Kisah Berkesan Bersama Habib Thahir Al-Kaff Dipertemukan Wali Mastur (1)
Jum'at, 04 Desember 2020 - 21:33 WIB
loading...
A
A
A
Sebenarnya, kondisi kami aman-aman saja. Tidak akan ada gangguan yang berarti dalam wisata religi kami nantinya, selama kami tidak mendekati pusat-pusat keramaian berkumpulnya massa.
Tujuan kami yang pastinya, berziarah ke Makam Imam Bushiri dan Abu Abbas al-Mursi di Alexandria di luar Kota Kairo dengan mengambil jalur alternatif agar bisa mampir berziarah dulu ke Makam Quthub Mesir, Al-Imam Ahmad Al-Badawi.
(Baca Juga: Rahasia Keberkahan Usia Para Ulama )
Kami tiba pagi menjelang siang. Dari Bandara Kairo, kami langsung menuju restoran untuk makan siang. Baru berselang beberapa jam tiba di Kairo, saat makan siang di salah satu restoran, saya mengambil posisi duduk satu meja makan dengan Habib Thahir Al-Kaff.
Usai makan, Habib Thahir menelepon seorang teman beliau di Mesir untuk memberitahukan bahwa beliau telah tiba di Kairo dengan selamat dan ingin membuat janji untuk bersilaturahim. Tentu, percakapan di telepon itu dengan menggunakan bahasa Arab.
Sejurus kemudian Habib Thohir bertanya pada saya: "Ente tahu yang namanya kawasan Rab'atul Adawiyyah di Nasr City?"
Kebetulan kawasan yang ditanyakan oleh Habib pada saya, kawasan yang sangat familiar dan saya kenal sekali daerah itu. Hampir semua WNI yang pernah tinggal di Mesir tahu kawasan itu. Bahkan, kawasan itu merupakan pusat aktivitas kami mahasiswa di Mesir. Selama hampir 7 tahun di Mesir, saya sering melewati jalan itu, bahkan sering bolak-balik beraktivitas di Wisma Nusantara yang berada di kawasan itu.
Ya saya katakan, "Ya, Bib saya tahu betul kawasan itu!"
"Malam ini, antarkan Habib ke sana! Habib mau jumpa teman habib di sana!" pinta Habib Thahir.
Saya teringat bahwa saat itu, kawasan Rab'ah merupakan basis titik massa berorasi dari pendukung Ikwanul Muslimin. Itu kawasan berbahaya yang harus dihindari. Akhirnya, saya sampaikan saran kurang lebih seperti ini:
"Bib, di sana titik rawan. Di sana ada demo besar-besaran malam ini!" ujar saya menjelaskan.
Tujuan kami yang pastinya, berziarah ke Makam Imam Bushiri dan Abu Abbas al-Mursi di Alexandria di luar Kota Kairo dengan mengambil jalur alternatif agar bisa mampir berziarah dulu ke Makam Quthub Mesir, Al-Imam Ahmad Al-Badawi.
(Baca Juga: Rahasia Keberkahan Usia Para Ulama )
Kami tiba pagi menjelang siang. Dari Bandara Kairo, kami langsung menuju restoran untuk makan siang. Baru berselang beberapa jam tiba di Kairo, saat makan siang di salah satu restoran, saya mengambil posisi duduk satu meja makan dengan Habib Thahir Al-Kaff.
Usai makan, Habib Thahir menelepon seorang teman beliau di Mesir untuk memberitahukan bahwa beliau telah tiba di Kairo dengan selamat dan ingin membuat janji untuk bersilaturahim. Tentu, percakapan di telepon itu dengan menggunakan bahasa Arab.
Sejurus kemudian Habib Thohir bertanya pada saya: "Ente tahu yang namanya kawasan Rab'atul Adawiyyah di Nasr City?"
Kebetulan kawasan yang ditanyakan oleh Habib pada saya, kawasan yang sangat familiar dan saya kenal sekali daerah itu. Hampir semua WNI yang pernah tinggal di Mesir tahu kawasan itu. Bahkan, kawasan itu merupakan pusat aktivitas kami mahasiswa di Mesir. Selama hampir 7 tahun di Mesir, saya sering melewati jalan itu, bahkan sering bolak-balik beraktivitas di Wisma Nusantara yang berada di kawasan itu.
Ya saya katakan, "Ya, Bib saya tahu betul kawasan itu!"
"Malam ini, antarkan Habib ke sana! Habib mau jumpa teman habib di sana!" pinta Habib Thahir.
Saya teringat bahwa saat itu, kawasan Rab'ah merupakan basis titik massa berorasi dari pendukung Ikwanul Muslimin. Itu kawasan berbahaya yang harus dihindari. Akhirnya, saya sampaikan saran kurang lebih seperti ini:
"Bib, di sana titik rawan. Di sana ada demo besar-besaran malam ini!" ujar saya menjelaskan.
Lihat Juga :