Kisah Berkesan Bersama Habib Thahir Al-Kaff Dipertemukan Wali Mastur (2)
Sabtu, 05 Desember 2020 - 19:19 WIB
loading...
A
A
A
"Rab'ah, syarie Thayran!" teriak saya.
Dia menggeleng kepala. Terdiam sejenak. Dia menghela nafas panjang. "Wallah zahmah! Khattir!" Macet banget serius! Bahaya!!"
Dia kembali menimpali, "Tidfa' kam?" Berani bayar berapa?"
Kali ini, nego saya bukan lagi soal harga, tapi bagaimana caranya kesepakatan terjadi dan habib bisa segera menjumpai teman beliau yang telah lama menunggu.
"Aiz kam fulus?" Kamu minta bayaran berapa?" tanya saya mendekat.
"Mietain geneh!" Dua ratus pound!" jawab sopir singkat.
"Gilaa!!" Ini pemerasan namanya. Biasanya ke sana hanya 20 pound, atau paling panter 35 pound, dia mintanya sepuluh kali lipatnya."
(Baca Juga: Beginilah Perlakuan Ulama Terdahulu kepada Dzurriyah Nabi )
Dia bilang, "Thariq zahmah.. Fi muzhaharah.. Khatir awii.. bla bla.." berbagai alasan yang menunjukkan medan yang kami tuju ini sangat berisiko. Namun, dia berjanji akan mengawal kami sampai tujuan.
Saya bilang pada Habib, "Ada taksi bib, tapi mahal banget!"
Dia menggeleng kepala. Terdiam sejenak. Dia menghela nafas panjang. "Wallah zahmah! Khattir!" Macet banget serius! Bahaya!!"
Dia kembali menimpali, "Tidfa' kam?" Berani bayar berapa?"
Kali ini, nego saya bukan lagi soal harga, tapi bagaimana caranya kesepakatan terjadi dan habib bisa segera menjumpai teman beliau yang telah lama menunggu.
"Aiz kam fulus?" Kamu minta bayaran berapa?" tanya saya mendekat.
"Mietain geneh!" Dua ratus pound!" jawab sopir singkat.
"Gilaa!!" Ini pemerasan namanya. Biasanya ke sana hanya 20 pound, atau paling panter 35 pound, dia mintanya sepuluh kali lipatnya."
(Baca Juga: Beginilah Perlakuan Ulama Terdahulu kepada Dzurriyah Nabi )
Dia bilang, "Thariq zahmah.. Fi muzhaharah.. Khatir awii.. bla bla.." berbagai alasan yang menunjukkan medan yang kami tuju ini sangat berisiko. Namun, dia berjanji akan mengawal kami sampai tujuan.
Saya bilang pada Habib, "Ada taksi bib, tapi mahal banget!"
Lihat Juga :