Kisah di Balik Perang Uhud (1): Trio Macan yang Membuat Musuh Lari Terbirit-birit
Selasa, 17 November 2020 - 13:51 WIB
loading...
A
A
A
Hamzah demikian lincah dan tangkas melabrak pasukan musyrikin dan menewaskan tiap orang yang berani mendekat. Ia terkenal sebagai pahlawan besar dalam menghadapi musuh.
Sama seperti dalam perang Badar, dalam perang Uhud ini Hamzah benar-benar menjadi singa dan merupakan pedang Allah yang sangat ampuh. Banyak musuh yang mati di ujung pedangnya.
Al Hamid Al Husaini menyebut dalam pertempuran antara 700 pasukan muslimin melawan 3000 pastikan musyrikin itu, kita saksikan kejantanan trio Ali, Hamzah dan Abu Dujanah. "Mereka merupakan tauladan dan wujud dari kekuatan moril yang sangat tinggi. Suatu kekuatan yang membuat pasukan Quraisy menderita kehancuran mental, mundur dan surut," tuturnya.
Tiap panji mereka lepas dari tangan pemegangnya dan diganti oleh pemegang panji yang lain, tiap kali itu juga dipangkas habis oleh tiga sejoli pahlawan Islam itu.
Thalhah bin Abi Thalhah kepalanya dibelah dua oleh Ali. Utsman bin Abi Thalhah dipotong gembungnya oleh Hamzah, Abu Saad lolos dari ujung pedang Abu Dujanah dan berusaha merebut panji musyrikin Quraisy yang sudah dirobek-robek oleh Abu Dujanah, tetapi keburu dipisahkan kepalanya dari batang tubuhnya oleh Ali.
Sembilan orang pemegang panji musyrikin Quraisy tewas berturut-turut di ujung pedang Ali, Hamzah dan Abu Dujanah.
Lari Terbirit-birit
Mental pasukan Quraisy sudah patah sama sekali. Pasukan wanita mereka lari terbirit-birit.
Berhala-berhala yang mereka bawa untuk dimintai restu dalam peperangan, berjatuhan terpelanting dari punggung unta. Dalam keadaan masing-masing lari untuk menyelamatkan diri, semua perbekalan yang mereka bawa dari Makkah ditinggalkan dan senjata-senjata di buang di kiri-kanan jalan.
Alangkah banyaknya barang-barang itu. Hal ini membuat pasukan muslimin lengah dan lupa daratan. Pikiran mereka sudah teralih kepada kekayaan duniawi. Pasukan pemanah yang di wanti-wanti supaya jangan sampai meninggalkan tempat, walau dalam keadaan bagaimanapun juga, sekarang mulai mengarahkan pandangan-mata kepada teman-teman yang sedang sibuk mengangkuti barang-barang rampasan.
Sama seperti dalam perang Badar, dalam perang Uhud ini Hamzah benar-benar menjadi singa dan merupakan pedang Allah yang sangat ampuh. Banyak musuh yang mati di ujung pedangnya.
Al Hamid Al Husaini menyebut dalam pertempuran antara 700 pasukan muslimin melawan 3000 pastikan musyrikin itu, kita saksikan kejantanan trio Ali, Hamzah dan Abu Dujanah. "Mereka merupakan tauladan dan wujud dari kekuatan moril yang sangat tinggi. Suatu kekuatan yang membuat pasukan Quraisy menderita kehancuran mental, mundur dan surut," tuturnya.
Tiap panji mereka lepas dari tangan pemegangnya dan diganti oleh pemegang panji yang lain, tiap kali itu juga dipangkas habis oleh tiga sejoli pahlawan Islam itu.
Thalhah bin Abi Thalhah kepalanya dibelah dua oleh Ali. Utsman bin Abi Thalhah dipotong gembungnya oleh Hamzah, Abu Saad lolos dari ujung pedang Abu Dujanah dan berusaha merebut panji musyrikin Quraisy yang sudah dirobek-robek oleh Abu Dujanah, tetapi keburu dipisahkan kepalanya dari batang tubuhnya oleh Ali.
Sembilan orang pemegang panji musyrikin Quraisy tewas berturut-turut di ujung pedang Ali, Hamzah dan Abu Dujanah.
Lari Terbirit-birit
Mental pasukan Quraisy sudah patah sama sekali. Pasukan wanita mereka lari terbirit-birit.
Berhala-berhala yang mereka bawa untuk dimintai restu dalam peperangan, berjatuhan terpelanting dari punggung unta. Dalam keadaan masing-masing lari untuk menyelamatkan diri, semua perbekalan yang mereka bawa dari Makkah ditinggalkan dan senjata-senjata di buang di kiri-kanan jalan.
Alangkah banyaknya barang-barang itu. Hal ini membuat pasukan muslimin lengah dan lupa daratan. Pikiran mereka sudah teralih kepada kekayaan duniawi. Pasukan pemanah yang di wanti-wanti supaya jangan sampai meninggalkan tempat, walau dalam keadaan bagaimanapun juga, sekarang mulai mengarahkan pandangan-mata kepada teman-teman yang sedang sibuk mengangkuti barang-barang rampasan.
(mhy)
Lihat Juga :