Pesan Imam Al Ghazali : Berikanlah Hak Anak untuk Bermain

loading...
Pesan Imam Al Ghazali : Berikanlah Hak Anak untuk Bermain
Anak butuh hiburan menyegarkan untuk mengembangkan akalnya, pengetahuannya dan mendidiknya dan bermain adalah dunianya. Foto ilustrasi/ist
Masa anak-anak adalah masa emas bagi pembentukan karakter dan kecerdasan mereka. Sebagai orang tua, terkadang kita tidak mudah memahami perilaku dan keinginan batinnya seperti apa. Mereka memiliki alamnya sendiri yang memang anak.

Di antara kebiasaan anak adalah bermain. Dunia mereka adalah dunia bermain dan permainan. Bahkan hingga lupa waktu. Islam juga tidak mengabaikan betapa banyak manfaat sekaligus mendatangkan kebahagiaan tersendiri bagi anak perihal bermain ini.

(Baca juga : Keluar Angin dari Vagina, Apakah Membatalkan Wudhu? )

Seperti diungkapkan Imam Al-Ghazali dalam kitab 'Ihya 'Ulumuddin', ia berkata: “Usai keluar dari sekolah, sang anak hendaknya diizinkan untuk bermain dengan mainan yang disukainya untuk merehatkan diri dari kelelahan belajar di sekolah. Sebab, melarang anak bermain dan hanya disuruh belajar terus akan menjenuhkan pikirannya, memadamkan kecerdasannya dan membuat masa kecilnya kurang bahagia. Anak yang tidak boleh bermain pada akhirnya akan berontak dari tekanan itu dengan berbagai macam cara”.

(Baca juga : Memandang Lelaki Dibalik Jilbab, Bolehkah? )

Anak butuh hiburan menyegarkan untuk mengembangkan akalnya, pengetahuannya dan mendidiknya. Dari Anas radhiyallahu'anhu ia berkata, “Pada suatu hari aku melayani Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Setelah tugasku selesai, aku berkata dalam hati, Rasulullah pasti sedang istirahat siang. Akhirnya, aku keluar ke tempat anak-anak bermain. Tak lama kemudian Rasulullah datang seraya mengucapkan salam kepada anak-anak yang sedang bermain. Beliau lalu memanggil dan menyuruhku untuk suatu keperluan. Akupun segera pergi untuk menunaikannya, sedangkan beliau duduk di bawah naungan pohon hingga aku kembali…” (HR. Ahmad)

Anak memiliki tabiat berbeda dengan orang dewasa. Sebagai orang tua dan pendidik yang baik, kita hendaklah memberikan mainan yang mendidik, tidak bertentangan dengan syariatNya, aman serta disesuaikan usianya.

(Baca juga : Memperbaiki dan Meluruskan Niat )

Berkembang Sesuai Fitrahnya

Manusia lahir sesuai dengan fitrahnya. Maka tidak perlu khawatir akan anak-anak kita. Mereka dilahirkan sesuai dengan zaman dan tempatnya. Karena Allah Ta'ala telah menyiapkan fitrah kepada masing-masing anak.

Allat Ta'ala berfirman :

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah."(QS Ar Rum : 30)

(Baca juga : Ah Ternyata, 'Perkawinan' Bank Syariah BUMN Belum Sah )

Dalam diri setiap manusia setidaknya ada empat fitrah yang telah ditanamkan, yakni fitrah zaman dan tempat, fitrah belajar, fitrah kemanusiaan, dan fitrah keimanan. Menjadi keputusan guru dan orang tualah apakah fitrah yang dimiliki anak-anak ini dikembangkan atau tidak.

Sementara esensi pendidikan adalah merawat dan menumbuhkembangkan fitrah anak ini. Dari sisi fitrah kemanusiaan, anak juga punya rasa ingin dihargai dan memiliki perasaan yang halus. Karena itu, harus berhati-hati dalam berbicara kepada anak, bahkan sejak di dalam kandungan.

(Baca juga: Riza Berharap Aksi Demo di Jakarta Langsung Didengar Pemerintah Pusat )

Untuk fitrah zaman dan tempat, Allah SWT menghadirkan makhluknya sesuai dengan kondisi dan zaman yang ada. Maka dari itu, tidak bisa anak-anak yang lahir di zaman penuh teknologi dididik dengan gaya 70-an hingga 90-an dimana tidak ada gawai atau teknologi. "Meniadakan anak-anak dari televisi atau gawai itu tidak mungkin. Yang mungkin adalah mengedukasi penggunanya. Disesuaikan, tidak mungkin juga anak bayi diberi ponsel," ujar Ketua Umum Indonesia Emas (IE) Rahmat Saripudin Syehani.

(Baca juga : Soal Aktor Intelektual Demo UU Ciptaker, Arief Poyuono Beda Pendapat dengan Prabowo )

Adalah fitrah anak untuk belajar. Sejak usia 100 hari di dalam kandungan, sel-sel otak meningkat secara drastis. Hingga anak berusia tiga bulan setelah dilahirkan, sel-sel ini semakin berkembang bahkan melebihi kapasitasnya. Baru setelah itu beberapa sel otak mengalami kehancuran menyesuaikan dengan kemampuan otak.

Sel-sel otak anak ini bisa berkembang dengan belajar. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengembangkan anak dalam hal pelajaran dan pendidikan. Pengembangan ini bisa dilakukan dari berbagai sisi, namun bermain adalah salah satu bentuk belajar anak yang paling nyata.

(Baca juga : Inspiratif, Pria Palestina Bikin Mobil Sendiri Selama Pandemi )

Wallahu A'lam
(wid)
cover top ayah
يٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ وَالۡاِنۡسِ اِنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ اَنۡ تَنۡفُذُوۡا مِنۡ اَقۡطَارِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ فَانْفُذُوۡا‌ؕ لَا تَنۡفُذُوۡنَ اِلَّا بِسُلۡطٰنٍ‌ۚ
Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah).

(QS. Ar-Rahman:33)
cover bottom ayah
preload video