Pesan Imam Al Ghazali : Berikanlah Hak Anak untuk Bermain
Selasa, 13 Oktober 2020 - 16:49 WIB
loading...
Anak butuh hiburan menyegarkan untuk mengembangkan akalnya, pengetahuannya dan mendidiknya dan bermain adalah dunianya. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Masa anak-anak adalah masa emas bagi pembentukan karakter dan kecerdasan mereka. Sebagai orang tua, terkadang kita tidak mudah memahami perilaku dan keinginan batinnya seperti apa. Mereka memiliki alamnya sendiri yang memang anak.
Di antara kebiasaan anak adalah bermain. Dunia mereka adalah dunia bermain dan permainan. Bahkan hingga lupa waktu. Islam juga tidak mengabaikan betapa banyak manfaat sekaligus mendatangkan kebahagiaan tersendiri bagi anak perihal bermain ini.
(Baca juga : Keluar Angin dari Vagina, Apakah Membatalkan Wudhu? )
Seperti diungkapkan Imam Al-Ghazali dalam kitab 'Ihya 'Ulumuddin', ia berkata: “Usai keluar dari sekolah, sang anak hendaknya diizinkan untuk bermain dengan mainan yang disukainya untuk merehatkan diri dari kelelahan belajar di sekolah. Sebab, melarang anak bermain dan hanya disuruh belajar terus akan menjenuhkan pikirannya, memadamkan kecerdasannya dan membuat masa kecilnya kurang bahagia. Anak yang tidak boleh bermain pada akhirnya akan berontak dari tekanan itu dengan berbagai macam cara”.
(Baca juga : Memandang Lelaki Dibalik Jilbab, Bolehkah? )
Anak butuh hiburan menyegarkan untuk mengembangkan akalnya, pengetahuannya dan mendidiknya. Dari Anas radhiyallahu'anhu ia berkata, “Pada suatu hari aku melayani Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Setelah tugasku selesai, aku berkata dalam hati, Rasulullah pasti sedang istirahat siang. Akhirnya, aku keluar ke tempat anak-anak bermain. Tak lama kemudian Rasulullah datang seraya mengucapkan salam kepada anak-anak yang sedang bermain. Beliau lalu memanggil dan menyuruhku untuk suatu keperluan. Akupun segera pergi untuk menunaikannya, sedangkan beliau duduk di bawah naungan pohon hingga aku kembali…” (HR. Ahmad)
Anak memiliki tabiat berbeda dengan orang dewasa. Sebagai orang tua dan pendidik yang baik, kita hendaklah memberikan mainan yang mendidik, tidak bertentangan dengan syariatNya, aman serta disesuaikan usianya.
(Baca juga : Memperbaiki dan Meluruskan Niat )
Berkembang Sesuai Fitrahnya
Manusia lahir sesuai dengan fitrahnya. Maka tidak perlu khawatir akan anak-anak kita. Mereka dilahirkan sesuai dengan zaman dan tempatnya. Karena Allah Ta'ala telah menyiapkan fitrah kepada masing-masing anak.
Allat Ta'ala berfirman :
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah."(QS Ar Rum : 30)
Di antara kebiasaan anak adalah bermain. Dunia mereka adalah dunia bermain dan permainan. Bahkan hingga lupa waktu. Islam juga tidak mengabaikan betapa banyak manfaat sekaligus mendatangkan kebahagiaan tersendiri bagi anak perihal bermain ini.
(Baca juga : Keluar Angin dari Vagina, Apakah Membatalkan Wudhu? )
Seperti diungkapkan Imam Al-Ghazali dalam kitab 'Ihya 'Ulumuddin', ia berkata: “Usai keluar dari sekolah, sang anak hendaknya diizinkan untuk bermain dengan mainan yang disukainya untuk merehatkan diri dari kelelahan belajar di sekolah. Sebab, melarang anak bermain dan hanya disuruh belajar terus akan menjenuhkan pikirannya, memadamkan kecerdasannya dan membuat masa kecilnya kurang bahagia. Anak yang tidak boleh bermain pada akhirnya akan berontak dari tekanan itu dengan berbagai macam cara”.
(Baca juga : Memandang Lelaki Dibalik Jilbab, Bolehkah? )
Anak butuh hiburan menyegarkan untuk mengembangkan akalnya, pengetahuannya dan mendidiknya. Dari Anas radhiyallahu'anhu ia berkata, “Pada suatu hari aku melayani Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Setelah tugasku selesai, aku berkata dalam hati, Rasulullah pasti sedang istirahat siang. Akhirnya, aku keluar ke tempat anak-anak bermain. Tak lama kemudian Rasulullah datang seraya mengucapkan salam kepada anak-anak yang sedang bermain. Beliau lalu memanggil dan menyuruhku untuk suatu keperluan. Akupun segera pergi untuk menunaikannya, sedangkan beliau duduk di bawah naungan pohon hingga aku kembali…” (HR. Ahmad)
Anak memiliki tabiat berbeda dengan orang dewasa. Sebagai orang tua dan pendidik yang baik, kita hendaklah memberikan mainan yang mendidik, tidak bertentangan dengan syariatNya, aman serta disesuaikan usianya.
(Baca juga : Memperbaiki dan Meluruskan Niat )
Berkembang Sesuai Fitrahnya
Manusia lahir sesuai dengan fitrahnya. Maka tidak perlu khawatir akan anak-anak kita. Mereka dilahirkan sesuai dengan zaman dan tempatnya. Karena Allah Ta'ala telah menyiapkan fitrah kepada masing-masing anak.
Allat Ta'ala berfirman :
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah."(QS Ar Rum : 30)
Lihat Juga :