Subhanallah, Dia Bagaikan Bulan Purnama di Malam yang Gelap
Kamis, 16 April 2020 - 08:51 WIB
loading...
A
A
A
Tsabit terhenyak dan merasa khawatir.. Ia takut tidak bisa memenuhi syarat yang diminta pemilik kebun apel. "Apa syarat itu tuan?" ucap Tsabit kemudian.
Lelaki tua itu menjawab, "Engkau harus mengawini putriku!"
Tsabit bin Ibrahim tidak memahami tidak yakin akan maksud dan tujuan lelaki itu. "Apakah hanya karena aku makan setengah buah apelmu yang keluar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu?" tanya Tsabit penuh keheranan.
Tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya, "Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia gadis yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang yang lumpuh!"
Tentu saja Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan seperti itu patut dia persunting sebagai istri gara-gara setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya?
Tanpa menghiraukan kebingungan Tasbit lelaki tua itu menandaskan, "Selain syarat itu, aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan!"
Tak ada jalan lain bagi Tsabit. Ia kemudian menjawab, "Baiklah. Aku akan menerima pinangannya dan perkawinanya," ujarnya.
"Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul ’alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta'ala," tambah Tsabit kemudian.
Maka pernikahan pun dilaksanakan. Dalam akad nikah, pemilik kebun itu menghadirkan dua orang saksi. Dan usai akad nikah, Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya.
Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga.
"Assalamu'alaikum..." Tsabit mengucapkan salam.
Lelaki tua itu menjawab, "Engkau harus mengawini putriku!"
Tsabit bin Ibrahim tidak memahami tidak yakin akan maksud dan tujuan lelaki itu. "Apakah hanya karena aku makan setengah buah apelmu yang keluar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu?" tanya Tsabit penuh keheranan.
Tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya, "Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia gadis yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang yang lumpuh!"
Tentu saja Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan seperti itu patut dia persunting sebagai istri gara-gara setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya?
Tanpa menghiraukan kebingungan Tasbit lelaki tua itu menandaskan, "Selain syarat itu, aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan!"
Tak ada jalan lain bagi Tsabit. Ia kemudian menjawab, "Baiklah. Aku akan menerima pinangannya dan perkawinanya," ujarnya.
"Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul ’alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta'ala," tambah Tsabit kemudian.
Maka pernikahan pun dilaksanakan. Dalam akad nikah, pemilik kebun itu menghadirkan dua orang saksi. Dan usai akad nikah, Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya.
Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga.
"Assalamu'alaikum..." Tsabit mengucapkan salam.
Lihat Juga :