Begini Nasib Sahabat Nabi yang Menolak Membaiat Ali sebagai Khalifah
Rabu, 20 Januari 2021 - 18:33 WIB
loading...
Ilustrasi/Ist
A
A
A
BEGITU dipilih menjadi khalifah pengganti Utsman bin Affan , sebagian sahabat Nabi Muhammad SAW membaiat Ali bin Abi Thalib . Tata cara pembai'atan dilakukan menurut prosedur sebagaimana yang lazim berlaku atas diri Khalifah-khalifah sebelumnya.
Baca juga: Menolak Jadi Khalifah, Ali bin Abi Thalib: Aku Lebih Baik Jadi Wazir
Sesuai dengan tradisi pada masa itu, sesaat setelah dibai'at Amirul Mukminin bin Abi Thalib menyampaikan amanatnya yang pertama. Antara lain mengatakan:
"Sebenarnya aku ini adalah seorang yang sama saja seperti kalian. Tidak ada perbedaan dengan kalian dalam masalah hak dan kewajiban. Hendaknya kalian menyadari, bahwa ujian telah datang dari Allah SWT. Berbagai cobaan dan fitnah telah datang mendekati kita seperti datangnya malam yang gelap-gulita. Tidak ada seorang pun yang sanggup mengelak dan menahan datangnya cobaan dan fitnah itu, kecuali mereka yang sabar dan berpandangan jauh.
Semoga Allah memberikan bantuan dan perlindungan.
"Hati-hatilah kalian sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah SWT kepada kalian, dan berhentilah pada apa yang menjadi larangan-Nya. Dalam hal itu janganlah kalian bertindak tergesa-gesa, sebelum kalian menerima penjelasan yang akan kuberikan.
"Ketahuilah bahwa Allah Ta'ala di atas 'Arsy-Nya Maha Mengetahui, bahwa sebenarnya aku ini tidak merasa senang dengan kedudukan yang kalian berikan kepadaku. Sebab aku pernah mendengar sendiri Rasulullah SAW berkata: "Setiap waliy (penguasa atau pimpinan) sesudahku, yang diserahi pimpinan atas kaum muslimin, pada hari kiamat kelak akan diberdirikan pada ujung jembatan dan para Malaikat akan membawa lembaran riwayat hidupnya. Jika wali itu seorang yang adil, Allah akan menyelamatkannya karena keadilannya.
Jika wali itu seorang yang zalim , jembatan itu akan goncang, lemah dan kemudian lenyaplah kekuatannya. Akhirnya orang itu akan jatuh ke dalam api neraka…"
Demikianlah penuturan Abu Mihnaf, sebagaimana tercantum dalam Syarh Nahjil Balaghah yang uraian riwayatnya tidak berbeda jauh dari versi sejarah yang ditulis oleh beberapa penulis lain.
Baca juga: Ketegangan Saat Sahabat Nabi Menolak Jadi Khalifah, Gantikan Utsman bin Affan
Menolak
Lebih jauh Abu Mihnaf mengatakan, bahwa orang-orang yang tidak ikut serta menyatakan bai'at, diminta oleh Ali bin Abi Thalib supaya menemuinya secara langsung pada lain kesempatan.
Pada suatu hari ketika Abdullah bin Umar diminta pernyataan bai'atnya, ia menolak. Ia baru bersedia membai'at Ali r.a., kalau semua orang sudah menyatakan bai'atnya. Melihat sikap Abdullah yang sedemikian itu, Al Asytar, seorang sahabat setia Ali r.a. dan terkenal sebagai pahlawan perang, tidak dapat menahan kemarahannya. Kepada Imam Ali r.a., Al-Asytar berkata: "Ya Amiral Mukminin, pedangku sudah lama menganggur. Biar kupenggal saja lehernya!"
"Aku tidak ingin ia menyatakan bai'at secara terpaksa," ujar Ali bin Abi Thalib r.a. dengan tenang menanggapi ucapan Al-Asytar. "Biarkanlah!"
Baca juga: Menolak Jadi Khalifah, Ali bin Abi Thalib: Aku Lebih Baik Jadi Wazir
Sesuai dengan tradisi pada masa itu, sesaat setelah dibai'at Amirul Mukminin bin Abi Thalib menyampaikan amanatnya yang pertama. Antara lain mengatakan:
"Sebenarnya aku ini adalah seorang yang sama saja seperti kalian. Tidak ada perbedaan dengan kalian dalam masalah hak dan kewajiban. Hendaknya kalian menyadari, bahwa ujian telah datang dari Allah SWT. Berbagai cobaan dan fitnah telah datang mendekati kita seperti datangnya malam yang gelap-gulita. Tidak ada seorang pun yang sanggup mengelak dan menahan datangnya cobaan dan fitnah itu, kecuali mereka yang sabar dan berpandangan jauh.
Semoga Allah memberikan bantuan dan perlindungan.
"Hati-hatilah kalian sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah SWT kepada kalian, dan berhentilah pada apa yang menjadi larangan-Nya. Dalam hal itu janganlah kalian bertindak tergesa-gesa, sebelum kalian menerima penjelasan yang akan kuberikan.
"Ketahuilah bahwa Allah Ta'ala di atas 'Arsy-Nya Maha Mengetahui, bahwa sebenarnya aku ini tidak merasa senang dengan kedudukan yang kalian berikan kepadaku. Sebab aku pernah mendengar sendiri Rasulullah SAW berkata: "Setiap waliy (penguasa atau pimpinan) sesudahku, yang diserahi pimpinan atas kaum muslimin, pada hari kiamat kelak akan diberdirikan pada ujung jembatan dan para Malaikat akan membawa lembaran riwayat hidupnya. Jika wali itu seorang yang adil, Allah akan menyelamatkannya karena keadilannya.
Jika wali itu seorang yang zalim , jembatan itu akan goncang, lemah dan kemudian lenyaplah kekuatannya. Akhirnya orang itu akan jatuh ke dalam api neraka…"
Demikianlah penuturan Abu Mihnaf, sebagaimana tercantum dalam Syarh Nahjil Balaghah yang uraian riwayatnya tidak berbeda jauh dari versi sejarah yang ditulis oleh beberapa penulis lain.
Baca juga: Ketegangan Saat Sahabat Nabi Menolak Jadi Khalifah, Gantikan Utsman bin Affan
Menolak
Lebih jauh Abu Mihnaf mengatakan, bahwa orang-orang yang tidak ikut serta menyatakan bai'at, diminta oleh Ali bin Abi Thalib supaya menemuinya secara langsung pada lain kesempatan.
Pada suatu hari ketika Abdullah bin Umar diminta pernyataan bai'atnya, ia menolak. Ia baru bersedia membai'at Ali r.a., kalau semua orang sudah menyatakan bai'atnya. Melihat sikap Abdullah yang sedemikian itu, Al Asytar, seorang sahabat setia Ali r.a. dan terkenal sebagai pahlawan perang, tidak dapat menahan kemarahannya. Kepada Imam Ali r.a., Al-Asytar berkata: "Ya Amiral Mukminin, pedangku sudah lama menganggur. Biar kupenggal saja lehernya!"
"Aku tidak ingin ia menyatakan bai'at secara terpaksa," ujar Ali bin Abi Thalib r.a. dengan tenang menanggapi ucapan Al-Asytar. "Biarkanlah!"
Lihat Juga :