Perlu Tekad Kuat untuk Naik Kelas di Bulan Ramadhan Tahun Ini
Kamis, 16 April 2020 - 04:25 WIB
loading...
A
A
A
Adapun di akhirat, maka manusia juga terbagi kedalam tiga kelompok sesuai dengan firman Allah swt:
“Yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu, dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu, dan orang-orang yang beriman paling dahulu”. (QS. Al-Waqiah : 810)
Menurut At-Thabari, penjelasan Qatadah ini lebih mengarah kepada sebuah kesimpulan bahwa orang-orang yang termasuk dalam katagori zalim pada ayat QS. Fathir: 32 itu tempatnya di neraka.
Namun kita juga tidak menutup mata bahwa ada juga yang berpendapat bahwa orang-orang zalim tetap berada di surga selagi mereka tidak mensyirikkan Allah SWT.
"Ini adalah pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, dll. Walau keberadaannya di surga bisa jadi setelah sebelumnya diazab dulu di neraka," demikian kesimpulan dari At-Tahabari pada akhirnya.
Ustaz Muhammad Saiyid Mahadhir dalam buku berjudul "Menyambut Ramadhan" menyebut dalam kaitannya dengan ibadah Ramadhan, jika kita analogikan dengan ayat di atas, setidaknya manusia juga terbagi ke dalam tiga kelompok:
Pertama kelompok zalim. Mereka ini, menurut alumni pascasarjana Intitut PTIQ Jakarta pada konsentrasi Ilmu Tafsir ini, adalah orang-orang yang sangat kurang sekali perhatiannya terhadap ramadhan. Bagi mereka kedatangan bulan Ramadhan tidak ada yang terlalu spesial. Biasa-biasa saja, atau bahkan bagi mereka kedatangan bulan Ramadhan itu malah membawa beban baru. "Selain susahnya berpuasa juga beban kebutuhan ekonomi yang biasanya membengkak, utamanya beban Idul Fitri untuk seabrek kue-kue dan baju baru dengan model terbaru yang sangat menggoda kantong," ujarnya.
Sehingga tidak jarang karena biasa-biasa saja akhirnya mereka juga menyamakan bulan Ramadhan ini dengan bulan-bulan yang lainnya, makan dan minum di siang hari tetap berlanjut. Atau mereka berpuasa, tapi hanya sebagian saja, lalu sebagian yang lainnya mereka tinggalkan. Bisa jadi mereka bahkan berpuasa penuh selama satu bulan, namun di hari-hari mereka berpuasa itu mereka meninggalkan salat, karena terlalu banyak tidur.
Kedua, muqtashid (pertengahan). Mereka ini adalah orang-orang yang bergembira menyambut hadirnya bulan Ramadhan. Rasa gembira itu semakin menjadi-jadi karena setelah itu bakal ada libur panjang dan bisa mudik ke kampung halaman. Bertemu keluarga dan sanak kerabat, selain dari kegembiraan karena kesadaran bergama bahwa di bulan Ramadhan ini waktunya untuk menghapus dosa dan mengambil banyak pahala untuk bekal di akhirat kelak.
Namun padatnya aktivitas bekerja di bulan Ramadhan ini terkadang membuat sebagian mereka lalai untuk memperbanyak ibadah lewat perkara-perkara sunnah. Terkadang beberapa kali, baik disengaja atau tidak, meninggalkan ibadah salat tarawih dan witir, atau hanya melaksanakan salat-salat fardu saja. Mungkin juga dalam satu hari itu ada rasa malas untuk membaca Al-Quran.
“Yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu, dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu, dan orang-orang yang beriman paling dahulu”. (QS. Al-Waqiah : 810)
Menurut At-Thabari, penjelasan Qatadah ini lebih mengarah kepada sebuah kesimpulan bahwa orang-orang yang termasuk dalam katagori zalim pada ayat QS. Fathir: 32 itu tempatnya di neraka.
Namun kita juga tidak menutup mata bahwa ada juga yang berpendapat bahwa orang-orang zalim tetap berada di surga selagi mereka tidak mensyirikkan Allah SWT.
"Ini adalah pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, dll. Walau keberadaannya di surga bisa jadi setelah sebelumnya diazab dulu di neraka," demikian kesimpulan dari At-Tahabari pada akhirnya.
Ustaz Muhammad Saiyid Mahadhir dalam buku berjudul "Menyambut Ramadhan" menyebut dalam kaitannya dengan ibadah Ramadhan, jika kita analogikan dengan ayat di atas, setidaknya manusia juga terbagi ke dalam tiga kelompok:
Pertama kelompok zalim. Mereka ini, menurut alumni pascasarjana Intitut PTIQ Jakarta pada konsentrasi Ilmu Tafsir ini, adalah orang-orang yang sangat kurang sekali perhatiannya terhadap ramadhan. Bagi mereka kedatangan bulan Ramadhan tidak ada yang terlalu spesial. Biasa-biasa saja, atau bahkan bagi mereka kedatangan bulan Ramadhan itu malah membawa beban baru. "Selain susahnya berpuasa juga beban kebutuhan ekonomi yang biasanya membengkak, utamanya beban Idul Fitri untuk seabrek kue-kue dan baju baru dengan model terbaru yang sangat menggoda kantong," ujarnya.
Sehingga tidak jarang karena biasa-biasa saja akhirnya mereka juga menyamakan bulan Ramadhan ini dengan bulan-bulan yang lainnya, makan dan minum di siang hari tetap berlanjut. Atau mereka berpuasa, tapi hanya sebagian saja, lalu sebagian yang lainnya mereka tinggalkan. Bisa jadi mereka bahkan berpuasa penuh selama satu bulan, namun di hari-hari mereka berpuasa itu mereka meninggalkan salat, karena terlalu banyak tidur.
Kedua, muqtashid (pertengahan). Mereka ini adalah orang-orang yang bergembira menyambut hadirnya bulan Ramadhan. Rasa gembira itu semakin menjadi-jadi karena setelah itu bakal ada libur panjang dan bisa mudik ke kampung halaman. Bertemu keluarga dan sanak kerabat, selain dari kegembiraan karena kesadaran bergama bahwa di bulan Ramadhan ini waktunya untuk menghapus dosa dan mengambil banyak pahala untuk bekal di akhirat kelak.
Namun padatnya aktivitas bekerja di bulan Ramadhan ini terkadang membuat sebagian mereka lalai untuk memperbanyak ibadah lewat perkara-perkara sunnah. Terkadang beberapa kali, baik disengaja atau tidak, meninggalkan ibadah salat tarawih dan witir, atau hanya melaksanakan salat-salat fardu saja. Mungkin juga dalam satu hari itu ada rasa malas untuk membaca Al-Quran.
Lihat Juga :