Inilah Penyebab Hati Tidak Merasakan Manisnya Iman
Minggu, 25 Oktober 2020 - 14:57 WIB
loading...
A
A
A
Ustadz asal Jepara Jawa Tengah yang rutin mengisi kajian di jaringan dakwah muslim ini mengibaratkan, hati adalah ibarat raja. Ketika raja adalah seorang yang saleh, baik, taat, maka yang diperintahkan adalah sesuatu yang baik. Sehingga masyarakatnya akan menjadi masyarakat yang baik.
(Baca juga : Anies Perpanjang Masa PSBB Transisi Jakarta hingga 8 November 2020 )
Kalau ada hal-hal yang buruk, raja tersebut akan melarang dan berusaha untuk menghilangkannya. Sebaliknya jika rajanya buruk, maka yang keluar dari lisannya juga buruk. Kebijakan-kebijakannya juga akan menjadi buruk. Kalau ada kebaikan, tentu dia tidak menginginkannya. Bahkan kalau bisa, yang terjadi adalah sesuatu yang memuaskan nafsunya.
Begitupula hati, apabila hati kita baik, bersih, maka jasad kita pun akan seperti itu. Namun jika hati kita kotor, hati kita buta, maka perintah-perintahnya pun akan tidak jelas dan tidak baik.
(Baca juga : Ekspor ke Negara Islam Surplus USD2,2 Miliar, Apa Saja Produknya? )
Orang yang hatinya bersih akan menjadi orang yang paling mulia. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu pernah ditanya, “Siapakah yang paling mulia dari manusia?” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab:
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ قَالَ كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ قَالُوا صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ قَالَ هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ لَا إِثْمَ فِيهِ وَلَا بَغْيَ وَلَا غِلَّ وَلَا حَسَدَ
“Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bersih hatinya dan selalu benar atau jujur lisannya.” Kemudian mereka para sahabat berkata, mengenai jujur atau benar lisannya, kami sudah mengetahuinya, tetapi apakah yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya?” Beliau menjawab, “Yaitu seseorang yang bertakwa dan bersih, yang tidak terdapat kedurhakaan dan kezaliman padanya, tidak iri hati (hasad), dan juga tidak dengki.”. (HR. Ibnu Majah)
(Baca juga : Munarman FPI Pastikan Beri Bantuan Pengacara untuk Gus Nur )
Wallahu A'lam
(Baca juga : Anies Perpanjang Masa PSBB Transisi Jakarta hingga 8 November 2020 )
Kalau ada hal-hal yang buruk, raja tersebut akan melarang dan berusaha untuk menghilangkannya. Sebaliknya jika rajanya buruk, maka yang keluar dari lisannya juga buruk. Kebijakan-kebijakannya juga akan menjadi buruk. Kalau ada kebaikan, tentu dia tidak menginginkannya. Bahkan kalau bisa, yang terjadi adalah sesuatu yang memuaskan nafsunya.
Begitupula hati, apabila hati kita baik, bersih, maka jasad kita pun akan seperti itu. Namun jika hati kita kotor, hati kita buta, maka perintah-perintahnya pun akan tidak jelas dan tidak baik.
(Baca juga : Ekspor ke Negara Islam Surplus USD2,2 Miliar, Apa Saja Produknya? )
Orang yang hatinya bersih akan menjadi orang yang paling mulia. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu pernah ditanya, “Siapakah yang paling mulia dari manusia?” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab:
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ قَالَ كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ قَالُوا صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ قَالَ هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ لَا إِثْمَ فِيهِ وَلَا بَغْيَ وَلَا غِلَّ وَلَا حَسَدَ
“Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bersih hatinya dan selalu benar atau jujur lisannya.” Kemudian mereka para sahabat berkata, mengenai jujur atau benar lisannya, kami sudah mengetahuinya, tetapi apakah yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya?” Beliau menjawab, “Yaitu seseorang yang bertakwa dan bersih, yang tidak terdapat kedurhakaan dan kezaliman padanya, tidak iri hati (hasad), dan juga tidak dengki.”. (HR. Ibnu Majah)
(Baca juga : Munarman FPI Pastikan Beri Bantuan Pengacara untuk Gus Nur )
Wallahu A'lam
(wid)
Lihat Juga :