Upaya Meraih Kekayaan: Jangan Anggap Sepele Doa dan Tawakal
Rabu, 14 Oktober 2020 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Tawakal yang paling utama adalah tawakal dalam hal yang wajib; yaitu yang wajib terhadap Allah Azza wa Jalla, yang wajib terhadap sesama manusia, dan yang wajib terhadap dirinya. Yang wajib terhadap Allah adalah dengan meminta tolong kepada Allah Ta’ala dalam taat kepada-Nya, bertumpu pada-Nya dan tidak bersandar pada kekuatan dirinya. Ini disertai dengan usaha dan ikhtiar. (Baca juga: Hakikat Tawakkal dan Doa yang Diajarkan Rasulullah )Adapun yang wajib terhadap diri adalah dengan bersandar kepada Allah Azza wa Jalla dalam memperbaiki urusan dirinya, sambil meniti jalan untuk mencari kebaikan diri dan kemanfaatannya.
Sedangkan yang wajib terhadap sesama manusia adalah bertawakal kepada Allah SWT dalam memperbaiki perkaranya, dengan memperkuat relasi antara diri dan Rabb nya, sehingga Allah pun akan membuat relasi dirinya dengan sesama manusia menjadi harmonis. Sebagaimana ia juga meminta pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam memperbaiki sesama manusia, tidak mengandalkan ilmu dan usahanya. Karena ia tahu bahwa hati manusia ada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Baca juga: Mengubah Takut dan Bimbang Dengan Tawakkal Kepada Allah )
Sedangkan tawakal yang paling bermanfaat adalah tawakal terhadap suatu efek yang terjadi dalam hal kemaslahatan terkait agama, dan dalam hal menolak bahaya terkait agama.
Ini merupakan tawakalnya para nabi dalam menegakkan agama Allah Azza wa Jalla dan menolak sepak terjang yang dilakukan para perusak di muka bumi. Dan inilah tawakalnya para pewaris nabi.
Ada yang mengartikan tawakal sebagai bentuk percaya dan yakin dengan (kekuasaan) Allah Azza wa Jalla, merasa tenang dan nyaman dalam bersandar kepada-Nya.
Baca juga: Amnesty International: Penangkapan Tokoh KAMI Bertujuan Sebar Ketakutan
Ada lagi yang mengartikannya sebagai bentuk keridhaan terhadap apa yang ditakdirkan. Sebagian orang salih berkata, “ada orang yang berkata: aku bertawakal kepada Allah Azza wa Jalla! Namun sebenarnya ia dusta kepada Allah Azza wa Jalla. Sekiranya ia benar-benar tawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla, ia pasti akan ridha dengan apa yang Allah perbuat terhadapnya.
Mewujudkan tawakal, bukan kemudian berarti meniadakan usaha menempuh sebab dan ikhtiar mencari rezeki. Tawakal akan menjadi nonsense ketika tanpa diiringi usaha menempuh sebab dan ikhtiar. Tawakkal tanpa ikhtiar sama saja dengan bentuk berpangku tangan dan pengangguran.
Baca juga: Jenguk Anggota KAMI, Aktivis ProDem: Pak Gatot Nurmantyo Ditunggu Lho...
Di samping bertawakal, Allah Azza wa Jalla pun memerintahkan untuk menempuh sebab dan usaha. Jadi, meniti sebab dengan berusaha memberdayakan anggota badan, juga merupakan bentuk ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla, sebagaimana bertawakal kepada Allah Azza wa Jalla dengan hatinya, merupakan bentuk keimanan kepada-Nya.
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allâh dan ingatlah Allâh banyak-banyak supaya kamu beruntung. [Al-Jumu’ah/ 62: 10]
Artinya menebarlah di penjuru bumi untuk mencari penghidupan dengan berbagai cara yang dihalalkan, agar harta halal bisa mengalir dan rezeki-Nya pun bisa dinikmati. Dan perlu diingat, bahwa ikhtiar kita tidak akan mendatangkan hasil kecuali apa yang telah Allah Taala tetapkan.
Baca juga: Deklarator KAMI Sebut Syahganda Nainggolan Dicecar Soal Sejumlah Cuitan di Twitter
Bila memang sulit diwujudkan, maka itulah apa yang telah Allah takdirkan. Kalaupun memang mudah, maka itu karena Allah telah memudahkannya. Karena usaha dan ikhtiar bukanlah yang memberi rezeki, namun Allah Dzat Yang memberi rezeki.
Oleh karena itu, merupakan bentuk kesempurnaan tawakal adalah tidak condong dan berserah pada sebab, serta memutuskan keterpautan hati dengan sebab. Sehingga keadaan hatinya adalah percaya sepenuhnya kepada Allah, bukan kepada sebab, sedangkan sikap fisiknya adalah mengupayakan sebab dan ikhtiar.
Bisa saja Allah memberi rezeki kepada sebagian hamba yang yakin dan tawakal dengan tulus, sehingga Allah Taala pun memberikan hal yang di luar kadar kebiasaan. Ini seperti halnya makanan dan buah-buahan yang datang dari Allah Azza wa Jalla kepada Maryam, di mana ia telah beribadah secara total kepada Allah SWT.
Baca juga: Pedemo UU Ciptaker Mayoritas Milenial, Kinerja Stafsus Dipertanyakan
Sebagaimana bertawakal kepada Allah yang benar adalah tidak mengandalkan tawakal saja dalam meraih rezeki atau lainnya, tanpa meniti sebab dan ikhtiar. Inipun bentuk tawakal yang kurang.
Hakikat tawakal adalah mengetahui bahwa Allah telah menjamin rezeki dan kecukupan bagi hamba-Nya, dan itu pasti, sehingga hatipun meyakini sepenuhnya dan menyerahkan urusannya kepada Allah SWT, tanpa meninggalkan upaya meniti sebab dan ikhtiar dalam mencari rezeki. Selama seseorang masih hidup, maka Allah Azza wa Jalla pun menjamin rezekinya.
Inilah di antara beberapa sebab meraih harta yang mungkin banyak diabaikan orang, padahal ia sangat menentukan. Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah taufiq-Nya kepada kita untuk senantiasa melakukan segala yang terbaik dan sejalan dengan syari’at-Nya.
Sedangkan yang wajib terhadap sesama manusia adalah bertawakal kepada Allah SWT dalam memperbaiki perkaranya, dengan memperkuat relasi antara diri dan Rabb nya, sehingga Allah pun akan membuat relasi dirinya dengan sesama manusia menjadi harmonis. Sebagaimana ia juga meminta pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam memperbaiki sesama manusia, tidak mengandalkan ilmu dan usahanya. Karena ia tahu bahwa hati manusia ada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Baca juga: Mengubah Takut dan Bimbang Dengan Tawakkal Kepada Allah )
Sedangkan tawakal yang paling bermanfaat adalah tawakal terhadap suatu efek yang terjadi dalam hal kemaslahatan terkait agama, dan dalam hal menolak bahaya terkait agama.
Ini merupakan tawakalnya para nabi dalam menegakkan agama Allah Azza wa Jalla dan menolak sepak terjang yang dilakukan para perusak di muka bumi. Dan inilah tawakalnya para pewaris nabi.
Ada yang mengartikan tawakal sebagai bentuk percaya dan yakin dengan (kekuasaan) Allah Azza wa Jalla, merasa tenang dan nyaman dalam bersandar kepada-Nya.
Baca juga: Amnesty International: Penangkapan Tokoh KAMI Bertujuan Sebar Ketakutan
Ada lagi yang mengartikannya sebagai bentuk keridhaan terhadap apa yang ditakdirkan. Sebagian orang salih berkata, “ada orang yang berkata: aku bertawakal kepada Allah Azza wa Jalla! Namun sebenarnya ia dusta kepada Allah Azza wa Jalla. Sekiranya ia benar-benar tawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla, ia pasti akan ridha dengan apa yang Allah perbuat terhadapnya.
Mewujudkan tawakal, bukan kemudian berarti meniadakan usaha menempuh sebab dan ikhtiar mencari rezeki. Tawakal akan menjadi nonsense ketika tanpa diiringi usaha menempuh sebab dan ikhtiar. Tawakkal tanpa ikhtiar sama saja dengan bentuk berpangku tangan dan pengangguran.
Baca juga: Jenguk Anggota KAMI, Aktivis ProDem: Pak Gatot Nurmantyo Ditunggu Lho...
Di samping bertawakal, Allah Azza wa Jalla pun memerintahkan untuk menempuh sebab dan usaha. Jadi, meniti sebab dengan berusaha memberdayakan anggota badan, juga merupakan bentuk ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla, sebagaimana bertawakal kepada Allah Azza wa Jalla dengan hatinya, merupakan bentuk keimanan kepada-Nya.
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allâh dan ingatlah Allâh banyak-banyak supaya kamu beruntung. [Al-Jumu’ah/ 62: 10]
Artinya menebarlah di penjuru bumi untuk mencari penghidupan dengan berbagai cara yang dihalalkan, agar harta halal bisa mengalir dan rezeki-Nya pun bisa dinikmati. Dan perlu diingat, bahwa ikhtiar kita tidak akan mendatangkan hasil kecuali apa yang telah Allah Taala tetapkan.
Baca juga: Deklarator KAMI Sebut Syahganda Nainggolan Dicecar Soal Sejumlah Cuitan di Twitter
Bila memang sulit diwujudkan, maka itulah apa yang telah Allah takdirkan. Kalaupun memang mudah, maka itu karena Allah telah memudahkannya. Karena usaha dan ikhtiar bukanlah yang memberi rezeki, namun Allah Dzat Yang memberi rezeki.
Oleh karena itu, merupakan bentuk kesempurnaan tawakal adalah tidak condong dan berserah pada sebab, serta memutuskan keterpautan hati dengan sebab. Sehingga keadaan hatinya adalah percaya sepenuhnya kepada Allah, bukan kepada sebab, sedangkan sikap fisiknya adalah mengupayakan sebab dan ikhtiar.
Bisa saja Allah memberi rezeki kepada sebagian hamba yang yakin dan tawakal dengan tulus, sehingga Allah Taala pun memberikan hal yang di luar kadar kebiasaan. Ini seperti halnya makanan dan buah-buahan yang datang dari Allah Azza wa Jalla kepada Maryam, di mana ia telah beribadah secara total kepada Allah SWT.
Baca juga: Pedemo UU Ciptaker Mayoritas Milenial, Kinerja Stafsus Dipertanyakan
Sebagaimana bertawakal kepada Allah yang benar adalah tidak mengandalkan tawakal saja dalam meraih rezeki atau lainnya, tanpa meniti sebab dan ikhtiar. Inipun bentuk tawakal yang kurang.
Hakikat tawakal adalah mengetahui bahwa Allah telah menjamin rezeki dan kecukupan bagi hamba-Nya, dan itu pasti, sehingga hatipun meyakini sepenuhnya dan menyerahkan urusannya kepada Allah SWT, tanpa meninggalkan upaya meniti sebab dan ikhtiar dalam mencari rezeki. Selama seseorang masih hidup, maka Allah Azza wa Jalla pun menjamin rezekinya.
Inilah di antara beberapa sebab meraih harta yang mungkin banyak diabaikan orang, padahal ia sangat menentukan. Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah taufiq-Nya kepada kita untuk senantiasa melakukan segala yang terbaik dan sejalan dengan syari’at-Nya.
(mhy)
Lihat Juga :