang dengan belajar. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengembangkan anak dalam hal pelajaran dan pendidikan. Pengembangan ini bisa dilakukan dari berbagai sisi, namun bermain adalah salah satu bentuk belajar anak yang paling nyata.
(Baca juga : Inspiratif, Pria Palestina Bikin Mobil Sendiri Selama Pandemi )
Wallahu A'lam
(wid)
Lihat Juga :