Kisah Heroik Ali bin Abi Thalib dengan Pedang Zulfikar di Perang Khandaq
Kamis, 12 November 2020 - 11:07 WIB
loading...
A
A
A
Dengan hangat Ali menyambut persetujuan dan izin Rasulullah. Ia segera meloncat ke depan menyongsong tantangan seorang lawan yang bukan sembarangan. Dengan mengenakan baju besi dan menghunus pedangnya yang tersohor dengan nama zulfiqar, Ali maju dengan ayunan langkah yang tegap dan diiringi doa Rasululah SAW: "Ya Allah, dia adalah saudaraku dan putera pamanku. Janganlah Kaubiarkan aku seorang diri tanpa dia. Sesungguhnya Engkau tempat aku berserah diri yang sebaik-baiknya."
Setelah berhadap-hadapan dengan 'Amr, tanpa perasaan gentar sedikit pun Ali bertanya kepada 'Amr: "Hai 'Amr, bukankah engkau pernah berjanji, bahwa engkau akan menerima ajakan seorang dari Quraisy untuk menempuh salah satu di antara dua jalan hidup?"
"Ya!" jawab 'Amr dengan singkat dan angkuh.
"Engkau kuajak. ke jalan Allah dan Rasul-Nya, ke jalan Islam," lanjut Ali.
Kata-kata Ali ini diucapkan dengan suara lantang yang memecahkan kesunyian garis pertempuran. Hampir semua mata dua pasukan yang siap tempur tertuju kepada dua sosok tubuh yang sedang berhadap-hadapan.
'Amr bin Abdu Wudd yang sudah cukup usia, garang dan banyak pengalaman menghadapi perang tanding kini bertatap muka dengan seorang anak muda yang berdiri tegak di hadapannya.
Pemuda pemberani, jantan dan perkasa, berbaju besi dengan pedang terhunus di tangan.(Baca juga: Konflik Khilafah: Kisah Suram Putra Ketiga Ali bin Abi Thalib )
Sungguh anggun kelihatannya. Konfrontasi antara dua orang itu melambangkan konfrontasi dari dua kekuatan yang berlawanan. Kekuatan lama yang sudah lapuk dan kekuatan baru yang sedang tumbuh, yaitu kekuatan jahiliyah dan kekuatan lslam.
Mendengar pertanyaan yang bernada desakan itu, dengan cepat 'Amr menyahut: "Aku tidak membutuhkan itu!"
"Kalau begitu, mari kita mulai bertanding!" tantang Ali sambil siaga menghadapi gerakan 'Amr.
Tantangan Ali itu diremehkan saja oleh 'Amr: "Aku tak suka menumpahkan darahmu. Ayahmu kan teman karibku!"
Tanpa memperdulikan ucapan 'Amr, Ali dengan perasaan tak sabar lagi berucap: "Tetapi, demi Allah, aku justru ingin membunuhmu!"
Ucapan seorang muda yang dianggap ketus oleh 'Amr itu, ternyata membangkitkan amarah dan meluapkan emosinya. Cepat saja darah perang yang mengalir dalam tubuh 'Amr mendidih. Naluri keprajuritannya secara cepat menyentakkan gerak refleksi dan langsung seketika menyerang Ali.
Setelah berhadap-hadapan dengan 'Amr, tanpa perasaan gentar sedikit pun Ali bertanya kepada 'Amr: "Hai 'Amr, bukankah engkau pernah berjanji, bahwa engkau akan menerima ajakan seorang dari Quraisy untuk menempuh salah satu di antara dua jalan hidup?"
"Ya!" jawab 'Amr dengan singkat dan angkuh.
"Engkau kuajak. ke jalan Allah dan Rasul-Nya, ke jalan Islam," lanjut Ali.
Kata-kata Ali ini diucapkan dengan suara lantang yang memecahkan kesunyian garis pertempuran. Hampir semua mata dua pasukan yang siap tempur tertuju kepada dua sosok tubuh yang sedang berhadap-hadapan.
'Amr bin Abdu Wudd yang sudah cukup usia, garang dan banyak pengalaman menghadapi perang tanding kini bertatap muka dengan seorang anak muda yang berdiri tegak di hadapannya.
Pemuda pemberani, jantan dan perkasa, berbaju besi dengan pedang terhunus di tangan.(Baca juga: Konflik Khilafah: Kisah Suram Putra Ketiga Ali bin Abi Thalib )
Sungguh anggun kelihatannya. Konfrontasi antara dua orang itu melambangkan konfrontasi dari dua kekuatan yang berlawanan. Kekuatan lama yang sudah lapuk dan kekuatan baru yang sedang tumbuh, yaitu kekuatan jahiliyah dan kekuatan lslam.
Mendengar pertanyaan yang bernada desakan itu, dengan cepat 'Amr menyahut: "Aku tidak membutuhkan itu!"
"Kalau begitu, mari kita mulai bertanding!" tantang Ali sambil siaga menghadapi gerakan 'Amr.
Tantangan Ali itu diremehkan saja oleh 'Amr: "Aku tak suka menumpahkan darahmu. Ayahmu kan teman karibku!"
Tanpa memperdulikan ucapan 'Amr, Ali dengan perasaan tak sabar lagi berucap: "Tetapi, demi Allah, aku justru ingin membunuhmu!"
Ucapan seorang muda yang dianggap ketus oleh 'Amr itu, ternyata membangkitkan amarah dan meluapkan emosinya. Cepat saja darah perang yang mengalir dalam tubuh 'Amr mendidih. Naluri keprajuritannya secara cepat menyentakkan gerak refleksi dan langsung seketika menyerang Ali.
Lihat Juga :